RADAR SURABAYA - Gereja Katolik Santo Mikael, Surabaya, menggelar tradisi Jalan Salib sebagai rangkain perayaan Tri Hari Suci Paskah, Jumat (29/3).
Visualisasi Jalan Salib itu untuk mengenalkan dan merasakan kembali perjalanan Yesus Kristus saat memanggul salib menuju tempat penyaliban.
Salah satu umat Katolik yang berperan sebagai Yesus bernama Oswald Theovanis mengaku sangat tertantang memvisualkan Yesus.
Bahkan ia ingin mencobanya lagi di tahun depan
"Baru pertama kali saya memerankan Yesus, seru dan saya merasa tertantang, semoga tahun depan saya bisa memerankannya lagi," kata Oswald.
Ia mengaku selama mengikuti Jalan Salib dapat merenungkan kembali hidup sebagai murid Kristus dengan mengikuti jalan cinta yang berani berkurban seperti yang dilakukan oleh Yesus.
"Kami juga diajak untuk merenungkan kembali hidup sebagai murid-murid Kristus. Mengikuti jalan cinta yang berani berkurban seperti yang dilalui Yesus, atau masih terbelenggu jalan egoisme dan cinta diri yang mengorbankan Tuhan dan sesama," terangnya.
Sementara itu Jalan Salib di geraja yang terletak di Jalan Tanjung Sadari, Perak Surabaya diikuti oleh puluhan orang yang memvisualisasikan.
Kurang dari satu jam visualisasi Jalan Salib digelar dimulai dari depan sekolah yang berada di kompleks gereja hingga menuju di halaman depan gereja.
Bruder Gereja Katolik Santo Mikael Bernardinus Mei menjelaskan untuk tema Jalan Salib, tahun ini adalah "Menghidupi Gereja yang Satu, Kudus, Katolik, dan Apostolik di Lingkungan dan Stasi".
Ia berharap dengan tema tersebut diajak untuk menyadari sifat hakiki dari Kristus.
"Dengan tema ini kami diajak untuk menyadari bahwa sekalipun kecil dan sederhana, persekutuan umat di lingkungan dan stasi membawa dalam dirinya sifat hakiki Gereja Kristus yang Satu, Kudus, Katolik dan Apostolik," terangnya.
Lingkungan dan stasi bukanlah sebatas kumpulan umat Katolik yang tinggal berdekatan di teritorial tertentu.
Namun lingkungan dan stasi merupakan cara hidup persekutuan murid-murid Kristus yang hidupnya berdekatan dalam teritorial dengan batas-batas tertentu.
"Jadi selama masa Paskah kami diajak untuk bertobat dan memperbaharui hidup sebagai murid-murid Kristus," pungkasnya. (rmt/opi)
Editor : Nofilawati Anisa