RADAR SURABAYA - Kota Surabaya sukses menjadi pusat perhatian komunitas medis internasional menyusul digelarnya Indoanalgesia Official Summit 2026 oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif Indonesia untuk Manajemen Nyeri (ISAPM) pada 10 hingga 13 September 2026.
Menghadirkan pembicara dari Korea Selatan, Turkiye, dan India, agenda berskala internasional ini dipusatkan di tiga lokasi representatif Kota Pahlawan, yaitu Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, RS Waron Surabaya, serta Aloft Hotel Pakuwon City Surabaya.
Baca Juga: Dinkes Surabaya Bantah Kabar RS Penuh Akibat Flu A, Pastikan Pelayanan Tetap Lancar
Selama empat hari penuh, ratusan dokter spesialis dari seluruh pelosok negeri berkumpul di Surabaya untuk mendalami metode penanganan nyeri modern melalui pelatihan praktikum kadaver di Lab Anatomi FK Unair serta simulasi live patient di RS Waron.
Fokus pelatihan mencakup teknik mutakhir seperti dekompresi saraf tulang belakang, injeksi regeneratif biologis Stromal Vascular Fraction (SVF), hingga panduan fluoroskopi presisi.
Baca Juga: Surabaya Siaga Hantavirus, Dinkes Imbau Warga Jaga Daya Tahan Tubuh
Ketua Panitia Indoanalgesia Summit 2026, dr. Mirza Koeshardiandi, Sp.An-TI, Subsp.I.N.(K), FIPM, FIPP, DABRM, menggarisbawahi perubahan paradigma tatalaksana nyeri yang menempatkan rasa sakit kronis sebagai penyakit primer yang butuh penanganan spesifik.
"Manajemen nyeri bertujuannya mengobati nyeri sebagai sebuah penyakit. Penanganan nyeri tidak hanya berfokus pada penghilangan rasa sakit, tetapi juga mengembalikan fungsi hidup pasien secara utuh agar dapat kembali beraktivitas normal, baik untuk bekerja menafkahi keluarga, menjalankan peran rumah tangga, maupun bersekolah," kata dr. Mirza.
Baca Juga: Siapkan 217 Pos Kesehatan dan 447 RS, Dinkes Jatim Siaga 24 Jam saat Arus Mudik
Menurut dr. Mirza, kehadiran tindakan minimal invasif berpandu ultrasound dan mesin pereda rasa sakit saraf mampu memangkas waktu pemulihan secara drastis dibanding prosedur bedah terbuka.
"Melalui metode regeneratif dan intervensi tanpa operasi bedah terbuka, kondisi seperti robekan tendon joint maupun saraf terjepit dapat ditangani secara presisi dengan bantuan pemindaian ultrasound untuk merangsang pemulihan jaringan dari dalam tanpa memicu efek samping organ," jelasnya.
Senada, Presiden ISAPM Dr. dr. Ristiawan Muji Laksono, Sp.An-TI, Subsp. M.N(K), FIPP, mengungkapkan bahwa Surabaya dipilih sebagai tuan rumah untuk memperkuat jejaring nasional dokter spesialis anestesi, neurologi, bedah saraf, ortopedi, dan kedokteran fisik-rehabilitasi demi menutup kesenjangan layanan medis di wilayah Indonesia Timur dan pelosok Nusantara.
"ISAPM melibatkan kolaborasi lintas disiplin ilmu yang mencakup dokter spesialis anestesi, neurologi, bedah saraf, ortopedi, hingga rehabilitasi medik untuk memastikan pemerataan standar kompetensi penanganan nyeri di seluruh wilayah Indonesia," terang Dr. Ristiawan.
Melalui pertemuan ilmiah dan Rakernas yang digelar di Pakuwon City, Surabaya, ISAPM juga menaruh perhatian serius pada perluasan jangkauan penanganan medis bagi masyarakat kecil.
"Kami merumuskan langkah advokasi agar prosedur intervensi nyeri dapat terakomodasi dalam jaminan BPJS Kesehatan. Mengingat sekitar 80 persen kedatangan pasien ke rumah sakit dipicu oleh keluhan nyeri, ekspansi program pendidikan subspesialis nyeri terus kami dorong agar manfaat pelayanan ini terjangkau hingga ke kawasan pelosok tanah air," pangkasnya.
Kegiatan yang diramaikan dengan Pain Clinic Expo dan kompetisi riset nasional ini kian bergengsi dengan diraihnya piagam Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) atas rekor simposium manajemen nyeri dengan lokakarya hands-on terbanyak dalam satu perhelatan di Indonesia.
Direktur MURI, Awan Raharjo, secara langsung mengapresiasi pencapaian yang ditorehkan di Surabaya tersebut.
"Ini adalah sebuah rangkaian kegiatan ilmiah di bidang manajemen nyeri yang diprakarsai pertama kalinya oleh ISAPM. Pada penyelenggaraan kali ini, dengan menghadirkan simposium internasional yang mencakup 11 topik, ini menjadi rangkaian simposium terbanyak di Indonesia," ujar Awan Raharjo.
Awan menambahkan, terobosan pendidikan medis yang digagas ISAPM di Jawa Timur kian menegaskan reputasi dokter spesialis nasional di peta medis global.
"Lembaga MURI menyaksikan bahwa simposium internasional ini sungguh mendapat atensi dan wajib hukumnya bagi MURI untuk diapresiasi setinggi-tingginya. Kegiatan ini adalah komitmen ISAPM dalam mengembangkan pendidikan, kompetensi, inovasi, dan kolaborasi multidisiplin. Ini wadah silaturahmi, pembelajaran peningkatan keterampilan klinis, serta ruang berbagi pengalaman. Perkembangan dunia anestesi di Indonesia sudah luar biasa dan menjadi leading sector di Asia Tenggara. Kami meyakini spesialis anestesi Indonesia ke depannya akan menjadi kiblat bagi perkembangan dunia anestesi global," pungkasnya. (sam/vga)
Editor : Vega Dwi AristaSumber : radar surabaya