RADAR SURABAYA - Kemudahan berkomunikasi di era digital tidak selalu membuat seseorang merasa lebih terhubung. Di tengah meningkatnya konektivitas melalui media sosial dan berbagai platform digital, seseorang tetap dapat mengalami kesepian, tekanan psikologis, hingga krisis kesehatan mental. Fenomena tersebut menjadi perhatian Magister Psikologi Universitas Surabaya (Ubaya) melalui Talkshow dan Workshop bertajuk “CONNECTED FOR LIFE: Mental Health & Suicide Prevention in the Digital Society” pada Sabtu (26/9/2026) di Ruang Serbaguna Fakultas Psikologi Ubaya. Acara yang dihadiri oleh ratusan peserta ini digelar dalam rangka memperingati Dies Natalis Magister Psikologi Ubaya ke-13 sekaligus Hari Pencegahan Bunuh Diri pada bulan September.
Sesi talkshow mengangkat tema “Connected Yet Alone: Understanding Mental Health and Suicide Prevention in the Digital Society”. Ketua Program Studi Magister Psikologi Ubaya, Dr. Mary Philia Elisabeth, Psikolog, menyebut topik ini dipilih karena perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam cara manusia berkomunikasi, membangun relasi, belajar, bekerja, dan memperoleh dukungan sosial.
“Namun, meningkatnya konektivitas digital tidak selalu berbanding lurus dengan hadirnya hubungan sosial yang bermakna. Oleh karena itu, acara ini hadir untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan peserta dalam mengenali, merespons, dan mencegah permasalahan kesehatan mental serta risiko bunuh diri dalam konteks masyarakat digital melalui pendekatan multidisipliner,” jelasnya.
Ia menerangkan, di era digital, individu semakin sering membangun dan menampilkan identitasnya di ruang publik. Jumlah likes, komentar, views, maupun respons instan dapat menjadi bagian dari pengalaman sosial seseorang. Ketika validasi digital terlalu dominan dalam membentuk penilaian terhadap diri, tekanan untuk menampilkan kehidupan yang ideal dapat semakin besar. Tekanan untuk menampilkan versi diri yang sempurna membuat seseorang cenderung menyembunyikan sisi rapuhnya.
“Berbagai tekanan yang tidak tertangani dapat berkembang dari distress hingga krisis psikologis. Pada sebagian individu, terutama ketika terdapat berbagai faktor risiko yang saling berinteraksi, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko munculnya pikiran atau perilaku bunuh diri. Semakin dini tanda-tanda distress dikenali, semakin besar peluang untuk memberikan dukungan dan mencegah kondisi berkembang menjadi krisis yang lebih berat,” imbuh Mary.
Talkshow dilanjutkan dengan penjelasan mengenai lima langkah yang dapat dilakukan untuk membantu seseorang yang sedang mengalami tekanan emosional. Materi dibawakan oleh Dosen Fakultas Kedokteran Ubaya Spesialis Kedokteran Jiwa, dr. Katharina Merry Apriliani Angkawidjaja, Sp.KJ., M.H. Materi kemudian dilanjutkan oleh Dosen Program Studi Teknik Informatika Ubaya, Mikhael Ming Khosasih, M.M., M.Kom. tentang bagaimana teknologi membentuk koneksi, perhatian, paparan, dan keamanan.
Selain talkshow, ada pula workshop yang dibawakan oleh dosen sekaligus praktisi dari Ubaya. Workshop tersebut terdiri dari “RESPOND - Psychological First Response in Digital and Educational Settings” oleh Ketua Program Studi Pendidikan Profesi Psikolog Ubaya, Dr. Andrian Pramadi, Psikolog., “PROTECT - Digital Footprints: Understanding Legal Risks and Responsibility” oleh Dekan Fakultas Hukum Ubaya, Dr. Hwian Christianto, serta “CONNECT - Building Psychologically Healthy Workplaces in the Digital Era” oleh Dr. Artiawati, Psikolog.
Rangkaian kegiatan tersebut menempatkan isu kesehatan mental dari berbagai perspektif, mulai dari psikologi, kedokteran, teknologi, hukum, hingga lingkungan kerja. Pendekatan multidisipliner ini menekankan bahwa pencegahan masalah kesehatan mental dan risiko bunuh diri tidak dapat dibebankan hanya kepada individu, tetapi membutuhkan dukungan dari keluarga, komunitas, institusi pendidikan dan pekerjaan, tenaga profesional, serta lingkungan sosial yang aman.
“Kami harap, perayaan Dies Natalis tahun ini tidak hanya menjadi kegiatan perayaan institusional, tetapi juga menjadi ruang akademik dan profesional untuk meningkatkan literasi, kompetensi praktis, serta kesadaran kolektif mengenai pentingnya membangun koneksi yang sehat dan lingkungan yang mendukung kesehatan mental serta keselamatan individu, terutama generasi muda,” pungkas Mary.(sam/gun)
Editor : Guntur IriantoSumber : radar surabaya