Kisah Di Balik Foto Propaganda Bung Tomo saat Pidato Mengobarkan Semangat Arek Suroboyo
Rahmat Sudrajat• Senin, 24 Juni 2024 | 20:49 WIB
IKONIK: Foto Bung Tomo sedang berpidato di bawah payung tak lain adalah foto propaganda untuk membakar semangat arek arek Suroboyo dalam pertempuran 10 Nopember 1945 melawan sekutu.
DI balik foto legendaris yang menunjukkan momen Bung Tomo sedang berorasi dengan background payung ternyata hanya sebuah foto yang tujuannya sebagai alat propaganda untuk mengobarkan semangat perjuangan arek arek Suroboyo saat pertempuran 10 Nopember 1945 melawan sekutu.
Foto tersebut sangat ikonik dan bernilai sejarah karena sampai sekarang masih dikaitkan dengan citra pidato Bung Tomo di depan arek arek Surabaya saat pertempuran melawan sekutu.
Pustakawan sejarah Chrisyandi Tri Kartika menjelaskan bahwa foto tersebut diabadikan oleh fotografer dari kantor berita Indonesian Press Photo Service (IPPHOS) saat rapat besar yang berlangsung di Mojokerto, 18 Februari 1945.
"Ketika itu Bung Tomo melakukan pidato sambutan atas kunjungan Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta ke Mojokerto. Bung Tomo dari pucuk pimpinan pemberontakan Surabaya," tutur Chrisyandi.
Ketika itu, jelas Chris, Bung Tomo memberikan semangat kepada hadirin yang datang dalam rapat tersebut, sekaligus berbicara tentang nasib Indonesia ke depan.
"Isi penyampaian pidato ketika itu, "Rakyat harus senantiasa mengawasi gerak gerik para pemimpinnya. Bila perintah yang agaknya bercorak memecah belah, rakyat harus mengambil tindakan yang sepatutnya. Terutama harus diketahui oleh rakyat bahwa dewasa ini bukan lagi waktunya untuk mementingkan diri sendiri. Tetapi waktunya bersatu untuk meneruskan perjuangan hingga tercapainya Indonesia merdeka 100 persen penuh dengan tidak pakai ditawar-tawar lagi."
"Jadi waktu itu Indonesia butuh kemerdekaan. Dan perlu propaganda ketika itu (zaman perang) untuk mempengaruhi rakyat agar semangatnya berkobar untuk mengusir penjajah," terang Chrisyandi.
Foto tersebut akhirnya menjadi dokumentasi dan diterbitkan di Harian Merdeka, Jakarta, pada tahun 1946.
"Ya memang menjadi dokumentasi foto tersebut," ujar pustakawan Universitas Ciputra Surabaya itu.
Bung Tomo lewat radio berorasi membakar semangat arek arek Suroboyo melawan sekutu dalam perang 10 Nopember 1945.
Sementara itu, banyak sumber yang menyebut Bung Tomo sejatinya tidak pernah berorasi di lapangan terbuka saat perang berkecamuk di Surabaya.
Tokoh perang 10 Nopember di Surabaya itu sejatinya berpidato dari sebuah rumah di Jalan Mawar No. 10 Surabaya.
Di rumah yang disulap menjadi stasiun radio sekaligus tempat persembunyian Bung Tomo itulah, sang pahlawan membakar semangat arek Surabaya lewat corong radio di masa perang November 1945.
Selain Bung Tomo, ada Muriel Stuart Walker atau populer dengan nama K'tut Tantri, seorang perempuan asal Amerika Serikat yang juga bersiaran di sana.
Muriel yang kemudian menjadi penulis pidato Presiden Sukarno itu berjasa menyiarkan perjuangan Indonesia hingga ke luar negeri dengan bahasa Inggris. Radio tersebut akhirnya diketahui oleh musuh, yang memaksa Bung Tomo memindahkannya ke Jalan Biliton.
Foto Bung Tomo saat pidato untuk kampanye Partai Rakyat Indonesia yang didirikannya di Pemilu 1955.
Setelah kemerdekaan, tepatnya saat kampanye pemilu tahun 1955, barulah Bung Tomo tampil lagi untuk berorasi di lapangan terbuka sebagai calon legislator ketika itu.
Seperti dikisahkan Sulistina, istri Bung Tomo dalam buku Bung Tomo Suamiku, sang orator dan pahlawan nasional ini mendirikan Partai Rakyat Indonesia (PRI) yang berkantor pusat di Jalan Gondangdia Lama No. 18, Jakarta.
Partai baru ini menggunakan lambang pohon kelapa dengan mengusung semangat nasionalisme untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. (rmt/jay)