El Nino Berlangsung hingga Februari 2027, Musim Hujan Mundur, Warga Surabaya Diminta Siaga

Rahmat Sudrajat • Dipublikasikan Kamis, 10 September 2026 | 14:12 WIB
MONITORING: Petugas BMKG saat memantau kondisi cuaca di Surabaya Raya. (IST)
MONITORING: Petugas BMKG saat memantau kondisi cuaca di Surabaya Raya. (IST)

 

 

RADAR SURABAYA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengumumkan fenomena El Nino masih berlangsung lama. Diprakirakan bertahan hingga Februari 2027. Dampaknya, wilayah Surabaya dan sekitarnya akan mengalami cuaca lebih kering, curah hujan lebih rendah, serta potensi awal musim hujan mundur dari waktu biasanya.

Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda Sidoarjo Taufiq Hermawan menjelaskan, El Nino adalah fenomena iklim alami berupa pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur, yang berimbas langsung pada pola hujan di wilayah Indonesia.

Baca Juga: Untag Surabaya Gandeng KONI Jatim, Buka Beasiswa, Studi Lanjut, dan Kewirausahaan Atlet

 “Secara umum, dampak El Niño adalah berkurangnya curah hujan di sebagian besar wilayah. Ketika curah hujan berkurang, sumber daya air seperti waduk, sungai maupun sumur juga dapat mengalami penurunan,” jelas Taufiq, Kamis (10/9).

 Musim kemarau kali ini berpotensi lebih kering dan lebih panjang dibanding tahun biasa. Risiko kekeringan, krisis air bersih, serta kebakaran hutan dan lahan menjadi lebih tinggi. Selain itu, awal musim hujan diprediksi datang terlambat.

 “Maka, mitigasi perlu diperkuat, terutama dalam pengelolaan sumber daya air dan kesiapsiagaan menghadapi kondisi kemarau,” ujarnya.

Khusus wilayah Surabaya, saat ini masih berada di puncak musim kemarau. Prakirawan BMKG Juanda, Siska Anggraeni, menyampaikan bahwa bulan September hingga November curah hujan tetap rendah, suhu siang hari terasa sangat terik, dan kelembapan udara menurun.

Minimnya tutupan awan membuat panas matahari terasa lebih kuat, terlebih di kawasan padat bangunan akibat efek pemanasan perkotaan.

“Pengaruh El Nino yang masih kuat ini kemungkinan akan memundurkan awal musim hujan. Jadi, curah hujan masih relatif rendah karena kondisi kemarau yang diperkuat oleh fenomena tersebut,” ujar Siska.

Baca Juga: Spesialis Pembobolan Sekolah Ditangkap di Kenjeran, Sasar SDN di Surabaya

Meski begitu, masyarakat tidak perlu panik. Kewaspadaan dapat dilakukan melalui langkah sederhana. Misalnya, menyesuaikan aktivitas saat cuaca sangat panas, mencukupi kebutuhan air, serta menjaga lingkungan dari sumber-sumber api.

 Prakirawan BMKG Juanda Andrie Wijaya menambahkan, risiko bencana berbeda-beda tiap kawasan Surabaya. Seperti di Surabaya Barat dan Selatan lebih banyak lahan hijau waspada kebakaran lahan dan permukiman.

Surabaya Utara dan Timur atau wilayah pesisir perlu memperhatikan potensi banjir rob dan angin kencang dan pusat Kota perlu waspada kekeringan, krisis air, serta angin kencang.

 “Yang perlu diwaspadai antara lain kekeringan meteorologis, krisis suplai air bersih, serta potensi kebakaran lahan dan permukiman,” tuturnya.

 Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Surabaya Irvan Widyanto menegaskan, bahaya utama di masa El Nino adalah risiko kebakaran yang meningkat tajam karena segala sesuatu menjadi lebih mudah terbakar.

 “Kita harus selalu waspada karena ketika paparan sinar matahari berlangsung terus-menerus, kekeringan dapat meningkat. Kondisi tersebut membuat bahan-bahan di sekitar menjadi lebih mudah terbakar,” kata Irvan.

 Ia melarang keras warga membakar sampah di lahan terbuka. Api yang kecil bisa meluas cepat di kondisi kering dan memakan permukiman. Warga juga disarankan untuk mengurangi aktivitas luar ruangan saat siang terik, penuhi kebutuhan cairan tubuh agar tidak dehidrasi, hemat dan bijak menggunakan air bersih, dan jaga lingkungan dari percikan api

 “Karena kondisi El Nino dapat berlangsung cukup panjang, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan. Hindari membakar sampah di lahan terbuka, kurangi aktivitas di luar ruangan saat siang hari, dan bijak menggunakan air bersih,” ujarnya.

 Di kawasan padat penduduk, tingkat kerawanan kebakaran sangat tinggi. “Antisipasi harus dimulai dari kesadaran masing-masing individu,” tegasnya. (rmt)

Editor : Lambertus Hurek
siaga el nino musim hujan kebakaran el nino kemarau panjang