Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Piala Dunia 2026 Selebriti Sidoarjo Surabaya Surabayapedia Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Sosok Achijat, Pengusaha Berpenampilan Mewah dan Necis Mendadak Ikut Berjuang dalam Peristiwa 1945 di Surabaya, Aktor Terbunuhnya Mallaby?

Rahmat Sudrajat • Selasa, 22 Oktober 2024 | 15:17 WIB

GARANG: Moch Achijat (tengah) bersama dengan pasukannya yang bernama Pasukan Alap-Alap.
GARANG: Moch Achijat (tengah) bersama dengan pasukannya yang bernama Pasukan Alap-Alap.

RADAR SURABAYA - Moch Achijat lahir di Surabaya 25 Oktober 1927, dari ayah yang bernama Joyo Rais dan ibu Muninten.

Nama Achijat memang tak sepopuler Bung Tomo, yang juga merupakan sahabatnya sejak kecil hingga ajal menjemput.

Namun, Achijat merupakan tokoh pejuang aktif dalam peristiwa 10 November 1945.

Konon Achijat menjadi sosok misterius dibalik tewasnya pemimpin tentara sekutu Brigadir AWS Mallaby, pada 30 Oktober di dalam mobilnya.

Nama Achijat tertulis di plat logam berwarna kuning emas yang terpajang di Museum 10 Nopember Tugu Pahlawan Surabaya.

Sedangkan fotonya juga terpasang di piramida di atas plafon Museum 10 Nopember bersama dengan para tokoh pelaku pertempuran 10 November 1945 di Surabaya.

Menurut anak ketujuh Moch Achijat, Nurmansyah, sang bapak waktu kecil tinggal bersama kedua orang tuanya di Jalan Simokerto IV, Nomor 7 Surabaya.

Achijat kecil sudah menjadi pemberani yang kerap berkelahi dengan sinyo-sinyo Belanda.

"Sejak kecil memang bapak sudah punya sikap yang tegas, pandai bergaul, suka menolong serta banyak teman," ujar Nurmansyah kepada Radar Surabaya.

Achijat anak ke-7 dari 13 bersaudara, sedangkan sang ayah Achijat, Joyo Rais berasal dari Palembang, Sumatera Selatan, sedangkan ibunya Muninten berasal dari Blige, Madura.

Sejak kecil Achijat sudah berkecukupan. Sang bapak Achijat ingin sang anak untuk menempuh pendidikan tinggi.

Tapi keinginan Joyo Rais tidak sesuai dengan harapan. Achijat pun hanya sampai kelas 2 sekolah rakyat (SR) tidak lebih dari itu.

"Bapak saya selama masih sekolah rakyat sudah mulai bekerja. Bahkan beliau sempat bekerja di bengkel China dengan gaji satu ence sehari. Tapi orang tua bapak saya tidak suka sehingga ditarik keluar dari pekerjaan dan diminta sekolah lagi," terangnya.

Bahkan Achijat kecil pernah berjualan koran bersama Bung Tomo dari kampung-kampung hingga ke Jembatan Merah.

Selain itu, Achijat dan Bung Tomo aktif bersama dalam Kepanduan Bangsa Indonesia (KIB).

Hingga akhirnya Achijat muda masih bergelut dengan bisnisnya sebagai pedagang barang bekas sepeda di pinggir jalan.

Dari berjualan rongsokan alat-alat sepeda akhirnya lambat laun, Achijat membuka usaha jual beli sepeda ontel. Ketika itu sepeda angin tersebut menjadi barang mewah.

Moch Achijat bersama para pejuang 1945 saat berkumpul di Hotel Flores Surabaya.
Moch Achijat bersama para pejuang 1945 saat berkumpul di Hotel Flores Surabaya.

Hingga akhirnya menginjak usianya 16 tahun, Achijat sudah menjadi pedagang besar sepeda di Surabaya.

Sekaligus menjadi perancang sepeda dengan berbagai model sesuai dengan permintaan pembeli dari berbagai daerah.

"Kesuksesan bapak saya berdagang terbukti telah banyak menjual berbagai merk sepeda papan atas seperti Gazelle, Simplex, Raleigh, Humber maupun Solingen. Stok sepedanya sampai 30 unit. Padahal zaman Jepang boleh dikata ekonomi dikuasi China dan beliau dapat menyaingi," ujar Nurmansyah.

Berbagai usaha dagang telah ditekuni Achijat dari berdagang sepeda, bengkel krom logam yang menjadi spesialis dan kondang di kawasan Simokerto, di rumah Achijat.

Hingga akhirnya Achijat muda yang usianya 17 tahun mempunyai pikiran yang berkecamuk akibat melihat situasi politik negara yang tidak stabil, berimbas pada kondisi ekonomi.

Achijat pun memutuskan untuk ikut serta dalam peristiwa perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato.

Ketika itu Achijat pulang dari pasar siang di daerah Kebun Binatang Surabaya.

Ketika memasuki Tunjungan Achijat melihat puluhan orang berkumpul di depan Hotel Yamato Jalan Tunjungan, 65, Surabaya, yang sedang melihat ke atas.

Achijat yang melihat kumpulan orang-orang yang sedang melihat ke atas itu menjadi penasaran, dan ikut melihat ke atas juga.

"Beliau dan para pemuda lainnya bahu membahu untuk menaiki bangunan Hotel Yamato dengan harapan berhasil mencapai tiang menara Hotel Yamato," ujar Nurmansyah.

Peristiwa perobekan bendera di Hotel Yamato menjadi tonggak sejarah kehidupan Achijat, sekaligus membuka mata Achijat, untuk terpanggil sebagai pemuda perjuangan hingga tumbuh semangat jiwa patriotis Achijat untuk mengabdi, dan membela bangsa, dan negara.

"Nah, dari situlah bapak saya mengawali perjuangannya bersama Oesman Adji yang ketika itu mengadakan pencurian mobil-mobil Jepang untuk dibawa ke Madiun maupun Solo. Hasil dari penjualan itu untuk membantu perjuangan," ungkapnya.

RUKUN: Achijat bersama keluarganya, dia memiliki empat istri dan 15 anak.
RUKUN: Achijat bersama keluarganya, dia memiliki empat istri dan 15 anak.

Bahkan, lanjut Nurmansyah, Achijat yang semula suka dengan pakaian necis, memakai jam tangan mewah hingga bergonta-ganti sepeda, sekejap menjadi hilang.

"Sejak itu beliau mulai berfikir sebagai pemuda perjuangan. Sehingga apa yang mengenai kemewahan hilang dan mulai berkonsentrasi pada perjuangan melawan penjajah," terang Nurmansyah.

Tanggal 25 September 1945, Achijat bersama Abdul Latif dan pemuda lainnya bergabung dengan Laskar Hizbullah.

Dengan pengalaman sebelumnya aktif di organisasi Kepanduan Bangsa Indonesia, akhirnya Achijat pun didapuk menjadi salah satu kepala seksi IV sekaligus menjadi pemimpin Hizbullah di Surabaya Timur yang bermarkas di Sidokapasan.

"Menurut kesaksian bapak saya, bergabung dengan Hizbullah dilandasi tekad kuat Achijat untuk berjuang membela negara yang dicintai dengan berdasarkan atas keyakinan agama yang dianut," imbuhnya.

Achijat pun dikenal berani dan nekat dalam berjuang. Bahkan Bung Tomo memberi panggilan kepada Achijat Raja Nekat.

 

Selain itu, keahliannya menguasai medan pertempuran dan menyerang musuh lalu menghilang sekejap dalam pertempuran, kawan-kawan seperjuangannya menjuluki Achijat Alap-Alap Simokerto. Simokerto sendiri merupakan kampung kelahiran Achijat.

"Makanya, pasukan bapak saya menjadi dikenal dengan Pasukan Alap-alap. Bahkan sebelumnya, 29 September 1945, di Blauran terjadi insiden pengeroyokan perwira Jepang dan pasukannya. Itu merupakan pasukan pak Achijat," ujarnya.

Tanggal 27-29 Oktober 1945 Laskar Hizbullah Surabaya Timur yang dipimpin Achijat bertempur dengan berpindah tempat untuk mengepung dan menyerang pasukan sekutu di setiap pos pertahanan.

Mulai dari Jembatan Merah, Stasiun Semut, hingga Alun-Alun Contong.

Hingga akhirnya dapat merebut Balai Pemuda dengan melumpuhkan perwira sekutu hingga tewas serta merampas pedang.

Photo
Photo

"Achijat Alap-Alap salah satu pimpinan Hizbullah Surabaya Timur, bersama anggota Pemuda Republik Indonesia (PRI) berperan penting merebut gedung oval Balai Pemuda dan akhirnya berubah menjadi markas PRI dibawah komando Mochamad Yasin yang sebelumnya bermarkas di Alun-Alun Contong," ujarnya.

Peristiwa 30 Oktober 1945 yang kala itu menjadi peristiwa paling bersejarah dengan tewasnya AWS Mallaby di dekat Gedung Internatio yang saat ini menjadi kawasan Kota Lama Surabaya.

Gedung Internatio dulu merupakan sebuah bank yang diduduki oleh kesatuan Inggris Kompi Mahrattas 6 pimpinan Mayor K. Venu Gopal.

"Semangat perjuangan, dan keberanian Achijat juga di tunjukkan saat terjadi pertempuran tgl 28 sampai dengan 30 Oktober 1945, hingga terjadinya insiden di Gedung Internatio yang berakhir dengan tragedi tewasnya Brigadir Mallaby," ujarnya.

Konon, ketika itu Achijat mengulurkan tangannya lewat jendela depan mobil yang ditumpangi Mallaby, dan menembak dengan pistol atomatis hanya satu kali tembakan.

Tak sampai setengah menit kemudian Mallaby mengembuskan napasnya yang terakhir.

Melihat kejadian ltu kedua perwira pendamping yang ada di dalam mobil merasa panik, dan khawatir jika Achijat akan muncul kembali, dan menembak lagi, oleh karena kedua perwira pendamping yang di dalam mobil tersebut tidak memiliki senjata karena telah dilucuti sebelumnya.

Tapi ternyata Kapten Laughland (duduk di tengah) masih menyimpan granat di dalam mobil, dan diberikan pada Kapten Smith (duduk di sisi Gedung Internatio), lalu Kapten Smith mencabut pasak granat yang diterimanya dari Kapten Laughland, dan siap untuk melemparkannya.

Setelah granat meledak, Kapten Smith, dan Kapten Laughland cepat-cepat lari terjun ke Kali Mas.

Akibat ledakan granat, tempat duduk mobil Mallaby di belakang terbakar.

Sementara itu, akhir tahun 1959, mulai ada keinginan Achijat Alap-Alap untuk mengundurkan diri dari tentara. Dengan alasan negara Indonesia sudah aman.

Tidak diperlukan lagi perjuangan dengan senjata dan Achijat ingin kembali menjadi pengusaha.

"Karena menurut bapak waktu itu perjuangan selanjutnya adalah membangun negara dengan membuka lapangan pekerjaan," ungkapnya.

Setelah mengundurkan diri dari TNI, Achijat bergerak dalam bidang bisnis perhotelan dengan nama Hotel Flores Surabaya.

Tak hanya itu, industri galangan kapal, pergudangan dengan nama PT Pantja Kawan, ada juga usaha tekstile hingga spare part sepada motor dengan nama toko Extra yang merupakan singkatan dari ex tentara.

"Selain itu beliau juga aktif diberbagai organisasi seperti Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong (MKGR) sebagai ketua di Jawa Timur, Ketua Pelopor Gerakan Soekarnois Surabaya, Ketua Persatuan Bumi Putera Indonesia (Perbumi) yang salah satu pendiriannya M Yasin, Ketua Pengajian Dakwah Islam (PADI) Jawa Timur, hingga Ketua Umum Putera Surabaya (PUSURA)," ujarnya.

Sampai meninggal dunia, Letnan Moch Achijat belum mendapatkan gelar pahlawan dari pemerintah.

Padahal jasanya mempertaruhkan nyawa demi kemerdekaan Republik Indonesia sangat besar.
Achijat hanya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Ngangel Surabaya. (rmt/nur)

Editor : Nurista Purnamasari
#Moch Achijat #Hotel Flores Surabaya #bung tomo #pejuang #Gedung Internatio #sejarah Surabaya #aws mallaby