RADAR SURABAYA – Sudah menjadi cerita turun temurun mengenai peran bambu runcing dalam perjuangan perebutan kemerdekaan.
Bambu runcing salah satu senjata tradisional yang digunakan pada masa perjuangan kemerdekaan Indonesia untuk melawan para penjajah.
Bukan sekadar senjata biasa, bambu runcing menjadi bagian penting dalam perjuangan para pejuang kala itu.
Di tengah keterbatasan, para pejuang, termasuk di Surabaya memanfaatkan bambu runcing sebagai senjata 'sakti' untuk melawan penjajah yang bersenjata senapan.
Pemakaian bambu runcing sebagai senjata oleh masyarakat Surabaya sebenarnya sudah lama sekali.
Bambu runcing biasanya terbuat dari bahan pilihan yaitu pring kuning atau bambu kuning.
“Pring kuning mempunyai tekstur lebih keras dari bambu biasa, maka dari itu bambu jenis ini banyak dipakai sebagai alat pelindung diri, atau bahkan sebagai penangkal kekuatan magis,” kata pemerhati sejarah Surabaya, Nur Setiawan.
Menurut Wawan, sapaan akrabnya, untuk ukuran bambu runcing memiliki tinggi melebihi pria dewasa sekitar 175 hingga 200 centimeter dengan ujung yang telah dibuat runcing serta tajam.
Pada sebuah gambar lithograph karya seniman era kolonial menunjukkan bambu runcing juga bersanding dengan congklok maupun tombak sebagai alat keamanan.
Kala itu bambu runcing dipakai oleh para penjaga kampung yang sedang bersiaga di dalam gardu depan pemukiman mereka saat malam hari.
Pada era penjajahan Jepang tahun 1942-1945, bambu runcing dengan jenis yang sama disebut Takeyari.
Pada masa ini tentara Jepang kerap melatih masyarakat maupun para pelajar menggunakan bambu runcing sebagai alat keamanan dan pelindung diri dari serangan pihak musuh.
“Pada perang 10 Nopember 1945 bambu runcing juga digunakan oleh para pejuang sebagai senjata untuk melawan penjajah. Seluruh masyarakat dan pejuang yang tidak mendapat senjata api maka mereka angkat senjata menggunakan bambu runcing,” ungkapnya. (jar/nur)
Editor : Nurista Purnamasari