Belajar Langsung Pakai Mikroskop, Siswa Surabaya Temukan Mikroplastik

Rahmat Sudrajat • Dipublikasikan Senin, 14 September 2026 | 18:19 WIB
Para siswa mengamati partikel mikroplastik melalui mikroskop. (Rahmat Sudrajat)
Para siswa mengamati partikel mikroplastik melalui mikroskop. (Rahmat Sudrajat)

RADAR SURABAYA – Ancaman mikroplastik ternyata tidak jauh dari kehidupan sehari-hari. Hal itu disadari siswa SMPN 25 Surabaya setelah mereka melakukan pengamatan

langsung menggunakan mikroskop dalam kegiatan edukasi lingkungan bertajuk Microplastic Journey bersama Ecoton.

Dalam kegiatan tersebut, para siswa tidak hanya menerima materi secara teori. Mereka juga melakukan pengujian terhadap sejumlah sampel untuk melihat keberadaan partikel mikroplastik di lingkungan sekitar.

Hasilnya cukup mengejutkan. Mikroplastik ditemukan pada sampel air keran, udara di lingkungan sekolah, hingga permukaan tangan dan wajah siswa.

Kegiatan tersebut diikuti perwakilan kelompok kerja SDGs, tim lingkungan hidup, pengurus OSIS, serta siswa perwakilan kelas.

Melalui pengamatan menggunakan mikroskop, siswa diajak memahami bahwa pencemaran mikroplastik tidak hanya terjadi di laut atau sungai, tetapi juga dapat ditemukan di lingkungan sehari-hari.

Baca Juga: 59.990 SR Jargas Surabaya-Gresik, PGN Gencarkan Edukasi Gas Bumi

Salah seorang siswa kelas VIII, Bela, mengaku mendapatkan wawasan baru dari kegiatan tersebut.

 Salah satu hal yang menarik perhatiannya adalah kaitan antara sinar ultraviolet (UV) dan proses terbentuknya mikroplastik.

“Ternyata sinar UV itu juga ada kaitannya dengan mikroplastik,” ujar Bela, Senin (14/9).

Para siswa mempelajari bahwa paparan sinar matahari dalam waktu lama dapat menyebabkan plastik mengalami pelapukan dan terpecah menjadi partikel berukuran sangat kecil. Partikel tersebut kemudian dapat tersebar ke berbagai lingkungan.

Temukan Puluhan Partikel Mikroplastik

Pengujian yang dilakukan para siswa menunjukkan adanya mikroplastik pada sejumlah sampel.

Dari sampel air keran di area aula sekolah, misalnya, ditemukan 45 partikel mikroplastik yang terdiri atas 15 serat halus dan 30 pecahan plastik.

Pengujian terhadap udara di dalam ruangan juga menemukan sejumlah partikel. Hasilnya terdiri atas empat pecahan, 16 butiran, 12 serat, dan dua lembaran tipis plastik.

Sementara itu, pada sampel udara luar ruangan ditemukan sembilan serat, 18 pecahan, dan dua filamen plastik.

Pengambilan sampel dari permukaan tangan dan wajah siswa juga menunjukkan adanya puluhan partikel mikroplastik yang menempel.

Temuan tersebut memberikan pengalaman langsung kepada siswa mengenai keberadaan pencemaran plastik yang berada sangat dekat dengan kehidupan manusia.

Siswa kelas VIII C SMPN 25 Surabaya, Pradita Alzam, menilai kegiatan tersebut bermanfaat untuk memperluas pemahaman siswa mengenai dampak penggunaan plastik dan keberadaan mikroplastik.

Menurut dia, sekolah juga telah menjalankan berbagai kegiatan untuk mengurangi sampah plastik melalui program rutin setiap Jumat yang dikoordinasikan tim lingkungan hidup.

“Ini sangat bermanfaat karena menyosialisasikan bahaya penggunaan plastik dan mikroplastik.

Aksi yang sudah sekolah kami lakukan untuk pencegahan plastik yaitu mengadakan program kerja bernama GPBLHS yang diadakan setiap Jumat.

Kegiatan ini bertujuan memberikan pengetahuan mengenai pemilahan sampah dan memberitahukan cara meminimalkan plastik dalam kehidupan sehari-hari,” jelas Pradita.

SMPN 25 Surabaya Perkuat Edukasi Lingkungan

Kepala SMPN 25 Surabaya Husaini Efendi menyambut baik kolaborasi dengan Ecoton. Sebagai sekolah berstatus Adiwiyata, isu lingkungan dan upaya mengurangi sampah plastik menjadi salah satu perhatian dalam kegiatan pendidikan di sekolah.

Baca Juga: Turnamen Bahlil Minisoccer Zona Bojonegoro Resmi Dibuka, Tiga Kabupaten Kirim Wakil ke Semifinal

“SMPN 25 merupakan salah satu sekolah yang pertama kali mendapatkan ilmu dari Ecoton. SMPN 25 termasuk sekolah Adiwiyata yang selalu mengangkat isu penggunaan plastik.

Hal ini sangat penting untuk diketahui bersama agar visi sekolah Adiwiyata, salah satunya berkaitan dengan kebersihan lingkungan dan meminimalkan penggunaan plastik, bisa terwujud dan dipraktikkan baik di lingkungan sekolah maupun di rumah,” ujar Husaini.

Guru pendamping, Sri Wahyuni, berharap kegiatan tersebut menjadi titik awal bagi siswa untuk berani melakukan penelitian sederhana terhadap persoalan lingkungan di sekitar mereka.

“Kolaborasi dengan Ecoton ini menjadi wadah bagi siswa-siswi untuk mengembangkan penelitian mengenai plastik.

SMPN 25 merupakan salah satu sekolah Adiwiyata, sehingga tentunya sangat relevan dengan Ecoton yang membawakan penjelasan terkait mikroplastik. Harapannya, siswa bisa mendapatkan banyak manfaat dari kegiatan Microplastic Journey ini,” tutur Sri.

Melalui kegiatan tersebut, siswa diharapkan tidak hanya menjadi penerima pengetahuan, tetapi juga mampu menjadi pelopor perubahan kebiasaan di lingkungan sekitar.

Upaya tersebut dapat dilakukan dengan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, memilah sampah, serta menjaga kebersihan lingkungan.

Kesadaran sejak dini dinilai penting agar generasi muda semakin memahami hubungan antara kelestarian lingkungan dan kualitas kehidupan manusia.(rmt) 

 

 

Editor : Rahmat Adhy Kurniawan
SMPN 25 Surabaya Sekolah Adiwiyata ecoton mikroplastik