RADAR SURABAYA - Berbagai ornamen hingga hiasan Natal bertebaran di jalanan hingga mal Surabaya pada perayaan Natal saat ini.
Perayaan Natal selalu identik dengan keberadaan pohon Natal yang dipamerkan di semua mal bahkan di beberapa sudut kota Surabaya.
Ternyata hal ini sudah ada sejak zaman Belanda menjajah Indonesia. Perayaan Natal selalu semarak sejak zaman dulu.
Toleransi antar umat beragama sudah terjalin sejak dulu. Di era Hindia Belanda, banyak bangsa Eropa yang menganut agama Kristen dan Katolik. Mereka merayakan Natal di Surabaya.
Beberapa gereja juga sudah berdiri di Surabaya kala itu sehingga perayaan Natal semakin meriah.
"Ada pula toko yang menjadi jujugan membeli kado Natal salah satunya Whiteaway Laidlaw," katanya.
Bahkan saat itu, beberapa pohon cemara atau biasa dikenal dengan pohon Natal terpasang di beberapa sudut toko membuat semarak perayaan Natal semakin terasa.
Tidak hanya Bangsa Eropa saja, melainkan juga beberapa warga bumiputera.
"Warga bumiputera juga ada yang menganut agama Kristen dan Katolik sehingga mereka ikut merayakannya," terangnya.
Ia menceritakan, perayaan Natal pada zaman Hindia Belanda tidak hanya terasa di rumah atau pertokoan.
Sebuah foto berhasil mengabadikan seorang bumiputera yang mengenakan pakaian Santa Claus untuk menghibur di jalanan pada sekitar 1938.
"Seperti sekarang ini, perayaan Natal pada masa itu juga identik dengan jamuan makan di restoran," katanya. (gun/nur)
Editor : Nurista Purnamasari