Mahasiswa Umsura dan Singapore Polytechnic Cari Inovasi Pecel Semanggi hingga Peternakan Ayam

Andy Satria • Dipublikasikan Rabu, 30 September 2026 | 16:01 WIB
LEARNING EXPRESS: Mahasiswa dari Umsura dan Singapore Polytechnic, ketika mengikuti kegiatan LeX 2026, di Surabaya. (Umsura)
LEARNING EXPRESS: Mahasiswa dari Umsura dan Singapore Polytechnic, ketika mengikuti kegiatan LeX 2026, di Surabaya. (Umsura)

RADAR SURABAYA – Pecel semanggi dan peternakan ayam menjadi laboratorium inovasi bagi mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) dan Singapore Polytechnic.

Melalui program Learning Express (LeX) 2026, sebanyak 80 mahasiswa dari kedua perguruan tinggi turun langsung ke masyarakat untuk mencari solusi atas berbagai persoalan lokal.

Program kolaborasi internasional tersebut berlangsung selama dua pekan. Memasuki tahun keempat pelaksanaan, LeX 2026 tidak

hanya menghadirkan pembelajaran di ruang kelas, tetapi juga mendorong mahasiswa menyelesaikan persoalan masyarakat melalui pendekatan design thinking.

Dua lokasi menjadi fokus kegiatan, yakni Kampung Semanggi di Sememi, Benowo, dan Jago Karah Farm di Karah, Jambangan, Surabaya.

Mahasiswa Umsura dan Singapore Polytechnic Pelajari Pecel Semanggi

Di Kampung Semanggi, mahasiswa mempelajari proses budi daya tanaman semanggi hingga pengembangan usaha pecel semanggi yang menjadi bagian dari tradisi masyarakat setempat.

Baca Juga: Yamaha Customer Day 2026: Menangkan 5 Unit Fazzio Hybrid Neo untuk Pelanggan di Jatim dan NTB

Berbagai persoalan dipetakan. Mulai sistem irigasi, proses panen, pengolahan hasil, efisiensi produksi, akses pasar, hingga aspek kesehatan dan keselamatan kerja petani.

Mahasiswa juga melihat langsung sejumlah kendala di lapangan.

Teknologi sistem irigasi belum dimanfaatkan secara optimal, sumber air belum melalui penyaringan memadai, pengetahuan budi daya masih terbatas, dan proses panen masih dilakukan secara manual.

Persoalan tidak berhenti setelah tanaman dipanen. Pengolahan hasil, pemasaran, kesehatan dan keselamatan kerja, serta keberlanjutan lingkungan turut menjadi perhatian mahasiswa.

Solusi yang dicari pun tidak hanya berbasis teknologi. Mahasiswa juga membahas peningkatan kapasitas masyarakat, penguatan kelembagaan, dan pengembangan rantai nilai produk.

Peternakan Ayam di Tengah Kawasan Perkotaan

Lokasi kedua adalah Jago Karah Farm. Peternakan ayam tersebut menerapkan sistem closed house untuk menjaga kebersihan kandang, mengurangi bau, dan menekan dampak lingkungan di kawasan perkotaan.

Pengelolaannya juga menerapkan prinsip biosecurity, pengendalian suhu, serta manajemen pakan dan kesehatan ternak.

Namun, mahasiswa menemukan sejumlah tantangan operasional.

Di antaranya keterbatasan ruang, posisi kandang yang bertumpuk, keterbatasan waktu untuk pembersihan, pemberian pakan yang masih dilakukan secara manual, serta persoalan kebisingan di lingkungan perkotaan.

Berbagai persoalan tersebut menjadi bahan bagi mahasiswa untuk merancang inovasi yang dapat meningkatkan efisiensi pengelolaan peternakan sekaligus memperhatikan kenyamanan dan produktivitas ayam.

LeX Dorong Mahasiswa Rancang Solusi Bersama Masyarakat

Kegiatan LeX 2026 melibatkan dosen Umsura dari berbagai bidang keilmuan. Mahasiswa mendapatkan perspektif mengenai higiene dan sanitasi, pengelolaan limbah, sistem produksi berkelanjutan, hingga pengembangan dan evaluasi prototipe solusi.

Baca Juga: Polda Jatim Gagalkan Peredaran Narkotika Jenis Etomidate di Surabaya, Sita Ribuan Catridge

Fasilitator Singapore Polytechnic Lee Yoke King mengapresiasi pelaksanaan LeX 2026 bersama Umsura.

“Terima kasih kepada tim Umsura yang telah mempersiapkan program ini dengan sangat baik sehingga dapat berjalan lancar. Pengalaman ini sangat bermakna dan menyenangkan,” ujarnya.

Menurut dia, LeX bukan hanya menjadi ruang pembelajaran mahasiswa, tetapi juga sarana membangun hubungan dan kepedulian terhadap masyarakat.

Kepala Lembaga Riset, Inovasi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (LRIPM) Umsura Arin Setyowati mengatakan,

KKN LeX merupakan bagian dari kolaborasi lintas negara yang diarahkan untuk memberikan dampak langsung kepada masyarakat.

“Program KKN LeX ini bukan sekadar kewajiban akademik, tetapi merupakan wujud nyata kolaborasi lintas negara yang dirancang untuk memberikan dampak positif secara langsung kepada masyarakat,” kata Arin.

Dia menjelaskan, pendekatan design thinking membuat mahasiswa tidak hanya mengamati persoalan.

Mereka dituntut memahami kebutuhan masyarakat dan pelaku usaha sebelum merancang solusi.

“Melalui pendekatan design thinking, mahasiswa tidak sekadar datang untuk mengamati persoalan, tetapi diajak memahami tantangan nyata masyarakat dan pelaku usaha, kemudian bersama-sama menciptakan solusi inovatif,” jelasnya.

Umsura-Singapore Polytechnic Siapkan Prototipe Inovasi

Rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya Prof. Mundakir mengatakan, kerja sama dengan Singapore Polytechnic menjadi bagian dari upaya memperluas pengalaman belajar mahasiswa melalui kolaborasi internasional.

“Kami ingin mahasiswa tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kemampuan berkolaborasi lintas budaya dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat,” katanya.

Dalam pelaksanaannya, mahasiswa menjalani sejumlah tahapan design thinking. Proses tersebut meliputi pemahaman terhadap persoalan dan kebutuhan masyarakat, kunjungan lapangan, membangun empati, hingga melakukan co-creation bersama komunitas.

Gagasan dan prototipe yang dihasilkan kemudian mendapatkan masukan dari akademisi dan masyarakat.

Hasil akhir program dipresentasikan melalui Gallery Walk pada akhir rangkaian LeX 2026.

Kolaborasi Umsura dan Singapore Polytechnic tersebut mempertemukan mahasiswa dari dua negara sekaligus membuka ruang bagi lahirnya inovasi berbasis persoalan nyata di Surabaya.

Mulai dari pengembangan pecel semanggi hingga pengelolaan peternakan ayam di tengah kawasan perkotaan menjadi bagian dari proses pembelajaran mereka.(sam) 

 

 

Editor : Rahmat Adhy Kurniawan
Singapore Polytechnic Learning Express (LeX) 2026 inovasi mahasiswa umsura