Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Tukang Jamu Gendong, dari Menetap di Pasar Tradisional hingga Keliling Cari Pembeli

Mus Purmadani • Minggu, 1 Desember 2024 | 19:09 WIB

 

Penjual jamu gendong dulu menetap di pasar tradisional hingga akhirnya keliling kampung.
Penjual jamu gendong dulu menetap di pasar tradisional hingga akhirnya keliling kampung.
 

RADAR SURABAYA – Meski tidak terlalu banyak, namun penjual jamu tradisional di Surabaya masih bisa dijumpai.

Hanya saja jika dulunya penjual jamu tradisional ini menggendong jamu dagangannya, namun sekarang menggunakan gerobak dorong, sepeda kayuh bahkan motor.

Pegiat sejarah Kota Surabaya Nur Setiawan mengatakan, awalnya tukang jamu hanya ada di pasar-pasar tradisional. Para penjualnya membuka lapak di tempat alias tidak keliling.

“Mungkin karena masyarakat kala itu juga banyak menderita sakit yang agak keras sehingga tidak bisa datang ke pasar, maka tukang jamu gendong keliling hadir sebagai solusi pada saat itu, bahkan hingga kini,” katanya kepada Radar Surabaya.

Menurutnya, zaman sekarang tukang jamu gendong didominasi oleh para wanita dari Jawa Tengah.

“Para tukang jamu gendong ini kebanyakan sudah tidak digendong lagi melainkan menggunakan gerobak dorong yang didesain secara simpel,” ujar pria yang akrab disapa Wawan ini.

Wawan menambahkan, jika melihat foto-foto koleksi Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV) maupun Tropemuseum, tukang jamu gendong sudah nampak pada tahun1900 – 1920-an.

“Ini menandakan bahwa jamu gendong keliling sebagai profesi maupun sarana kesehatan tradisional sudah ada sejak satu abad yang lampau,” jelasnya.

Dikutip dari buku Jamu Gendong Solusi Sehat Tanpa Obat terbitan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, tradisi meramu dan mengonsumsi jamu diyakini sudah ada sejak berabad-abad yang lalu.

Proses meracik jamu telah menjadi budaya pada masa kekuasaan kerajaan Hindu dan Buddha.

Bukti dari keberadaan tradisi ini tergambar dalam relief-relief yang menggambarkan pembuatan dan penggunaan jamu pada beberapa candi terkenal di Indonesia, termasuk Candi Borobudur, Candi Prambanan, Candi Penataran, Candi Sukuh, dan Candi Tegalwangi.

Selain ada dalam relief candi, sejarah jamu gendong juga tertulis dalam Serat Centhini (1814 M) dan Kawruh Bab Jampi-Jampi Jawi (1858 M) yang berisi 1.734 resep ramuan jamu.

Kawruh Bab Jampi-Jampi Jawi mungkin menjadi buku terlengkap yang berisi tentang jamu.

Tercatat dalam sejarah, budaya meracik jamu mulanya hanya dikenal di lingkungan istana, di mana jamu diracik khusus untuk para raja, permaisuri, pangeran, dan putri keraton semata.

Keluarga kerajaan menggunakan jamu sebagai upaya menjaga kesehatan, kebugaran, dan kecantikan.

Namun, seiring berjalannya waktu, budaya meracik jamu mulai diperkenalkan kepada masyarakat umum oleh orang-orang dari kalangan keraton.

Proses ini diperkirakan dimulai pada akhir periode Kerajaan Majapahit dan berlanjut pada masa kerajaan-kerajaan berikutnya, termasuk Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta. (mus/nur) 

Editor : Nurista Purnamasari
#Surabayapedia #pasar tradisional #jamu gendong #gerobak #tukang jamu