Cegah Hepatitis B Menular ke Bayi, Perlindungan Ganda HB0 dan HBIG Jadi Kunci

Rahmat Sudrajat • Dipublikasikan Rabu, 26 Agustus 2026 | 22:14 WIB
Vaksin hepatitis menjadi salah satu bentuk perlindungan untuk mencegah penularan virus hepatitis, termasuk penularan dari ibu kepada bayi. (Rahmat Sudrajat/Radar Surabaya)
Vaksin hepatitis menjadi salah satu bentuk perlindungan untuk mencegah penularan virus hepatitis, termasuk penularan dari ibu kepada bayi. (Rahmat Sudrajat/Radar Surabaya)

RADAR SURABAYA – Indonesia terus memperkuat upaya mencapai target Zero Hepatitis 2030.

Salah satu kunci penting dalam mewujudkan target tersebut adalah memutus rantai penularan hepatitis B dari ibu kepada anak sejak masa kehamilan hingga persalinan.

Pakar Kesehatan Ibu dan Anak, Dr. Dewi Setyowati, S.Keb., Bd., M.Ked.Trop., menegaskan bahwa pencegahan penularan hepatitis B dari ibu kepada bayi harus dilakukan secara menyeluruh.

Mulai dari pemeriksaan kesehatan sebelum kehamilan, deteksi dini pada ibu hamil, hingga pemberian perlindungan ganda kepada bayi yang lahir dari ibu dengan hepatitis B.

Menurut Dewi, berbagai terobosan medis dan fasilitas pemeriksaan gratis yang telah disediakan pemerintah tidak akan berjalan optimal tanpa peningkatan literasi kesehatan serta penghapusan stigma terhadap penderita hepatitis B.

Triple Eliminasi Jadi Langkah Awal Pencegahan

Dewi menjelaskan, upaya pencegahan telah dimulai sejak masa prakehamilan melalui program Triple Eliminasi.

Baca Juga: Krisis Ekologis Kian Mengancam, AIPI, UKWMS, dan BPIP Soroti Pentingnya Adab terhadap Alam

Program ini menyediakan pemeriksaan untuk mendeteksi hepatitis B, HIV, dan sifilis bagi calon pengantin maupun ibu hamil di puskesmas.

Apabila seorang calon ibu atau ibu hamil diketahui positif hepatitis B, fasilitas kesehatan akan segera melakukan tindak lanjut dan koordinasi dengan dinas kesehatan serta rumah sakit rujukan.

“Program wajib ini memastikan bahwa jika calon ibu dinyatakan positif, puskesmas akan langsung berkoordinasi dengan dinas kesehatan dan rumah sakit rujukan untuk menyiapkan langkah perlindungan lanjutan bagi sang bayi,” terangnya, Rabu (26/8).

Deteksi dini menjadi bagian penting dalam mencegah penularan virus dari ibu kepada anak.

Dengan mengetahui status kesehatan ibu sejak awal, tenaga medis dapat menyiapkan langkah perlindungan yang tepat ketika bayi dilahirkan.

Bayi Mendapat Perlindungan Ganda HB0 dan HBIG

Saat persalinan, bayi yang lahir dari ibu dengan status hepatitis B positif mendapatkan perlindungan khusus.

Selain memperoleh imunisasi hepatitis B dosis lahir atau HB0, bayi juga diberikan Hepatitis B Immunoglobulin (HBIG).

“Selain imunisasi dasar hepatitis B dosis lahir atau HB0 yang diberikan pada usia 0–7 hari, bayi juga langsung memperoleh suntikan tambahan berupa Hepatitis B Immunoglobulin atau HBIG,” jelas Dewi.

Baca Juga: Dorong Pemerataan Ekonomi Daerah, BRI dan Pemprov Maluku Utara Perkuat UMKM dan Potensi Desa

Perlindungan ganda tersebut dinilai sangat penting karena infeksi hepatitis B belum memiliki pengobatan yang dapat menyembuhkan secara total.

Penanganan medis yang tersedia pada dasarnya bertujuan mengendalikan dan menekan replikasi virus.

Menurut Dewi, pemberian HBIG membantu memberikan perlindungan tambahan kepada bayi agar sistem imun dapat lebih cepat merespons paparan virus hepatitis B.

“Perlindungan ganda ini menjadi langkah krusial agar mata rantai penularan dari ibu ke bayi benar-benar terputus, sehingga generasi berikutnya memiliki kualitas hidup yang optimal,” ujar dosen Program Studi Kebidanan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK UNAIR) tersebut.

Literasi Hepatitis B Masih Rendah

Meski layanan pemeriksaan dan pencegahan tersedia secara gratis, pemahaman masyarakat mengenai hepatitis B masih menjadi tantangan.

Dewi mengatakan, banyak orang baru mengetahui dirinya terinfeksi setelah muncul gejala seperti penyakit kuning.

Padahal, pada tahap awal, hepatitis B dapat berlangsung tanpa gejala atau asimptomatis.

“Banyak orang baru menyadari adanya infeksi ketika sudah muncul gejala penyakit kuning. Padahal, pada fase awal, virus kerap bersifat tanpa gejala atau asimptomatis dan sesungguhnya empat kali lebih infeksius dibandingkan HIV,” paparnya.

Rendahnya pengetahuan masyarakat membuat upaya deteksi dini dan pencegahan belum berjalan maksimal.

Karena itu, edukasi mengenai cara penularan, pemeriksaan kesehatan, serta pentingnya imunisasi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari strategi eliminasi hepatitis B.

Stigma Sosial Jadi Tantangan Pencegahan Hepatitis B

Selain persoalan literasi, stigma sosial terhadap penderita hepatitis B juga masih menjadi hambatan besar.

Ketidaktahuan mengenai mekanisme penularan sering kali membuat penderita menghadapi pengucilan.

Dalam beberapa kasus, tekanan dari lingkungan keluarga bahkan dapat memengaruhi keputusan seseorang untuk menjalani pemeriksaan maupun vaksinasi.

Dewi menilai, penanganan hepatitis B tidak cukup hanya mengandalkan tenaga kesehatan dan fasilitas medis.

Dukungan lingkungan sosial juga menjadi faktor penting dalam keberhasilan pencegahan.

“Stigma sosial sering kali lebih menyakitkan daripada penyakitnya itu sendiri. Oleh karena itu, pendekatan pencegahan tidak bisa berdiri sendiri, melainkan harus melibatkan tokoh masyarakat dan tokoh agama yang didengar oleh warga,” pungkasnya. (rmt)

 

Editor : Rahmat Adhy Kurniawan
hepatitis b HBIG Vaksin HB0 Kesehatan Ibu dan Anak Zero Hepatitis 2030