SURABAYA – Meskipun sempat mengalami masa klasik di bawah penguasaan kerajaan, bahkan pernah ada keraton di Kota Surabaya, namun kawasan ini cukup berkembang pada masa kolonial Belanda.
Bukti dan peninggalan saat era Hindia Belanda masih banyak ditemukan, bahkan bisa dinikmati hingga saat ini.
Meski begitu, pada era klasik Surabaya diperkirakan juga menjadi kawasan penting.
Meski peninggalannya tak banyak, namun ada beberapa yang ditemukan di Surabaya, seperti sumur jobong di Peneleh, batu candi di Ampel, hingga gapura dan penamaan kampung Kraton di kawasan Bubutan.
Ternyata sisa-sisa era klasik tak hanya di kawasan tersebut saja, namun di kawasan Surabaya Barat diperkirakan juga ada peninggalan era klasik.
Toponimi salah satu daerah di kawasan Sambikereb ini buktinya, yakni Candi Lontar.
Kawasan Candi Lontar berada di Kecamatan Sambikerep, Surabaya Barat. Dahulu di kawasan ini banyak pohon lontar dan juga banyak ditemukan batu bata merah yang berukuran besar.
Pemerhati Sejarah Surabaya, Nur Setiawan menjelaskan, asal usul kawasan Candi Lontar dahulu banyak ditemukan struktur batu bata merah berukuran besar yang diduga bekas reruntuhan candi.
Namun di situ juga ditumbuhi pohon lontar sehingga kawasan itu dinamakan Candi Lontar.
“Dahulu banyak batu merah berukuran besar dan juga terdapat pohon lontar,” kata Wawan, sapaan akrabnya.
Menurutnya, batu bata yang diduga bekas reruntuhan candi itu tempat dikeramatkan sebagai punden.
Namun sayangnya seiring berkembangnya zaman tempat itu dijadikan kawasan permukiman dan terminal.
“Jadi batu bata tersebut sempat dijadikan sebagai pepunden tetapi sekarang sudah menjadi pemukiman warga dan terminal,” ujarnya.
Lebih lanjut, pihaknya menjelaskan, bahwa tak ada data dan catatan. Apakah betul batu bata yang berserakan di kawasan itu merupakan candi karena belum dilakukan penelitian.
“Namun dahulu warga yang berada di sekitar sana meyakini pernah terdapat situs dan peradaban dari masa kuno. Sehingga untuk mengembangkan nama candi lontar disematkan sebagai tetenger,” ungkapnya. (jar/nur)
Editor : Nurista Purnamasari