RADAR SURABAYA - Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengungkap alasan pergantian 13 kepala perangkat daerah (PD) dalam satu tahun terakhir. Langkah itu dilakukan murni berdasarkan evaluasi kinerja dan pencapaian target, bukan pertimbangan pribadi.
"Setiap pekerjaan di Kota Surabaya pasti kita lihat output dan outcome. Sudah ada 13 kepala dinas yang berganti dalam satu tahun. Bukan karena suka atau tidak suka, tapi mereka tidak bisa mencapai hasil yang dijanjikan," ujar Eri di Surabaya, Rabu (7/10).
Baca Juga: Gibran Bantah Tidak Lulus SMA: "Kalau Nggak Lulus SMA, Saya Nggak Mungkin Bisa Kuliah"
Ia mengibaratkan kepala daerah sebagai pemimpin orkestra yang harus mampu menyatukan seluruh elemen pemerintahan dan masyarakat. "Kepala daerah itu pemimpin orkestra. Wali kota tidak akan berarti apa-apa jika rakyat Surabaya tidak bersatu padu ikut membangun kotanya," tegasnya.
Eri juga mengubah pola kerja ASN agar tidak hanya duduk di kantor, melainkan melayani langsung dari Balai RW demi mendekatkan pelayanan ke warga.
"Kami tidak lagi bekerja dari kantor. ASN kini bertugas di Balai RW agar dekat dengan masyarakat. Di situlah pelayanan dilakukan," paparnya.
Pelayanan publik dirancang mengikuti siklus hidup warga. Mulai dari masa kehamilan hingga lanjut usia.
Sementara itu, ratusan aplikasi disederhanakan menjadi dua platform: KantorKu untuk kebutuhan internal pemerintah dan WargaKu sebagai saluran aspirasi masyarakat. "Kita pangkas ratusan aplikasi jadi dua saja. KantorKu untuk pemerintah, WargaKu untuk warga melaporkan apa yang dibutuhkan," jelasnya.
Baca Juga: BI Jatim Buka Jalan UMKM Naik Kelas
Eri menegaskan, setiap kebijakan harus sejalan dengan tujuan pembangunan nasional. Tujuh indikator utama menjadi tolok ukur keberhasilan. Yakni, menurunkan kemiskinan, pengangguran, angka stunting, kematian ibu dan anak, serta gini rasio; meningkatkan indeks pembangunan manusia; dan mendorong pertumbuhan ekonomi.
"Apa pun yang dilakukan kepala daerah, jika ketujuh indikator ini tidak berubah, maka ia gagal menjalankan tugasnya," pungkasnya. (rmt)
Editor : Lambertus Hurek