RADAR SURABAYA - Simo Putro, mungkin nama ini tak begitu familiar di telinga banyak orang. Namun bagi generasi muda Surabaya di masa lalu, khususnya para pegiat seni, pencinta alam, dan olahraga, nama ini identik dengan sejarah panjang dan keberanian dalam mengasah kemampuan.
Simo Putro berdiri pada tahun 1977, bermula dari inisiatif Rukun Rekso Mulyo, Lurah pertama Simo Mulyo, yang ingin menciptakan wadah bagi para pemuda. Anak pertamanya, Juari Hariono R Putra, kemudian memberi nama Simo Putro untuk wadah ini.
Soesilo, salah satu anggota senior Simo Putro, mengatakan tahun 1977 Simo Putro sudah berdiri. Ketika itu kantor kelurahan pertama Simo Mulyo menjadi tempat berkumpul atau basecamp dari anak-anak muda Surabaya dan sekitarnya. Lokasinya terletak di bawah jalan tol Simo yang sekarang ini berdiri.
"Simo Putro wadah bagi para pemuda untuk berlatih dan mengasah potensi diri. Seperti pencinta alam, musik hingga olahraga agar tidak lari ke hal-hal negatif," tutur Soesilo. Lebih lanjut pria 66 tahun ini menuturkan dulu kompleks kantor Kelurahan Simo Mulyo terdapat gedung ludruk, bioskop hingga sekolahan.
Salah satu momen bersejarah yang dikenang Soesilo dengan melibatkan Simo Putro adalah operasi pencarian di Gunung Semeru pada tahun 1987. Saat itu, Simo Putro dilibatkan oleh tim SAR untuk membantu pencarian korban hilang.
Keberadaan mereka yang berpengalaman dan terlatih di medan pegunungan terbukti sangat membantu upaya penyelamatan. Keberhasilan operasi tersebut semakin mengukuhkan reputasi Simo Putro sebagai komunitas yang handal dan disegani.
“Komunitas kami memang sangat disegani, keberanian anggota kami dalam menghadapi medan yang sulit dan situasi darurat mendapatkan apresiasi dari berbagai pihak," ujar Soesilo.
Kisah heroik lainnya melibatkan operasi pencarian di Pondok Ruki, Gunung Lawu. Dalam insiden yang melibatkan 17 orang, hanya satu orang yang berhasil ditemukan dalam keadaan hidup.
Selain itu bencana tsunami di Larantuka, NTT tahun 1992 juga melibatkan Simo Putro untuk terjun menjadi relawan.
Kini Simo Putro untuk bidang pencinta alamnya berembrio menjadi Generasi Olahraga Gunung dan Orientasi Rimba (Gogor Sejati). Selain itu Simo Putro terkenal dengan olahraga sepak bola.
Nama Anang Ma'ruf legenda Persebaya Surabaya dan Rizky Ridho juga merupakan jebolan dari sekolah sepak bola (SSB) Simo Putro.
Sementara pegiat sejarah, Nur Setiawan menambahkan kepedulian Rukun yang merupakan Lurah pertama Simo Mulyo terhadap sosial dan kepemudaan sangat luar biasa.
Apalagi di jaman itu pemuda tak lepas dari pengaruh negatif dan juga adanya penembak misterius atau dikenal dengan Petrus membuatnya harus membentengi anak muda yang merupakan aset generasi muda.
"Kepedulian pak Rukun terhadap sosial dan kepemudaan sangat luar biasa agar generasi muda saat itu tidak terjerumus dalam hal negatif," ujar Nur.
Nur mengaku di tahun 1980an Simo Putro menjadi terkenal karena banyak sekali pemuda dari berbagai wilayah dari Surabaya dan sekitarnya bergabung. "Tahun 1980 baru benar-benar dikenal eksistensi dari wadah Simo Putro," terangnya.
Simo Putro merupakan bukti nyata bahwa wadah dan kesempatan dapat melahirkan generasi muda yang berprestasi dan bermanfaat bagi masyarakat.
Kisah Simo Putro mengingatkan kita tentang pentingnya peran komunitas dalam membentuk karakter dan mengasah potensi generasi muda. Warisan Simo Putro menjadi inspirasi bagi generasi muda saat ini untuk terus berkarya dan memberikan kontribusi positif bagi masyarakat. (rmt)
Editor : Jay Wijayanto