PITONAN adalah tradisi khas Surabaya yang sarat akan makna dan nilai-nilai luhur. Upacara tradisi ini dilakukan ketika seorang bayi menginjak usia tujuh bulan sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas karunia seorang anak.
Asal-Usul dan Makna Pitonan
Kata "pitonan" berasal dari kata "pitu" yang dalam bahasa Jawa berarti tujuh. Angka tujuh memiliki makna khusus dalam berbagai budaya, termasuk dalam tradisi Jawa. Angka tujuh sering dikaitkan dengan kesempurnaan dan keberuntungan.
Tujuan utama dari tradisi pitonan adalah:
- Ungkapan Syukur: Merupakan bentuk syukur atas kesehatan dan keselamatan bayi hingga berusia tujuh bulan.
- Doa Restu: Memohon doa restu agar bayi tumbuh sehat, cerdas, dan menjadi anak yang sholeh/sholehah.
- Mendoakan Masa Depan: Meminta perlindungan dan keberkahan untuk masa depan anak.
- Melekatkan Tali Silaturahmi: Mengundang keluarga dan tetangga untuk merayakan bersama sehingga mempererat tali silaturahmi.
Keunikan Tradisi Pitonan
- Angka Tujuh: Penggunaan angka tujuh dalam berbagai aspek acara menjadi ciri khas tradisi pitonan.
- Hidangan Khas: Hidangan yang disajikan memiliki makna simbolis, misalnya tumpeng yang melambangkan gunung sebagai tempat bersemayamnya para dewa.
- Doa dan Mantra: Selama acara, dibacakan doa dan mantra-mantra tertentu yang bertujuan untuk memohon perlindungan dan keberkahan bagi bayi.
Upacara Penuh Doa dan Simbolisme
Prosesi pitonan umumnya berlangsung khidmat dan penuh makna. Berikut beberapa rangkaian acaranya:
- Persiapan: Keluarga sibuk menyiapkan aneka hidangan dan perlengkapan doa seperti air bunga dan dupa.
- Pembukaan: Acara diawali dengan pembukaan oleh sesepuh keluarga, dilanjutkan dengan pembacaan doa syukur atas kesehatan bayi.
- Pemberian Makan Simbolis: Sebagai bentuk harapan agar bayi kelak dapat mandiri, dilakukan pemberian suapan makanan secara simbolis.
- Mandi Simbolis: Bayi dimandikan dengan air yang telah didoakan, melambangkan pembersihan dan harapan agar bayi terhindar dari segala hal buruk.
- Kenduri: Puncak acara ditandai dengan kenduri, yakni doa bersama dan santap bersama para tamu undangan. Ini melambangkan kebersamaan dan berbagi berkah.
Pentingnya Pitonan
Pitonan bukan sekadar ritual, melainkan perayaan kehidupan baru. Ini adalah momen untuk:
- Mengucapkan Syukur: Mensyukuri kehadiran buah hati yang dikaruniai Tuhan.
- Memohon Doa Restu: Meminta doa dan harapan baik agar bayi tumbuh sehat dan sejahtera.
- Mendekatkan Keluarga: Mempererat hubungan kekeluargaan dan silaturahmi dengan tetangga.
Tradisi Pitonan dalam Perspektif Modern
Meskipun merupakan tradisi kuno, pitonan masih terus dilestarikan oleh masyarakat Surabaya hingga saat ini.
Namun seiring dengan perkembangan zaman, bentuk perayaan pitonan mengalami sedikit perubahan.
Beberapa keluarga memilih untuk mengadakan acara pitonan dengan konsep yang lebih modern, namun tetap mempertahankan nilai-nilai tradisionalnya.
Tradisi pitonan merupakan salah satu warisan budaya yang sangat berharga bagi masyarakat Surabaya.
Melalui tradisi ini, nilai-nilai luhur seperti syukur, doa, dan silaturahmi terus diwariskan dari generasi ke generasi. Meskipun mengalami sedikit perubahan, esensi dari tradisi pitonan tetap terjaga. (nis/mg/jay)
Editor : Jay Wijayanto