6.125 Siswa SMA dan SMK Dibekali Wirausaha dan AI

Andy Satria • Dipublikasikan Rabu, 23 September 2026 | 18:41 WIB
PAMERKAN PRODUK: Salah satu siswa peserta pembekalan kewirausahaan menunjukkan produknya dalam sebuah pameran. (istimewa)
PAMERKAN PRODUK: Salah satu siswa peserta pembekalan kewirausahaan menunjukkan produknya dalam sebuah pameran. (istimewa)

RADAR SURABAYA – Sebanyak 6.125 siswa SMA dan SMK di 10 kota mendapat pembekalan kewirausahaan dan kecerdasan buatan (AI) melalui Zurich Entrepreneurship Program (ZEP) 2026–2027.

Program ini mendorong siswa mengenali peluang usaha dan mengembangkan bisnis sejak duduk di bangku sekolah.

Memasuki fase kedua, ZEP tidak hanya memberikan pengetahuan dasar mengenai cara menjalankan usaha.

Siswa juga dibekali kemampuan memanfaatkan potensi ekonomi lokal, teknologi AI, serta keterampilan finansial yang semakin dibutuhkan di era digital.

Program tersebut menggunakan metode pembelajaran berbasis pengalaman.

Siswa mendapat kesempatan mengembangkan ide bisnis, membuat produk, membangun merek, hingga menjalankan usaha secara langsung di lingkungan sekolah.

35 Bisnis Pelajar Raih Omzet Rp339 Juta

Pada tahun pertama fase kedua, ZEP telah menjangkau lebih dari 10 ribu siswa. Program tersebut juga mendorong lahirnya 35 bisnis pelajar dengan omzet kolektif mencapai Rp339 juta.

Baca Juga: Siswa SMA Al Hikmah Surabaya Raih Juara OSN Tingkat Nasional Bidang Informatika

Country Manager Zurich Indonesia Edhi Tjahja Negara mengatakan, perkembangan dunia usaha berlangsung cepat seiring perubahan teknologi, perilaku konsumen, dan kondisi ekonomi.

“Dunia usaha terus berubah seiring perkembangan teknologi, perilaku konsumen, dan dinamika ekonomi.

Melalui program ini kami ingin membekali generasi muda dengan pengalaman nyata untuk membaca peluang, memanfaatkan teknologi secara bijak, dan mengambil keputusan finansial yang tepat,” katanya.

Dalam implementasi ZEP 2026–2027, pembelajaran kewirausahaan dilakukan melalui pengembangan Student Company.

Siswa mempelajari berbagai tahapan dalam membangun dan mengelola usaha, mulai dari mengidentifikasi kebutuhan pasar hingga mengelola operasional dan keuangan.

Kearifan Lokal Jadi Inspirasi Bisnis Siswa

Kearifan lokal menjadi salah satu tema dalam pembelajaran tahun ini. Siswa didorong menggali budaya, sumber daya, dan potensi ekonomi di lingkungan sekitar untuk kemudian dikembangkan menjadi inspirasi bisnis yang memiliki identitas dan nilai tambah.

Selain potensi lokal, teknologi AI mulai digunakan dalam proses pembelajaran.

Siswa dapat memanfaatkannya untuk mengembangkan ide bisnis, melakukan riset pasar sederhana, membuat materi promosi, hingga mengeksplorasi peluang usaha baru.

Pemanfaatan AI tersebut tetap diimbangi pemahaman mengenai penggunaan teknologi secara kritis, etis, dan bertanggung jawab.

 AI ditempatkan sebagai alat pendukung kreativitas tanpa mengesampingkan integritas dan peran manusia.

Head of Enabling Social Equity Z Zurich Foundation Adriana Poglia mengatakan, perkembangan teknologi dan perubahan lanskap ekonomi membuka berbagai peluang bagi generasi muda.

“Kami berupaya memberikan mereka akses yang setara terhadap pengetahuan, pengalaman, dan jejaring yang dapat membantu mereka memanfaatkan peluang tersebut serta menciptakan masa depan yang lebih baik bagi diri mereka dan masyarakat,” ujarnya.

Siswa Didampingi Guru dan Mentor

Pembelajaran kewirausahaan juga diperkuat melalui pendampingan guru, mentor Prestasi Junior Indonesia (PJI), karyawan, serta agen. Mereka memberikan perspektif mengenai dunia usaha, literasi finansial, dan dunia kerja.

Bisnis pelajar terbaik juga berkesempatan mengikuti kompetisi kewirausahaan tingkat regional dan nasional.

Baca Juga: Puluhan Bangunan Liar di Bratang Surabaya Dibongkar, Saluran Tertimbun 20 Tahun

Siswa yang berhasil dapat melanjutkan pengalaman tersebut hingga kompetisi kewirausahaan pelajar tingkat internasional.

Direktur Eksekutif Prestasi Junior Indonesia Utami Anita Herawati menuturkan, pengalaman membangun usaha secara langsung membantu siswa mengubah kreativitas dan potensi di sekitar mereka menjadi peluang yang bernilai.

“Proses ini sekaligus menjadi ruang bagi siswa untuk mengembangkan keterampilan masa depan dan pola pikir kewirausahaan yang dibutuhkan untuk mampu beradaptasi dan menciptakan peluang di tengah berbagai perubahan,” tuturnya.

Fase kedua ZEP ditargetkan menjangkau 16.975 siswa hingga 2028. Program ini diharapkan memperluas akses generasi muda terhadap pembelajaran kewirausahaan berbasis pengalaman yang sesuai dengan kebutuhan dunia usaha dan perkembangan teknologi.(sam) 

Editor : Rahmat Adhy Kurniawan
kecerdasan buatan AI Kewirausahaan Siswa Siswa SMA dan SMK