RADAR SURABAYA - Beras, gula, dan garam adalah kebutuhan pokok rakyat Surabaya yang perdagangannya sudah lama menjadi monopoli orang Tionghoa sejak dulu.
Tahun 1860, di tempat-tempat tertentu raja-raja Jawa masih memonopoli pajak pertanian dan juga syahbandar di pelabuhan Jawa Timur yang kebanyakan penguasaannya dikuasakan kepada Tionghoa peranakan dengan status priayi yang akhirnya memperoleh gelar Jawa, telah membeli pendapatan hasil pertanian tersebut.
Bahkan dulu ada tiga nama orang kaya di Surabaya yang menguasai perdagangan gula, yakni Han, The dan Tjoa.
Menurut pustakawan sejarah, Chrisyandi Tri Kartika, keluarga Tionghoa yang kaya dan menguasai daerah Pecinan seperti keluarga Han, Tjoa, dan The semuanya menjadi kaya karena perdagangan gula yang mereka monopoli.
Selain di sekitar Surabaya, pabrik gula yang mereka kendalikan dari Pecinan Surabaya, ada di daerah Sidoarjo, yang memang tanahnya cocok untuk tanaman tebu.
"Keluarga Han sudah sejak abad XVIII menguasai perdagangan gula di Surabaya di luar penguasa Belanda. Han Tiau Kie setelah kematian ayahnya, telah mewarisi jabatan sebagai letnan, mendirikan pabrik gula pertama di Ketapang, daerah di Tanggul Angin," ujar Chrisyandi kepada Radar Surabaya.
Han Khong Gie tahun 1851-1932 adalah produsen besar gula di Surabaya dan sekitarnya.
Han Tiauw Hien menjabat sebagai letnan di Surabaya, juga mewarisi tanah di daerah Ketabang yang menghasilkan beras dan tebu.
Sedangkan keluarga The di Surabaya juga kaya karena perdagangan gula.
The Goan Tjing yang menjadi pemilik beberapa industri gula yang sukses.
Pada 1837 The Goan Tjing adalah pemilik pabrik gula Candi dan Buduran di Sidoarjo yang dikendalikan dari Pecinan Surabaya.
"The Toan Tjiak keturunannya memiliki perkebunan di mana dia membudidayakan tebu dan beras, terutama di daerah Petemon. Sedangkan keturunannya yang lain, The Toan Ing menguasai pabrik gula Candi," terang pustakawan sejarah dari Universitas Ciputra Surabaya ini.
Lebih lanjut dia menjelaskan, pabrik tersebut sekitar 1908 dikelilingi oleh perkebunan sekitar 1.000 hektare tanah subur yang menghasilkan sampai 180 pikul gula per acre. Sedangkan hasil rata-rata per hektare adalah 90-120 pikul.
"Pabrik tersebut sepenuhnya dikelola oleh orang Eropa dan memproduksi 100 ribu pikul per tahun," ujarnya.
Keluarga Tjoa pada dasarnya juga menjadi kaya karena perdagangan gula di Surabaya dan sekitarnya.
Tjoa Kwie Sioe (1739-1793), cikal bakal keluarga Tjoa di Surabaya menurut Chrisyandi dengan mendirikan bisnis penggilingan tebu di Kabupaten Sidoarjo dan membangun sebuah pabrik dengan menggunakan hewan sebagai tenaga untuk menjalankan gilingannya.
"Anak-anak keturunan keluarga Tjoa juga mempertahankan kepentingan utama dalam bisnis gula. Namun, tidak semuanya berhasil," terangnya.
"Salah satu contoh misalnya putra tertua Tjoa Djen Hoo, yaitu Sien Hie merupakan pengusaha yang berhasil. Pada 1874 dia memiliki pabrik gula swasta terbesar di Jawa Timur, di Tamansari wilayah Sidoarjo," imbuhnya.
Beberapa saat kemudian, Sien mendirikan pabrik lain di dekat Pohjijer, di wilayah Mojokerto. Dia juga membudidayakan padi dan ladang tebu di Karah.
"Bahkan sampai awal abad 20, keturunan keluarga Tjoa masih memperluas usaha mereka dalam industri gula yang terjadi pada tahun 1911, ketika anak Tjoa Tjwan Djie, Tjoa Sie Lian meninggal pada awal tahun 1970 mendirikan NV suikerfabriek Tjandı, bersama dengan Han Ing Liong, Han Sing Kien, dan The Bo," ujarnya.
Sementara itu, pabrik gula di Ketabang, Jagir, Karah, dan Darmo yang pada tahun 1859 dimiliki oleh orang Tionghoa.
Sedangkan pabrik di Gubeng, Bagong, Dadongan, dan Patemon berada di tangan Jawa. Semua perusahaan gula terletak di lahan pribadi. (rmt/nur)
Editor : Nurista Purnamasari