RADAR SURABAYA - Pemasangan alat pemantauan khusus guna memantau aktivitas patahan yang melintasi wilayah kota akan segera dilakukan. Langkah ini merupakan bagian dari upaya memperkuat mitigasi serta kesiapsiagaan menghadapi potensi bahaya gempa bumi.
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menjelaskan, pembahasan teknis terkait kebutuhan hingga penentuan lokasi pemasangan alat tersebut masih berjalan terus.
“Kita sudah koordinasikan dengan teman‑teman ITS terkait alat sensor ini,” ujar Eri, Senin (14/9).
Ia menegaskan, keberadaan patahan di wilayah Surabaya bukanlah hal baru. Wilayah ini diketahui dilintasi dua segmen utama, yaitu Sesar Surabaya dan Sesar Waru, yang merupakan bagian dari sistem patahan besar yang membentang sepanjang Pulau Jawa.
Baca Juga: Modus Kerja Sama, Pria Asal Sidoarjo Tiga Kali Gelapkan Motor Teman di Surabaya
“Dari dulu sesar itu sudah ada ya. Ada Sesar Waru sama Sesar Surabaya. Ada yang melewati beberapa wilayah. Karena itu, kemarin saya minta Kepala BPBD melakukan sosialisasi,” tuturnya.
Selain pemantauan teknis, Pemkot juga menekankan pentingnya kesiapan warga. Sosialisasi terus digalakkan agar masyarakat paham apa yang harus dilakukan, ke mana harus berlindung, dan jalur evakuasi mana yang harus diambil jika sewaktu‑waktu terjadi gempa.
“Nudzubillah min dzalik, kalau ada kejadian, maka evakuasinya seperti apa? Lari di mana? Itu sudah dilakukan Kepala BPBD. Karena memang Surabaya dilewati sesar dua itu, Sesar Surabaya dan Sesar Waru,” katanya.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Surabaya Irvan Widyanto mengimbau masyarakat agar tidak panik. Keberadaan jalur patahan tidak serta‑merta berarti gempa akan terjadi dalam waktu dekat.
“Bukan berarti adanya sesar tersebut bakal terjadi gempa sekarang atau sebentar lagi. Tapi, masyarakat tetap penting untuk mengetahui risikonya,” kata Irvan.
Baca Juga: Bus Surat Tertua di Surabaya Sejak 1905 Masih Lestari di Kebonrojo
Ia menjelaskan, jalur patahan ini merupakan bagian dari Patahan Kendeng yang membentang panjang dari barat hingga timur Jawa. Di wilayah Surabaya terbagi menjadi dua segmen. Kesadaran akan risiko harus dibangun sejak dini, tapi tetap dengan sikap tenang dan berbekal pengetahuan yang benar.
“Kesadaran terhadap risiko bencana perlu dibangun mulai dari setiap individu,” imbuhnya.
BPBD terus bergerak melakukan edukasi ke berbagai tempat, mulai dari pemukiman padat, sekolah, hingga kawasan perkantoran, tanpa menunggu ada permintaan. Masyarakat juga diingatkan agar hanya mengambil informasi resmi dari BMKG maupun BPBD, agar tidak termakan berita yang belum jelas kebenarannya. (rmt)
Editor : Lambertus Hurek