RADAR SURABAYA - Sebelum bangsa asing masuk dan menjadikan kawasan kota lama Surabaya sebagai pusat pemerintahan, kawasan itu dulu merupakan perkampungan orang Jawa dan Madura.
Bahkan bahasa mereka pun berbeda ketika berada di daerah tersebut.
Menurut pengamat sejarah, Nanang Purwono, dalam peta tahun 1750 ketika Vereenigde Oost-Indische Compagnie atau VOC di Surabaya, ada perkampungan Surabaya dan Sumenep, Madura di kawasan kota lama.
"Secara fisik, historis, dan kultural kawasan kota lama adalah rumah bagi orang Jawa dan Madura," kata Nanang kepada Radar Surabaya.
Nanang menyebut, kawasan kota lama yang ada kampung orang Jawa dan Madura seperti di kawasan Jalan Gelatik dan Mliwis.
Dimana ada peta yang menunjukkan pemukiman orang Jawa dan Madura.
Lebih lanjut dia menjelaskan, tahun 1677 ketika Trunojoyo menghadapi VOC di kawasan kota lama ada perkembangan dan perbentengan Trunojoyo dengan pengikutnya orang Madura.
"Bahasa mereka mengunakan bahasa Jawa dan Madura tapi mereka menulis menggunakan aksara lokal yaitu aksara Jawa," terangnya.
Namun setelah itu, di kawasan kota lama terbagi menjadi beberapa zona ada Eropa, Arab, Pecinan, serta Melayu.
Oleh karena itu, sampai saat ini pengaruh orang Madura dan Jawa di kawasan kota lama pun sangat kental.
Bahkan aksen maupun dialek mereka bercampur antara Jawa dan Madura.
Tak hanya itu, mereka kemudian melakukan akulturasi budaya hingga ke pernikahan. Bahkan tak hanya antara Jawa-Madura, tapi juga etnis yang terhitung pendatang seperti Tionghoa dan Arab. (rmt/nur)
Editor : Nurista Purnamasari