Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Piala Dunia 2026 Selebriti Sidoarjo Surabaya Surabayapedia Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Inilah Sosok Pemuda yang Menaiki Tiang Menara untuk Merobek Bendera Belanda dalam Peristiwa 19 September 1945 di Hotel Yamato Surabaya

Rahmat Sudrajat • Kamis, 19 September 2024 | 20:04 WIB
RAWE-RAWE RANTAS: Achijat tertangkap kamera saat peristiwa perobekan bendera merah putih biru di Hotel Yamato, Surabaya, 19 September 1945.
RAWE-RAWE RANTAS: Achijat tertangkap kamera saat peristiwa perobekan bendera merah putih biru di Hotel Yamato, Surabaya, 19 September 1945.

RADAR SURABAYA - Kisah perjuangan dibalik perobekan bendera triwarna Belanda pada 19 September 1945 di Hotel Yamato, (saat ini Hotel Majapahit) di Jalan Tunjungan Surabaya ternyata meninggalkan misteri.

Siapa sebetulnya tokoh yang berhasil untuk membantu menaikan melakukan perobekan bendera warna biru (bendera Belanda) hingga terkena pecahan kaca?.

Peristiwa 19 September 1945 di Hotel Yamato terjadi dikarenakan pengibaran bendera Belanda oleh Ploegman.

Bendera itu sejatinya dikibarkan Charles Ploegman untuk memperingati ulang tahun ratu Wilhemina, pemimpin kerajaan Belanda yang jatuh pada tanggal 31 Agustus.

Karena Indonesia baru saja mengumumkan kemerdekaannya, sehingga rakyat Surabaya pun geram atas tindakan pengibaran bendera Belanda.

Rakyat dan para pemuda menaiki Hotel Yamato untuk merobek bendera berwarna biru hingga hanya warna merah dan putih saja.

Namun ketika itu ada sosok pemuda yang berani untuk membantu naik ke atas hotel.

Pemuda tersebut bernama Moch Achijat, yang ketika itu usianya masih 17 tahun.

Menurut anak ketujuh dari Moch Achijat, Nurmansyah Achijat, dari penuturan ayahnya dan beberapa tokoh, saat itu Achijat dengan menaiki sepeda angin sepulang dari pasar siang di Derenten (sekarang Kebun Binatang Surabaya) untuk pulang ke rumah di Simokerto, melewati Tunjungan.

Ketika memasuki Tunjungan Achijat melihat puluhan orang berkumpul di muka Hotel Yamato Jalan Tunjungan, 65, Surabaya, yang sedang melihat ke atas.
Achijat yang melihat kumpulan orang-orang yang sedang melihat ke atas itu menjadi penasaran, dan ikut melihat ke atas juga.

Achijat jadi mengetahui kalau di atas menara tiang Hotel Yamato telah berkibar bendera Belanda.

Melihat hal itu Achijat jadi geram, dan mengurungkan niatnya pulang ke rumah Simokerto karena dianggap kejauhan.

Lantas Achijat berinisiatif menuju ke rumah uwaknya (paman) yang bernama Kariman di dekat Onderling Belang di Jalan Penghela, untuk menitipkan sepedanya, agar lebih dekat dengan Hotel Yamato, lalu berlari menuju ke Hotel Yamato.

"Sesampai di Hotel Yamato, Achijat spontan bergabung dengan kelompok-kelompok pemudayang sudah berada di depan Hotel Yamato, dengan maksud untuk memanjat Hotel Yamato, dengan niatan semula menurunkan bendera Belanda," ujar Nurmansyah.

"Pak Achijat, dan para pemuda lainnya bahu membahu untuk menaiki bangunan Hotel Yamato dengan harapan berhasil mencapai tiang menara Hotel Yamato," imbuhnya.

Lebih lanjut dia menjelaskan, ketika itu bantuan tangga datang ketika Achijat sudah mencapai lantai satu.

Sosok pemuda yang memanjat menara Hotel Yamato pada insiden perobekan bendera 19 Spetember 1945.
Sosok pemuda yang memanjat menara Hotel Yamato pada insiden perobekan bendera 19 Spetember 1945.

Achijat dalam usahanya untuk naik ke lantai dua hanya mengandalkan kekuatan tenaga, dan pijakkan kaki apa yang ada, hingga ketika mencapai lantai satu, dan hendak mencapai lantai dua Hotel Yamato, tanpa diduga Achijat terkena pecahan kaca yang membuat celana Achijat robek.

Hingga akhirnya Achijat terpaksa tidak dapat melanjutkan naik ke atas menara.

"Saat itu Achijat tidak berdiam diri, Achijat tetap berusaha membantu pemuda lainnya, untuk menggantikannya naik ke lantai dua dengan cara pundaknya dijadikan pijakkan kaki (tangga) pemuda yang hendak naik ke atas menara," ujarnya.

Nurmansyah menjelaskan, ketika itu Achijat tak mengaku jika terluka mengenai pecahan kaca.

Namun dari keterangan cucu dari kerabat pahlawan Kapten Soenarjo, Andrian ketika itu kakeknya yang merupakan kakak kandung dari Kapten Soenarjo, sempat merawat, dan mengobati luka seorang pemuda yang saat itu diduga Achijat.

"Tapi penuturan ayah saya ketika bercerita ketika itu tanggal 19 September 1945 bertepatan dengan hari besar. Ayah saya bersepada sepulang jalan-jalan dari pasar siang di Derenten melewati jalan Tunjungan," tutur Nurmansyah.

 

"Ada keramaian para pemuda di Hotel Yamato lalu pak Achijat ikut kepada kelompok-kelompok itu dalam rangka perobekkan bendera merah putih biru, yang pada saat itu yang pak Achijat tahu, Cak Syukur Khamid, juga ada Pak Ilyas, dan sebagainya nampak kelihatan, tapi bukan untuk ikut merobek melainkan dalam rangka naik," imbuhnya.

"Itu masih pak Achijat simpan untuk kenang-kenangan dimana celana kami robek kena kaca pada peristiwa merah putih biru itu," lanjut Nurmansyah.

Namun Nurmansyah mengaku dari banyak kawan-kawan ayahnya menuturkan saat itu penampilan Achijat Alap-Alap sangat mencolok dibanding pemuda-pemuda lainnya yang tengah berada di atas menara Hotel Yamato.

"Pada saat Achijat masih hidup, banyak di temui orang-orang yang mengakui sebagai pelaku perobekkan bendera merah putih biru, bahkan mengaku sebagai Supriyadi Pahlawan Peta di Blitar 1945, hingga kerap Achijat harus mendatanginya orang-orang itu, bahkan sampai keluar kota untuk membuktikan, hingga tak jarang berakhir dengan kemarahan Achijat sembari berkata 'dasar pahlawan kesiangan," terangnya.

Peristiwa perobekan bendera di Hotel Yamato menjadi tonggak sejarah kehidupan Achijat, sekaligus membuka mata Achijat, untuk terpanggil sebagai pemuda perjuangan hingga tumbuh semangat jiwa patriotis Achijat untuk mengabdi, dan membela bangsa, dan negara. (rmt/nur)

Editor : Nurista Purnamasari
#Moch Achijat #surabaya #perobekan bendera belanda #Hotel Majapahit #hotel yamato #Charles Ploegman