Pemkot Surabaya Kebut 100 Lebih Proyek Drainase Sebelum Hujan Deras  

Dimas Mahendra • Dipublikasikan Rabu, 26 Agustus 2026 | 13:33 WIB
Proyek drainase di Surabaya dipercepat untuk antisipasi musim hujan pada akhir 2026. FOTO: IST
Proyek drainase di Surabaya dipercepat untuk antisipasi musim hujan pada akhir 2026. FOTO: IST

 

RADAR SURABAYA – Pemkot Surabaya tengah berpacu dengan waktu untuk menuntaskan proyek pengendalian banjir sebelum intensitas hujan meningkat. Lebih dari 100 titik pekerjaan drainase kini dikebut di berbagai wilayah Kota Pahlawan, dengan target sebagian besar pengerjaan rampung pada Oktober 2026.

 Selain saluran air, pembangunan sejumlah rumah pompa juga menjadi bagian dari proyek yang ditargetkan selesai paling lambat November mendatang.

 Baca Juga: Momen Haru Khofifah di Maulid Nabi, Minta Doa untuk Almarhum Suami dan Ayah Emil Dardak

Kepala Bidang Drainase DSDABM Kota Surabaya Adi Gunita mengatakan, pihaknya justru mendorong pekerjaan saluran selesai pada Oktober agar infrastruktur tersebut sudah dapat berfungsi ketika musim penghujan tiba.

 “Saluran kita usahakan Oktober selesai sehingga kita juga siap untuk menghadapi musim penghujan. Selain pemasangan box culvert, kita juga ada pembangunan rumah pompa yang targetnya Oktober hingga November sudah rampung semua,” kata Adi, Rabu (26/8/2026).

 Menurut Adi, pekerjaan tersebut tersebar mulai kawasan Surabaya Selatan, Timur hingga Barat. Pembangunan tidak hanya menyasar satu titik genangan, tetapi diarahkan untuk membangun konektivitas antarsaluran sehingga aliran air tidak berhenti di satu kawasan.

Konsep tersebut menjadi penting karena penanganan banjir tidak cukup hanya dengan memperbesar satu saluran. Pemkot juga menyiapkan ruang tampungan atau storage sebelum air dialirkan menuju laut.

 Baca Juga: Epson Catat Sejarah, Penjualan Printer EcoTank Tembus 100 Juta Unit Global, Indonesia Jadi Pelopor

“Sebelum air masuk ke laut, ada storage untuk menampung air terlebih dahulu agar tidak membanjiri wilayah permukiman. Kami tingkatkan kapasitasnya supaya saat hujan deras turun, aliran air sudah terarah,” jelasnya.

 Adi menjelaskan, pembangunan drainase saat ini diarahkan berdasarkan cetak biru penataan sistem drainase kota. Artinya, proyek tidak hanya berorientasi menghilangkan genangan di satu lokasi, tetapi menghubungkan sistem saluran dari hulu hingga hilir. 

Dengan konektivitas tersebut, air hujan diharapkan dapat mengalir lebih cepat dan memiliki ruang tampung yang cukup sebelum diteruskan ke saluran utama maupun laut.

 Percepatan pembangunan ini juga menjadi respons terhadap kondisi cuaca yang semakin sulit diprediksi akibat anomali iklim. Karena itu, Pemkot Surabaya ingin memastikan kapasitas sistem drainase telah siap sebelum hujan dengan intensitas tinggi kembali mengguyur kota.

 Namun, percepatan proyek tersebut di sisi lain berdampak langsung terhadap aktivitas warga. Penggalian saluran di lebih dari 100 lokasi membuat sejumlah ruas jalan dan kawasan permukiman mengalami gangguan akses maupun kenyamanan.

 Adi meminta masyarakat memahami kondisi tersebut sebagai konsekuensi sementara dari pembangunan infrastruktur pengendalian banjir.

 “Proyek saluran ini memang mengganggu kenyamanan pengguna jalan dan masyarakat sekitar. Namun, tujuan akhirnya kembali lagi untuk kepentingan masyarakat,” ujarnya. (*)

Editor : Lambertus Hurek
anomali iklim musim hujan Pengendalian Banjir proyek drainase rumah pompa