RADAR SURABAYA - Nama kedung banyak digunakan sebagai nama jalan di Surabaya.
Penamaan ini sesuai dengan kondisi daerah tersebut pada zaman dulu.
Kedung merupakan tempat berkumpulnya air atau bisa disebut waduk alami pada masa itu.
Namun, perkembangan Surabaya yang pesat sejak zaman kolonial Belanda membuat daerah kedung menjadi kawasan pemukiman padat penduduk, tak terkecuali Kedung Klinter.
Pemerhati Sejarah Surabaya Nur Setiawan menceritakan, Kedung Klinter, Kedung Doro, dan kawasan dengan nama kedung lainnya itu dulunya waduk alami.
Lokasi ini menjadi tempat berkumpulnya air pada masa itu. Semakin berkembangnya Surabaya pada masa itu membuat daerah kedung ini menjadi pilihan pemukiman.
Hingga keberadaan kedung semakin menyempit dan menjadi kawasan pemukiman padat penduduk seperti sekarang ini.
Meski begitu, jejak kedung atau waduk ini masih ada sampai sekarang.
"Masih ada sungai di tengah pemukiman. Sungai kecil ini jejak sejarah dulunya kawasan itu merupakan waduk," jelasnya.
Kawasan Jalan Kedung Klinter, Surabaya ini juga dikenal sebagai kampung pejuang.
Pada masa itu, kawasan perkampungan ini banyak mengirim anak muda untuk perang melawan penjajah. Selain itu, kampung ini juga terkenal dengan kampung seniman.
"Dulu ada Fatullah Akbar tokoh seniman ludruk asal Kedung klinter ini," katanya. (gun/nur)
Editor : Nurista Purnamasari