Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Jejak Prostitusi di Surabaya Sejak Era Kolonial hingga Modern

Mus Purmadani • Minggu, 15 Desember 2024 | 03:30 WIB

 

Karayuki-san menjadi praktek prostitusi di era panjajahan Jepang (foto kiri), PSK di lokalisasi Dolly sebelum ditutup total.
Karayuki-san menjadi praktek prostitusi di era panjajahan Jepang (foto kiri), PSK di lokalisasi Dolly sebelum ditutup total.

RADAR SURABAYA - Saat ini Kota Surabaya telah bersih dari kegiatan prostitusi. Segala macam kegiatan yang berkaitan dengan prostitusi kini ilegal dan melanggar hukum.

Kota Surabaya telah berhasil menghapus jejak hitam kawasan prostitusi menjadi penggerak ekonomi baru, yakni sentra usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Namun, beberapa tahun yang lalu prostitusi masih menjadi salah satu bisnis di Surabaya.

Bukan pada era modern saja, kegiatan prostitusi sudah ada di Surabaya sejak zaman penjajahan.

Kembang Jepun merupakan nama jalan legendaris di Kecamatan Pabean Cantikan.

Pada era pemerintah kolonial Belanda, nama jalan di timur Jembatan Merah ini adalah Handelstraat yang artinya jalan perdagangan.

Sejarawan Universitas Airlangga (Unair)Purnawan Basundoro mengatakan, sebagai pusat perdagangan, Handelstraat membentang mulai Jalan Rajawali hingga Jalan Kembang Jepun sekarang.

“Sesuai nama jalannya, maka rumah di kawasan tersebut juga memiliki fungsi sebagai rumah dagang. Jadi tidak hanya untuk tempat tinggal saja, melainkan juga berdagang,” ujarnya.

Guru Besar Ilmu Sejarah Unair ini menambahkan, tanda bahwa sejak dahulu kawasan tersebut sudah menjadi pusat perdangangan adalah dapat dilihat dari nama beberapa tempat yang menjadi pusat penimbunan komoditas sebelum diekspor.

Salah satunya adalah Jalan Suiker Straat, yang secara harfiah memiliki makna Jalan Gula. “Kemungkinan di sana dulunya ada gudang gula di sana,” jelasnya.

Menurutnya, nama Kembang Jepun berawal dari suatu rumah di kawasan itu yang berisikan wanita Jepang. Kembang berarti bunga dan Jepun adalah Jepang.

“Jika digabungkan, memiliki makna wanita Jepang. Keberadaan rumah tersebut diduga ada sekitar tahun 1920. Rumah hiburan tersebut dalam bahasa Jepang dinamakan Karayuki-san,” ungkapnya.

Hal senada juga diungkapkan Sejarawan Universitas Airlangga lainnya Shinta Devi Ika Santhi Rahayu.

Menurutnya, penyebutan Kembang Jepun karena di sana banyak terdapat penginapan, serta warung yang ditinggali perempuan Jepang.

Mereka memiliki paras cantik dan berprofesi sebagai karayuki-san.

“Jadi karayuki-san merupakan perempuan penghibur Jepang yang mulai menyebar ke berbagai negara di era Restorasi Meiji. Diperkirakan sekitar tahun 1860-an mereka mulai masuk ke Surabaya,” katanya.

Shinta mengatakan, karayuki-san berbeda dengan geisha. Sama-sama perempuan penghibur, namun karayuki-san lebih ke arah pekerja seks komersial.

Menurutnya, kala itu sebagai pusat perdagangan, pemerintah kolonial Belanda memberikan kewenangan kepada masyarakat Jepang untuk tinggal di kawasan yang lebih dikenal dengan kawasan pecinan ini.

“Masyarakat ini membuka berbagai macam usaha, misalnya restoran atau penginapan. Nah, penginapan inilah yang menyediakan Karayuki-san,” katanya.

Sementara itu, Pegiat Sejarah Kota Surabaya Nanang Purwono mengatakan, sebenarnya tidak hanya orang-orang Jepang pemilik rumah prostitusi di kawasan ini namun juga orang-orang Tionghoa. Namun PSK asal Jepang lebih tersohor karena kemolekannya.

"Kulitnya yang bersih, rambut hitamnya yang tebal, hingga sorot matanya yang tajam. Menjadikan nilai lebih dari PSK lokal yang dikelola germo berdarah Tionghoa. Perempuan Jepang yang datang ke Nusantara ingin menjadi karayuki-san mempunyai pasaran yang tinggi dan banyak permintaan," jelasnya.

Dihubungi terpisah, Pegiat Sejarah Kota Surabaya Nur Setiawan mengatakan, prostitusi di Surabaya sudah ada sejak masa kolonial.

Prostitusi tertua di Surabaya dijumpai di kampung Bandaran. Dimana kampung ini terletak di dalam komplek militer angkatan laut.

Kampung Bandaran sendiri hilang sekira tahun 1970-an, kemungkinan dipindahkan karena tidak sesuai etik dan wibawa militer. Kemungkinan kampung tersebut direlokasi di daerah Kremil atau Tambakasri.

“Di tempat baru ini prostitusi atau lokalisasi tetap berjalan sebagaimana mestinya. Namun di kemudian hari prostitusi di Tambakasri juga ditutup," katanya.

"Kalau saya amati keberadaan prostitusi tertua pasti tidak jauh dari pelabuhan, lalu menjalar ke tengah atau ke dalam kota," imbuhnya.

Menurutnya, PSK di Kampung Bandaran adalah wanita lokal. Wawan mengatakan, jika dibandingkan Kembang Jepun, Kampung Bandaran merupakan prostitusi tertua.

"Era Kampung Bandaran ini ada di abad 19 sebelum Jepang masuk tahun 1942. Jepang masuk abad 20," tegasnya.

Pada era modern, di Surabaya juga terdapat prostitusi, bahkan sempat menjadi yang terbesar di Asia Tenggara.

Terletak di Kawasan Putat Jaya, lokalisasi ini eksis sejak tahun 1968 sampai tahun 2014.

Ada ribuan PSK yang bekerja disana. Selama berpuluh-puluh tahun beroperasi, Dolly menjadi jujukan para pria untuk berwisata syahwat.

Namun pada tahun 2014, dari inisiatif Wali Kota Surabaya kala itu, Tri Rismaharini, lokalisasi ini akhirnya ditutup total dan dialihfungsikan menjadi sentra UMKM. (mus/nur)

Editor : Nurista Purnamasari
#Surabayapedia #tempo dulu #Karayuki-san #surabaya #Kampung Bandaran #kolonial #jepang #lokalisasi dolly #kembang jepun #prostitusi