Ribuan Ikan Mabuk di Sungai Jagir Surabaya Akibat Limbah Industri, Begini Penyebabnya

Rahmat Sudrajat • Dipublikasikan Senin, 7 September 2026 | 17:44 WIB

 Pengambilan sampel air Sungai Jagir Surabaya untuk mengetahui penyebab ribuan ikan mabuk. (IST)

Pengambilan sampel air Sungai Jagir Surabaya untuk mengetahui penyebab ribuan ikan mabuk. (IST)

 

RADAR SURABAYA - Fenomena ikan mabuk yang muncul di Sungai Jagir Wonokromo pada Minggu (6/9) malam memicu kekhawatiran warga. Hingga Senin (7/9) siang, masih terlihat sejumlah ikan mengapung di aliran sungai tersebut.

Koordinator Riset Ecoton Alaika Rahmatullah menjelaskan, hasil uji awal menunjukkan kandungan fosfat mencapai 0,6 mg/L. Jauh melampaui baku mutu yang hanya 0,2 mg/L. Oksigen terlarut tercatat rendah, yaitu 2,5 mg/L.

Pihaknya menduga tingginya kadar fosfat berasal dari buangan limbah industri maupun domestik, yang diperparah dengan menurunnya debit air sungai.

Baca Juga: Dana Pilgub Jawa Timur Rp 600 Miliar Disiapkan Bertahap, Ini Alasannya

 “Akumulasi limbah memicu kandungan fosfat tinggi. Dampaknya bisa blooming alga yang kemudian menurunkan kadar oksigen terlarut dalam air,” jelas Alaika.

 Kadar oksigen yang rendah inilah yang diduga menyebabkan ikan kesulitan bernapas, mengapung, hingga mati. Alaika memperingatkan, jika debit air terus menurun dan tidak ada pengenceran, dikhawatirkan jumlah ikan mati akan semakin banyak.

 Menyikapi hal itu, Perum Jasa Tirta I dan PDAM menutup pintu air, termasuk di Kalimas dan Kalijargir, untuk sementara waktu guna mengendalikan kualitas air.

 Alaika mengimbau masyarakat tidak mengambil dan mengonsumsi ikan yang ditemukan mati atau mengapung di sungai. Pasalnya, polutan yang tertelan ikan dapat berpindah ke manusia melalui mekanisme biomagnifikasi.

 “Kadar polutan yang tertelan ikan bisa berpindah ke manusia melalui mekanisme biomagnifikasi. Ketika polutan melebihi baku mutu dan dikonsumsi bisa berdampak buruk bagi kesehatan,” tegasnya.

 Baca Juga: Empat Daerah Kirim Wakil ke Perempat Final, Bahlil Mini Soccer Zona 3 Tulungagung Berlangsung Seru

Jenis ikan yang banyak ditemukan mengapung antara lain ikan bader, bader putih, hampala, dan ikan keting. Ikan keting paling banyak ditemukan karena hidup di dasar sungai yang langsung terpengaruh penumpukan polutan.

Alaika menyebut uji yang dilakukan saat ini baru berupa identifikasi awal. Pihaknya merekomendasikan pengujian lanjutan untuk mengukur parameter lain seperti BOD dan COD guna mengetahui secara pasti jenis dan tingkat pencemaran.

 Selanjutnya, tiga langkah diharapkan segera dilakukan. Yakni, normalisasi sungai dengan membersihkan sedimen dan polutan yang menumpuk di dasar sungai.

Kemudian restocking atau mengembalikan populasi ikan agar keseimbangan ekosistem pulih dan pengelolaan limbah industri wajib memiliki IPAL. Ketiga, kawasan permukiman perlu IPAL komunal agar limbah tidak langsung dibuang ke sungai.

 “Dampak jangka panjangnya bisa memicu kepunahan ikan. Kalau ikan punah, ekosistem sungai tidak akan stabil kembali,” tuturnya.

 Terkait pasokan air bersih, Alaika juga mengingatkan bahwa kualitas air sungai sangat berpengaruh terhadap air baku PDAM. “Sungai ini termasuk baku mutu Kelas II untuk mandi dan mencuci, bukan untuk dikonsumsi langsung. Jika sumber air baku tercemar, tentu akan mempengaruhi kualitas air yang didistribusikan ke masyarakat,” pungkasnya. (rmt)

Editor : Lambertus Hurek
ikan mabuk baku mutu ikan mati lemas ecoton Sungai Jagir