Dari Peneleh hingga Girilaya: Hilangnya Tradisi Topeng dan Cowekan Maulid Nabi di Surabaya

Rahmat Sudrajat • Dipublikasikan Rabu, 26 Agustus 2026 | 06:08 WIB
Topeng Muludan yang eksis tahun 70-90an kini tinggal kenangan. Dulu banyak pedagang topeng tersebut menjelang perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. Foto: ISTIMEWA
Topeng Muludan yang eksis tahun 70-90an kini tinggal kenangan. Dulu banyak pedagang topeng tersebut menjelang perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. Foto: ISTIMEWA

 

RADAR SURABAYA - Dulu, menjelang peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Jalan Peneleh Surabaya selalu ramai dipenuhi pedagang topeng kertas. Anak-anak berkerumun memilih beragam bentuk topeng, mulai dari kepala macan, singa, astronot, hingga Batman.

Kini, kemeriahan itu perlahan lenyap, menyisakan kenangan belaka. Tradisi topeng Muludan yang pernah menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Surabaya kini nyaris hilang ditelan zaman.

 Baca Juga: Bruno Fernandes Raih Penghargaan PFA Player of the Year, Cetak Rekor Assist Premier League

Pengiat sejarah Surabaya, Nanang Purwono, mengungkapkan bahwa pada era 1970-an hingga 1990-an, Jalan Peneleh yang sejajar dengan Sungai Kalimas selalu berubah menjadi pusat keramaian penjual topeng menjelang Maulid Nabi.

“Muludan adalah sebuah tradisi budaya yang sudah lama ada di Surabaya. Namun seiring perkembangan zaman, tradisi yang biasanya dilakukan untuk menyambut Maulid Nabi ini berangsur hilang, termasuk hilangnya para penjual topeng Muludan,” ujar Nanang. 

Topeng Muludan bukan sekadar mainan. Tradisi ini berupa penggunaan dan pembuatan topeng kertas yang menjadi media penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW, seringkali diramaikan dengan festival atau karnaval yang melibatkan masyarakat dari berbagai kalangan.

Tak hanya topeng, tradisi Cowekan Muludan juga menjadi bagian tak terpisahkan. Warga saling menukar makanan yang dikemas dalam wadah cobek disebut cowek berisi aneka hidangan hingga buah-buahan.

 Baca Juga: Suara Emas Petra Children Choir Menggema di Malaysia, Bawa Pulang Prestasi Internasional

“Kemeriahan peringatan Maulid Nabi ini tergambarkan pada aneka isian cobek mulai dari makanan hingga buah-buahan,” jelasnya.

Nanang menegaskan bahwa hilangnya pedagang topeng di Jalan Peneleh juga tercermin di tempat lain, seperti di Jalan Girilaya. Pergeseran ini terjadi seiring dominasi permainan dan hiburan modern yang semakin diminati generasi muda. Meski demikian, ia mengingatkan agar esensi peringatan Maulid Nabi tidak ikut hilang.

“Memang permainan modern pada saat ini telah mengambil alih permainan tradisional. Tapi nilai dan esensinya jangan turut hilang. Nilai-nilai itu harus tetap ada di hati sampai mati,” pungkasnya. (rmt)

Editor : Lambertus Hurek
tradisi muludan topeng Muludan peneleh maulid nabi girilaya