Era AI, Kurikulum Pendidikan Diminta Fokus pada Berpikir Kritis dan Kreativitas

Rahmat Sudrajat • Dipublikasikan Selasa, 1 September 2026 | 19:55 WIB
Focus group discussion (FGD) bertajuk Pendidikan di Era Digital, AI, dan Geopolitik yang digelar Universitas Negeri Surabaya (Unesa). (Humas)
Focus group discussion (FGD) bertajuk Pendidikan di Era Digital, AI, dan Geopolitik yang digelar Universitas Negeri Surabaya (Unesa). (Humas)

RADAR SURABAYA – Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mendorong perguruan tinggi melakukan perubahan dalam sistem pendidikan.

Kurikulum di era AI dinilai tidak lagi cukup berorientasi pada kemampuan menghafal, tetapi harus memperkuat keterampilan berpikir kritis, kreativitas, analisis, dan adaptasi.

Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam focus group discussion (FGD) bertajuk Pendidikan di Era Digital, AI, dan Geopolitik yang digelar Universitas Negeri Surabaya (Unesa).

Forum tersebut mempertemukan sejumlah pemangku kepentingan dari perguruan tinggi, pemerintah, dan lembaga terkait untuk membahas arah pendidikan dan riset di tengah pesatnya perkembangan teknologi serta dinamika global.

Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria, mengatakan perkembangan AI telah mengubah lanskap pendidikan sekaligus persaingan global.

Baca Juga: Komisi B Dorong Penguatan Anggaran untuk Sektor Penggerak Ekonomi Jatim

Karena itu, Indonesia perlu memperkuat talenta, riset, dan inovasi agar tidak hanya menjadi pengguna atau konsumen teknologi.

“Kolaborasi antara pendidikan, inovasi, dan investasi dinilai mampu menghasilkan teknologi yang memberikan dampak ekonomi serta sosial bagi masyarakat,” ujarnya, Senin (31/8).

Kurikulum Harus Adaptif di Era AI

Rektor Unesa, Nurhasan, menyatakan FGD tersebut diarahkan untuk merumuskan tema-tema strategis yang dapat menjadi acuan pengembangan penelitian ilmiah yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

“Langkah ini dilakukan untuk merumuskan arah pengembangan pendidikan tinggi yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat serta memperkuat daya saing sumber daya manusia Indonesia,” jelasnya.

Menurutnya, transformasi pendidikan tidak hanya berkaitan dengan pemanfaatan teknologi AI.

Perguruan tinggi juga memiliki peran penting dalam menjawab persoalan pembangunan, memperkuat tata kelola, serta menjaga integritas ekosistem pendidikan tinggi.

Wakil Ketua Umum I PSSI, Zainudin Amali, menilai perubahan pola pekerjaan akibat perkembangan teknologi membuat lembaga pendidikan harus menyiapkan kurikulum yang lebih adaptif.

Baca Juga: Tim Asal Kabupaten Malang Amankan Slot di Babak Grand Champion

Literasi digital dan AI juga perlu diperkuat secara merata. Hal tersebut penting agar lulusan perguruan tinggi memiliki kemampuan yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja yang terus berubah.

“Lembaga pendidikan perlu memperkuat kurikulum yang adaptif serta membangun literasi digital dan AI secara merata agar mampu melahirkan generasi yang siap menghadapi perubahan,” katanya.

Zainudin menambahkan, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, analisis, dan adaptasi akan semakin penting ketika teknologi mulai mengambil alih sebagian pekerjaan yang sebelumnya dilakukan manusia.

AI Buka Peluang Pembelajaran Personal

Sementara itu, Ketua Majelis Wali Amanat Universitas Diponegoro, Mohamad Nasir, menyebut integrasi AI dalam pembelajaran dapat membuka peluang untuk meningkatkan kualitas pendidikan.

Sejumlah pendekatan pembelajaran berbasis teknologi dapat dikembangkan, antara lain personalized learning, massive open online courses (MOOCs), dan learning analytics.

Namun, pemanfaatan AI di lingkungan pendidikan tinggi tetap perlu disertai perhatian terhadap integritas akademik dan privasi.

Perguruan tinggi juga harus memastikan perkembangan teknologi tidak semakin memperlebar kesenjangan digital.

Di sisi lain, Deputi Bidang Koordinasi Pemberdayaan Masyarakat Desa, Abdul Haris, mendorong pemerintah dan perguruan tinggi memperkuat kolaborasi untuk mengatasi berbagai persoalan sosial.

Kolaborasi tersebut dapat diarahkan pada program pemberdayaan masyarakat, khususnya dalam menghadapi persoalan kemiskinan, pengangguran, dan ketimpangan antarwilayah.

Ketua Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI), Eduart Wolok, turut memaparkan Program Penguatan Integritas Ekosistem Perguruan Tinggi Negeri (PIEPTN).

Program tersebut mencakup penguatan asesmen mandiri dan pengendalian risiko di sejumlah bidang, mulai dari publikasi penelitian, pengadaan barang dan jasa, pengelolaan keuangan, hingga seleksi mandiri.

Dengan semakin pesatnya perkembangan AI, perguruan tinggi dituntut tidak hanya menghasilkan lulusan yang mampu menggunakan teknologi.

Pendidikan juga harus membentuk sumber daya manusia yang mampu berpikir kritis, kreatif, adaptif, dan menghasilkan inovasi untuk menjawab kebutuhan masyarakat.(rmt) 

 

Editor : Rahmat Adhy Kurniawan
Kurikulum Era AI Pendidikan di Era AI Universitas Negeri Surabaya