Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

SURABAYAPEDIA: RS Mardi Santoso Surabaya Riwayatmu Kini

Mus Purmadani • Minggu, 27 Oktober 2024 | 02:17 WIB
TERBENGKALAI: Bangunan bekas RS Mardi Santoso pernah menjadi panti asuhan hingga restoran.
TERBENGKALAI: Bangunan bekas RS Mardi Santoso pernah menjadi panti asuhan hingga restoran.

RADAR SURABAYA - Sebuah bangunan megah dan bersejarah yang terletak di Jalan Bubutan Surabaya kini terbengkalai serta tertutup oleh ilalang.

Bangunan ini lebih dikenal dengan sebutan Rumah Sakit (RS) Mardi Santoso.

Pegiat Sejarah Kota Surabaya Nur Setiawan mengatakan, bangunan bersejarah ini dibangun pada tahun 1912.

Bangunan bernama Meesjesweeshuis ini awalnya diperuntukkan sebagai panti asuhan putri Protestan.

“Sebelum ada gedung panti asuhan baru di Jalan Bubutan, gedung panti asuhan lama bertempat di jalan Boomstraat (kini Jalan Branjangan, Red) di kawasan Kota Lama Surabaya,” katanya.

Panti Asuhan lama itu dibangun oleh Majelis Gereja pada tahun 1835. Dalam perkembangannya, gedung panti asuhan di jalan Boomstraat dirasa sangat sempit, pengap dan tidak cocok untuk kebutuhan perkembangan anak-anak panti.

Pada tahun 1871 ada gagasan untuk membuat rumah panti yang baru. Namun karena kesulitan keuangan, gagasan itu tidak terlaksana.

Pada tahun 1911, majelis menerima anggaran, dan satu tahun kemudian, 1912, pihak majelis mulai melakukan pencarian lahan untuk didirikan rumah panti asuhan yang baru.

Tepatnya tanggal 1 Maret 1912, Majelis Gereja melakukan penawaran atas lahan di jalan Bubutan.

“Baru tahun 1913 sebuah rumah panti asuhan yang baru mulai dibangun di atas lahan di jalan Bubutan. Maka berdirilah sebuah bangunan yang megah yang sangat representatif untuk perkembangan anak-anak panti,” katanya, Jumat (25/10).

Awal keberadaan panti asuhan ini karena saat itu ada banyak pasangan suami istri dari Eropa yang tinggal di Surabaya ini terkena wabah demam berdarah.

Sehingga banyak yang meninggal dan anak-anaknya kemudian dititipkan di panti asuhan.

Selain itu, anak panti asuhan ini juga banyak yang blasteran dengan bumiputera.

“Dulu banyak laki-laki Eropa yang menikah dengan orang bumiputera, namun karena malu karena dianggap menurunkan derajat akhirnya anak-anaknya dititipkan ke panti asuhan,” imbuhnya.

Pria yang akrab disapa Wawan ini menambahkan, selain sebagai panti asuhan bangunan ini juga sempat digunakan sebagai klinik kesehatan.

Namun lama-kelamaan pasiennya semakin banyak dan menguntungkan, akhirnya tahun 1951-1994, gedung tersebut berubah fungsi menjadi Rumah Sakit Mardi Santoso. “Rumah sakit ini terbilang sangat mewah kala itu,” katanya.

Pada perang dunia ke-2 (tahun 1942 – 1945), lanjut Wawan, rumah sakit ini disegel oleh Jepang.

Namun tahun 1945 berfungsi kembali. “Digunakan untuk merawat korban-korban perang,” ujarnya.

Pada 1995, bangunan megah ini beralih kepemilikan dari Perkumpulan Mardi Santoso ke Gereja Protestan, dan kemudian ke Yayasan Kesehatan GPIB, menjadi Rumah Sakit Griya Husada.

Namun, karena ada sengketa, rumah sakit ini akhirnya dibiarkan terbengkalai, dikepung oleh tumbuhan liar.

Sekitar tahun 2000-an bangunan ini sempat dijadikan restoran. Restoran tersebut Bernama Hallo Surabaya. Cukup megah dan terkenal kala itu. Tapi itu juga tidak berlangsung lama.  

“Konon ceritanya gedung ini dijual tapi belum ada yang beli. Kalau nggak salah pemilik gedung ini sama dengan pemilik gedung Internatio, saudagar kaya dari Tionghoa,” pungkasnya. (mus/nur)

Editor : Nurista Purnamasari
#Surabayapedia #Hallo Surabaya #RS Mardi Santoso #Gedung Internatio #sejarah Surabaya