SURABAYA – Dalam peringatan suroan atau bulan Asyura ada berbagai tradisi yang masih dijaga masyarakat.
Salah satunya yakni menandai bulan Suro biasanya lekat dengan tradisi selametan membagikan bubur suro.
Fenomena ini sering ditemukan saat malam peringatan satu suro di Jawa.
Hingga saat ini, tradisi tersebut tetap lestari tiap tahunnya.
Pegiat sejarah Surabaya, Nur Setiawan mengungkapkan, bubur suro memang muncul saat peringatan bulan Asyura atau bulan Suro dalam istilah Jawa.
Bulan Asyura ini bertepatan dengan bulan Muharam, yang merupakan pergantian tahun dalam penanggalan Hijriah.
Pria yang akrab di sapa Wawan itu menjelaskan, ada dua hal yang melatar belakangi adanya fenomena budaya bubur suro ini.
Pertama adalah terkait peristiwa bersejarah terkait cucu Nabi Muhammad SAW yang tewas terbunuh dalam peristiwa karbala.
"Orang-orang Jawa yang saat itu telah memeluk Islam pasca kedatangan para wali di tanah Jawa, menganggap bulan Suro merupakan bulan yang sakral, bulan berkabung atas wafatnya cucu Nabi Muhammad SAW," katanya.
Selain peristiwa itu, Mas Wawan melanjutkan, orang-orang Jawa sedari dulu memang selalu memegang teguh tradisi dan budayanya.
Bubur suro ini dulunya tercipta sebagai bentuk penghormatan terhadap peristiwa Muharam, sekaligus untuk mensucikan diri dan wujud terima kasih kepada Tuhan yang maha esa.
Bubur suro yang terbuat dari beras yang dilembutkan ini kemudian diberi toping sesuai tradisi masing-masing daerah, seperti kering temped an kacang, telur dadar, tumis tahu, hingga perkedel.
Setelah melewati berbagai proses, bubur suro yang sudah jadi akan diberikan ke tetangga maupun sanak famili, termasuk diantar ke masjid dan musala.
"Tentunya bubur suro tadi mempunyai falsafah tentang keselamatan, permohonan maaf hingga peringatan berkabung sebagai bahan evaluasi diri. Jadi sebagai penyucian diri sekaligus peringatan atas wafatnya cucu nabi," ujarnya. (dim/nur)
Editor : Nurista Purnamasari