Program Dana Gen Z Surabaya, Pemuda Kedungdoro Buka Bisnis Parfum

Rahmat Sudrajat • Dipublikasikan Jumat, 9 Oktober 2026 | 17:15 WIB
BISNIS: Karang Taruna Kedungdoro manfaatkan Balai RT untuk bisnis parfum dan deodoran. (Rahmat Sudrajat/Radar Surabaya)
BISNIS: Karang Taruna Kedungdoro manfaatkan Balai RT untuk bisnis parfum dan deodoran. (Rahmat Sudrajat/Radar Surabaya)

RADAR SURABAYA – Program Dana Gen Z Pemerintah Kota Surabaya membuka peluang bagi anak muda untuk mengembangkan usaha mandiri. Di Kelurahan Kedungdoro, Kecamatan Tegalsari, bantuan modal tersebut dimanfaatkan enam pemuda untuk merintis bisnis parfum dan deodoran dengan merek KDR Parfum dan KDR Deodoran. Dalam waktu sekitar dua bulan, omzet penjualan mereka mencapai Rp 4 juta.

Usaha tersebut digagas Raihan Syah Rafi, Ketua Karang Taruna RW 8, bersama teman-temannya. Ide berwirausaha muncul dari diskusi kelompok yang ingin memiliki usaha produktif, tetapi terkendala modal.

Baca Juga: 42 Mobdin Listrik Sudah Beroperasi, Pemkot Surabaya Ganti Semua secara Bertahap 

Kesempatan datang setelah mereka mengetahui program Dana Gen Z yang digagas Pemkot Surabaya. Mereka kemudian menyusun proposal dan memperoleh bantuan modal untuk merealisasikan rencana bisnis tersebut.

Baca Juga: 500 RW Terbaik Berebut Tiket 200 Besar Lomba Kampung Pancasila 2026 Pemkot Surabaya

“Awalnya kami sudah punya ide untuk membuat usaha, tetapi bingung mencari modal. Kebetulan teman-teman Karang Taruna RW 8 ingin mengembangkan usaha. Akhirnya, kami mengajukan proposal,” kata Raihan, Jumat (9/10).

Baca Juga: Pemkot Surabaya Tolak Izin Tempat Hiburan Malam Baru, Ini Alasannya

Sebelum memproduksi deodoran, mereka melakukan riset dengan merujuk sejumlah jurnal ilmiah untuk menentukan formulasi produk. Sementara itu, pengembangan parfum dilakukan melalui eksperimen bertahap hingga menghasilkan empat varian formulasi.

Bisnis tersebut kini dikelola enam pemuda yang terbagi dalam tim parfum dan deodoran. Masing-masing memiliki tugas mulai dari produksi, pemasaran, hingga pengelolaan keuangan. Anggota Karang Taruna lainnya juga diberi kesempatan menjual produk dengan sistem bagi hasil sebesar 10 persen dari setiap transaksi.

Baca Juga: Gencar Kembangkan Kampung Pancasila, Pemkot Surabaya Raih Penghargaan Nasional

Keterbatasan fasilitas tidak menyurutkan langkah mereka. Balai RT Kedungdoro dimanfaatkan sebagai tempat produksi sekaligus penjualan tanpa biaya sewa. Adapun dana bantuan digunakan untuk membeli bahan baku, peralatan produksi, perlengkapan operasional, dan perangkat kasir.

Baca Juga: 58 ASN Pemkot Surabaya Kena Sanksi, Ada yang Terlibat Pungli dan Bolos

Dalam dua bulan, omzet penjualan kedua produk mencapai sekitar Rp4 juta. Meski demikian, investasi peralatan belum sepenuhnya kembali. Mereka masih mengandalkan pemasaran secara luring, sembari menyiapkan strategi penjualan daring untuk menjangkau konsumen lebih luas.

Produk deodoran dipasarkan dengan harga Rp 13.000 hingga Rp 15.000, sedangkan parfum dijual mulai Rp 55.000. Harga tersebut menjadi pilihan bagi konsumen yang ingin mencoba produk lokal hasil usaha anak muda Surabaya.

Bagi Raihan, program tersebut bukan sekadar bantuan modal, melainkan kesempatan membangun kebiasaan produktif di kalangan pemuda. Ia berharap kegiatan berwirausaha dapat menjadi alternatif positif dibandingkan menghabiskan waktu tanpa kegiatan bermanfaat.

“Lebih baik melakukan sesuatu yang bermanfaat. Nongkrong juga bisa digunakan untuk membahas hal berguna, seperti membangun bisnis dan mengajak teman berwirausaha bersama,” ujarnya.

Raihan mengapresiasi dukungan Pemkot Surabaya dan Wali Kota Eri Cahyadi. Ia berharap usaha tersebut terus berkembang sehingga para pemuda yang terlibat dapat memperoleh penghasilan dan tumbuh bersama. (rmt/rak)

Editor : Vega Dwi Arista
Sumber : radar surabaya
dana bisnis pemkot program parfum