RADAR SURABAYA - Surabaya sudah dikenal sebagai kota pelabuhan, bahkan sejak zaman kerajaan Majapahit.
Keberadaan Surabaya sebagian kota pelabuhan ini terus dipertahankan ketika Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) dan kolonial Belanda menduduki Indonesia.
Kawasan pelabuhan ini tidak bisa dipisahkan dengan perdagangan dan tempat tambatan kapal.
Kapal atau perahu banyak ditemukan di sekitar Kalimas hingga kawasan Ujung yang sekarang kita kenal dengan Pelabuhan Tanjung Perak.
Meski sudah berjalan lama sebagai kota pelabuhan, baru pada 1910, ada perusahaan yang bergerak di bidang industri perkapalan di Surabaya.
Pemerhati Sejarah Surabaya Nur Setiawan mengungkapkan, industri perkapalan baru ada setelah berdiri NV Droogdok Maatschappij Soerabaja pada 1910.
Perusahaan milik Belanda ini bergerak di bidang pembuatan dan perbaikan kapal.
"Sebelumnya belum ada industry perkapalan, hanya ada perajin kapal tradisional saja," tuturnya.
Perusahaan ini terus ada bahkan, ketika Belanda keluar dari Indonesia dan diambil alih pemerintah Jepang.
Perusahaan ini hanya berganti nama menjadi Harima Zosen. Hingga akhirnya dinasionalisasi menjadi milik Indonesia, dan sejak 1961 nama perushaan ini menjadi PT Dok Perkapalan hingga saat ini.
"Sebelum ada perusahaan ini, kapal-kapal diperbaiki atau dibuat secara tradisional,” jelasnya.
Industri perkapalan di Surabaya kala itu cukup maju. Hal ini tak lepas dari wilayah Surabaya sendiri yang merupakan Kawasan perdagangan dan pelabuhan yang dimilikinya.
Surabaya menjadi jujukan kapal-kapal dagang dari Eropa khususnya pada saat itu.
Komoditas seperti rempah-rempah, hasil pertanian dan perkebunan, hingga produk industri jadi barang yang diangkut kapal-kapal dagang saat itu. (gun/nur)
Editor : Nurista Purnamasari