RADAR SURABAYA - Sampah dapur di kampung-kampung Surabaya didorong tidak lagi berakhir sebagai limbah. Limbah organik rumah tangga mulai diarahkan menjadi pintu masuk untuk membangun ketahanan pangan sekaligus kegiatan produktif warga.
Konsep tersebut mulai diterapkan Ketua Komisi A DPRD Surabaya Yona Bagus Widyatmoko alias Cak Yebe di sejumlah wilayah binaannya di Dapil 5 Surabaya. Sebanyak sekitar 200 unit tong komposter disiapkan untuk mendorong pengolahan sampah organik berbasis lingkungan.
Model yang digunakan terinspirasi dari Kampung Malaka Jaya, Jakarta Timur. Di kawasan tersebut, pengelolaan limbah organik tidak berdiri sendiri, tetapi dikembangkan bersama kegiatan ketahanan pangan dan pemberdayaan masyarakat.
Baca Juga: Tim Labfor Amankan Tabung Gas 50 Kg dari Ruko San Antonio Pakuwon City Surabaya
“Konsepnya saya terinspirasi dari Malaka Jaya. Di sana pengolahan limbah organik tidak berdiri sendiri, tetapi bisa dikembangkan menjadi bagian dari ketahanan pangan dan kegiatan produktif warga,” jelas Cak Yebe, Selasa (6/10/2026).
Menurut dia, komposter bukan menjadi tujuan akhir. Justru, pengolahan sampah organik merupakan tahap awal untuk membangun ekosistem produktif di lingkungan permukiman.
Sampah organik yang diolah dapat dimanfaatkan untuk mendukung tanaman pangan, kebun pangan maupun kegiatan urban farming. Jika dikembangkan lebih jauh, konsep tersebut juga dapat terhubung dengan budidaya ikan dan kegiatan ekonomi warga.
Baca Juga: Modus Kerja Lembur, Kuli Bangunan Cari Pengganti Istri di Rumah
“Bukan hanya di GSI, tapi juga di RW 3 dan 4 Sumberan, Kelurahan Balas Klumprik, Kecamatan Wiyung, di RW 4 Kelurahan Jajar Tunggal, RW 1 Kelurahan Kedurus, RW 3 Kelurahan Jeruk, serta RW 2 dan 3 Kelurahan Warugunung,” ujar Cak Yebe.
Sebagai langkah awal, sebanyak 20 unit tong komposter berkapasitas 160 liter didistribusikan ke RW 9 Perumahan Gunung Sari Indah, Kelurahan Kedurus. Kawasan tersebut menjadi lokasi awal penerapan program sebelum diperluas ke wilayah binaan lainnya.
Untuk RW yang berminat menjalankan program serupa, Cak Yebe menyiapkan minimal empat tong komposter berkapasitas 160 liter. Jumlah tersebut dapat disesuaikan dengan cakupan wilayah dan luas RT yang berada dalam satu RW.
Baca Juga: SMAN 1 dan SMAN 2 Situbondo Berebut Juara Zona 11 Turnamen Bahlil Mini Soccer 2026
“Saya memberikan bantuan langsung berupa unit tong komposter per RW sebanyak minimal empat pcs tong komposter kapasitas 160 liter atau kapasitas besar,” katanya.
Dalam rangkaian jaring aspirasi masyarakat kali ini, total sekitar 200 unit komposter disiapkan untuk RW-RW binaannya di Dapil 5. Bantuan tersebut diberikan secara swadaya sebagai langkah awal mendorong pengelolaan sampah organik dari tingkat lingkungan.
Namun, Cak Yebe menegaskan konsep Malaka Jaya tidak akan diterapkan mentah-mentah di Surabaya. Setiap kampung memiliki karakteristik berbeda, mulai dari ketersediaan lahan hingga kebutuhan warga.
Baca Juga: Bulan Baru Picu Banjir Rob, BMKG Tanjung Perak Minta Warga Pesisir Jatim Waspada
“Tidak harus persis sama dengan Malaka Jaya. Kita sesuaikan dengan kondisi kampung di Surabaya, tetapi prinsipnya sama, bagaimana limbah organik bisa dikelola dan hasilnya kembali memberikan manfaat untuk warga,” katanya.
Ia berharap program tersebut tidak berhenti pada pembagian tong komposter. Setelah sistem pengolahan organik berjalan, warga diharapkan mampu mengembangkan kegiatan lain sesuai potensi wilayah masing-masing.
“Sampah organik diolah, kemudian hasilnya bisa digunakan untuk tanaman, kebun pangan atau kegiatan produktif lain sehingga ketahanan pangan benar-benar tumbuh dari kampung,” tegas dia.
Baca Juga: PKL Manukan Surabaya Minta Jangan Ada Diskriminasi Penertiban
Dengan pendekatan tersebut, pengelolaan sampah dan ketahanan pangan tidak ditempatkan sebagai dua program yang terpisah. Sampah organik rumah tangga menjadi bahan awal yang dapat dikembalikan ke lingkungan dan dimanfaatkan untuk kegiatan produktif warga.
“Harapannya nanti warga tidak hanya menerima bantuan, tetapi bisa mengembangkan sendiri. Kalau sudah berjalan, dari komposter bisa berkembang ke tanaman pangan, budidaya ikan atau kegiatan lain yang mendukung ketahanan pangan,” pungkasnya. (dim/gun)
Editor : Guntur Irianto
Sumber : radar surabaya