RADAR SURABAYA - Ratusan orang yang mewakili 1.360 Rukun Warga (RW) se-Kota Surabaya memenuhi halaman Balai Kota Surabaya, Kamis (17/9) malam, untuk mengikuti launching Lomba Kampung Pancasila 2026.
Bersama jajaran Forkopimda Surabaya, seluruh peserta serentak memukul kentongan sebagai tanda kegiatan resmi dimulai.
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi, menegaskan kemajuan Surabaya bukan semata-mata karena pimpinannya, melainkan karena gotong royong warga yang mengamalkan nilai-nilai Pancasila di lingkungannya. Eri juga mengajak warga menolak segala bentuk premanisme dan berani melawan ketidakadilan, mewarisi semangat Bung Tomo dan Bung Karno.
“Jangan pernah biarkan premanisme di Kota Surabaya! Jangan pernah tempat-tempat dikuasai tertentu! Kita orang Surabaya harus berani melawan kedzaliman,” tegas Eri.
Eri berharap semangat berbagi seperti masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz terwujud di setiap kampung mendapatkan bantuan diprioritaskan bagi warga yang benar-benar membutuhkan, dan kelebihan dibagikan ke kampung lain yang masih memerlukan.
Baca Juga: Sinergi Unesa dan Pemkot Surabaya Hidupkan Folklor Sawunggaling di Kampung Pancasila
“Saya minta tolong semuanya ayo sama-sama belajar, sama-sama merubah,” ujarnya.
Ia pun berpesan kepada seluruh jajaran Pemkot yang diamanahi jabatan, agar menggunakan kedudukannya untuk kepentingan rakyat, bukan kepentingan pribadi.
Baca Juga: Wali Kota Eri Targetkan Kampung Pancasila Terlaksana di Seluruh RW pada April Nanti
“Ketika kita diamanahi menjadi pemerintah, ketika diamanahi dadi kepala dinas, lurah, camat, maka di situlah jenengan sedang diuji apakah kita bisa menggunakan jabatan ini untuk kepentingan umat atau bukan,” ujarnya.
Eri berharap pelaksanaan Lomba Kampung Pancasila menghasilkan perubahan nyata di setiap wilayah. Kampung yang aman, lingkungan yang ramah terhadap anak dan perempuan, serta masyarakat yang semakin sejahtera menjadi tujuan yang ingin diwujudkan.
Baca Juga: Wali Kota Eri Cahyadi Apresiasi Kampung Pancasila RW IV Ngagel Rejo, Jadi Prototype di Surabaya
"Saya berharap output dan outcome dari lomba Kampung Pancasila ini adalah perubahan kampung yang aman, kampung yang tidak ada pencurian motor, kampung yang bisa ramah anak dan perempuan, kampung yang sejahtera," harapnya.
Ia optimistis semangat tersebut dapat tumbuh karena sesuai dengan karakter masyarakat Surabaya yang memiliki budaya arek dengan nilai saling membantu dan gotong royong. "Insyaallah saya yakin itu bisa terwujud dengan kampung Pancasila dan lomba ini. Karena sejatinya Surabaya memiliki budaya arek yang memang saling menolong dan saling gotong royong," ujarnya.
Sementara itu Kepala Satuan Tugas (Satgas) Kampung Pancasila Surabaya, Irvan Widyanto, menjelaskan bahwa setelah peluncuran, seluruh RW wajib mendaftar melalui aplikasi Sayang Warga atau laman sayangwarga.surabaya.go.id. RW akan mengisi data indikator lengkap dengan bukti pendukung kondisi nyata di lapangan.
“Saat ini persiapan teknis, sarana prasarana, materi, publikasi, undangan, pengamanan, pelayanan kesehatan, pengisi acara, serta pembagian tugas perangkat daerah telah dikoordinasikan,” ujar Irvan.
Baca Juga: DPRD Surabaya Minta Satgas Kampung Pancasila Siaga Hadapi Cuaca Ekstrem saat Nataru
Ia menegaskan lomba ini bukan sekadar mencari juara, melainkan mendorong setiap RW mengimplementasikan nilai Pancasila melalui kegiatan yang nyata, terukur, partisipatif, dan berkelanjutan. RW yang tidak mendaftar tidak dapat mengikuti tahapan verifikasi lapangan maupun penilaian.
“Yang paling penting bukan sekadar mengejar juara, melainkan menunjukkan apa yang sudah dilakukan, apa hasilnya, apa manfaatnya bagi masyarakat, dan bagaimana kegiatan tersebut dapat terus berkelanjutan,” tutur pria yang juga menjabat sebagai kepala BPBD Kota Surabaya ini.
Baca Juga: Eri Gandeng Kemenag, Perkuat Kampung Pancasila Lewat Fondasi Keluarga dan Penyuluh Agama
Terkait keaktifan di media sosial, Irvan menjelaskan hal itu bukan indikator utama penilaian empat pilar. Fokus penilaian adalah kondisi nyata di lapangan, partisipasi warga, manfaat, dan keberlanjutan kegiatan. Media sosial baru akan dinilai pada kategori tambahan RW Favorit melalui pemungutan suara masyarakat.
“Keaktifan media sosial bukan merupakan indikator utama penilaian 4 Pilar. Namun publikasi dan dokumentasi tetap menjadi bagian bukti pendukung,” pungkasnya. (rmt/vga)
Sumber : radar surabaya