RADAR SURABAYA - Jejak peradaban Kota Surabaya di era klasik atau kerajaan bisa ditemukan peninggalan arkeologi, mulai dari patung prasasti, sumur, manuskrip, dan lainnya.
Pegiat Sejarah Surabaya Nanang Purwono mengatakan, penanda otentik keberadaan Surabaya di era klasik atau kerajaan, tepatnya di era Majapahit adalah ditulisnya nama Surabaya pada Prasasti Canggu yang berangka tahun 1358 M.
Prasasti Canggu ini ditemukan di wilayah Canggu, yang tidak jauh dari aliran sungai di Kabupaten Mojokerto.
"Penulisan nama Surabaya pada prasasti ini adalah yang pertama ditemukan. Di sana, nama Surabaya tertulis dalam bahasa Jawa Kuna dengan bunyi Curabhaya," katanya, Jumat (23/8).
Prasasti ini menceritakan adanya desa-desa di tepi kali (Brantas) yang melayani jasa penyeberangan (tambangan), yang kemudian disebut Naditira pradeca.
Sebetulnya naditira pradeca ini tidak hanya Curabhaya. Ada nama-nama lain, yang sekarang masuk wilayah administrasi kota Surabaya.
Nama-nama naditira pradeca itu adalah i Gsang (Pagesangan), i Bkul (Bungkul) dan i Curabhaya (Surabaya).
"Secara geografis, berdasarkan prasasti Canggu, Curabhaya berada di utara Bkul. Sedangkan Bkul berada di utara Gsang. Jika dilacak keberadaan nama-nama itu sekarang, maka benar adanya bahwa Bungkul berada di utara Pagesangan. Sedangkan di utara Bungkul, disana ada Surabaya," katanya.
Nanang mengatakan, pada buku Er Werd Een Stad Geboren, Surabaya berada di antara Kalimas dan Pegirian, tepatnya di lingkungan Pengampon (1275).
Surabaya adalah tempat permukiman baru yang dibuka oleh Raja Kertanegara pada 1275 Masehi untuk menampung para jawara yang sebelumnya bermukim di Peneleh Pandean yang berada di selatan Pengampon.
"Pemukiman Peneleh Pandean ini sudah ada, menurut Faber, pada 1270 Masehi," katanya.
Karena nama-nama Churabhaya, Bkul dan Gsang menggambarkan desa dengan layanan penyeberangan sungai, maka layanan jasa tambangan yang masih ada di sungai Kalimas yang ada di wilayah Ngagel Surabaya perlu dilestarikan.
Tambangan ini adalah bentuk peradaban maritim Majapahit yang masih ada di Surabaya.
"Selain tersurat dalam Prasasti Canggu (1358), keberadaan Surabaya di era Majapahit juga tertulis pada Kitab Negarakertagama yang ditulis Prapanca pada 1365 Masehi yang menceritakan tentang perjalanan Raja Hayam Wuruk ke daerah daerah kekuasaannya," pungkasnya. (mus/nur)
Editor : Nurista Purnamasari