RADAR SURABAYA - Dentang prestasi itu akhirnya sampai di tanah air. Setelah menempuh perjalanan sekitar dua jam dari Malaysia, pesawat Malaysia Airlines dengan nomor penerbangan MH 875 mendarat di Bandara Juanda Terminal 2, Senin (24/8) tepat pukul 17.20 WIB. Di balik pintu kedatangan, para kepala sekolah beserta jajaran eksekutif PPPK Petra, orang tua, dan keluarga telah menanti dengan senyum dan kebanggaan.
Yang mereka sambut bukan sekadar kepulangan anak-anak dari luar negeri. Mereka adalah para anggota Petra Children Choir (PCC) yang baru saja menorehkan prestasi membanggakan di panggung internasional.
Membawa nama Perhimpunan Pendidikan dan Pengajaran Kristen (PPPK) Petra, PCC tampil dalam Malaysian Choral Eisteddfod (MCE) yang digelar pada 19–23 Agustus 2026. Dalam kompetisi tersebut, PCC mengikuti kategori A2: Children Choir dan berhasil meraih Gold Award dengan skor 88,28, sekaligus sebagai Winner dalam kategori A2: Children Choir. Pencapaian tersebut membawa PCC menjadi salah satu finalis Grand Prix dan bertemu dengan para juara di kategori yang lain.
Baca Juga: PPPK Petra Hadirkan Sekolah Baru di Royal Residence, Tonggak Menuju Satu Abad Pendidikan Berkualitas
Tahun ini, rangkaian kegiatan MCE digelar di tiga venue utama di Kuala Lumpur, yakni Dewan Filharmonik Petronas (DFP) sebagai lokasi babak utama Grand Prix dan konser puncak, The Kuala Lumpur Performing Arts Centre (KLPAC) yang menjadi tempat pelaksanaan berbagai sesi kompetisi dan pertunjukan publik, serta Menara KEN TTDI sebagai lokasi rangkaian kompetisi, lokakarya, dan simposium.
Prestasi itu terasa semakin istimewa karena kompetisi tersebut mempertemukan peserta dari berbagai negara, antara lain Malaysia, Indonesia, Filipina, Thailand, Rusia, Singapura, dan masih banyak lagi.
Penampilan di atas panggung yang hanya berlangsung sekitar 10 menit, anak-anak PCC mempertaruhkan hasil latihan berbulan-bulan. Bagi mereka, sepuluh menit itu bukan waktu yang singkat. Di dalamnya terdapat ratusan, bahkan hampir seribu jam latihan yang telah dicurahkan sejak persiapan dimulai sekitar Maret 2026.
Dengan balutan busana putih dan sentuhan ornamen turquoise yang anggun, para anggota Petra Children Choir tampil dengan maksimal dan penuh percaya diri. Senyum dan ekspresi bangga terpancar dalam kebersamaan mereka, terlebih lagi saat bertemu dengan tim paduan suara dari berbagai negara dan menjalin relasi pertemanan. Hal ini menjadi gambaran bahwa paduan suara mampu menyatukan kita (Singing Connect People).
Pendamping PCC, Guido Denta Christian Karthika yang akrab disapa Edo, menuturkan bahwa keberhasilan tersebut tidak lahir secara instan. “Persiapannya sekitar lima bulan. Kami tidak hanya mempersiapkan vokal dan materi lagu, tetapi juga mempersiapkan mental dan karakter anak-anak,” ungkapnya.
Menariknya, MCE menjadi pengalaman pertama PCC mengikuti festival paduan suara level internasional di luar negeri, meski sebelumnya pernah menjuarai event internasional Petra Cantare! Choral Festival di Surabaya tahun lalu. Alih-alih menjadi beban, pengalaman perdana berkompetisi di luar negeri tersebut justru menjadi pemantik semangat bagi seluruh anggota PCC di bawah arahan konduktor Raymond Johan Wahjoedi untuk memberikan penampilan terbaik.
Edo menuturkan, penyusunan repertoar dikerjakan bersama konduktor Raymond Johan dengan mempertimbangkan kompleksitas, intensitas, dan karakter yang kontras dalam memilih program yang akan dibawakan. Persiapan semakin dimatangkan melalui konser prakompetisi yang diadakan pada 1 Agustus lalu, serta sesi choral clinic yang diadakan pada 7 dan 10 Agustus.
Pada babak Preliminary, PCC membawakan “Night of Rainbows” karya Darius Lim dan “Garuda” karya Ken Steven, yang mengantarkan mereka menjadi juara di kategori A2: Children Choir. Sementara pada babak Grand Prix, PCC kembali membawakan “Garuda” dan mempersembahkan “For the Beauty of the Earth” karya John Rutter.
Pilihan repertoar tersebut bukan semata persoalan teknis bernyanyi. Setiap lagu membutuhkan interpretasi, karakter suara, penghayatan, hingga kemampuan seluruh anggota untuk melebur menjadi satu kesatuan.
"Hasilnya, suara anak-anak Petra mampu mendapatkan apresiasi tinggi dari dewan juri. Raihan Gold Award dengan skor 88,28 mengantarkan PCC menjadi juara kategori sekaligus tampil di babak Grand Prix," katanya penuh semangat.
Tidak berhenti di sana, pianist PCC, Sheryll Annelicia Irwanto dari SMA Kristen Petra 2, juga meraih penghargaan tambahan, yaitu Promising Young Collaborative Accompanist, sebuah penghargaan untuk mengapresiasi pengiring/pemusik muda yang tampil di panggung Malaysian Choral Eisteddfod.
Bagi Edo, pengalaman tersebut menjadi pembelajaran penting bagi semua anggota tim. Mereka tidak hanya belajar bagaimana bernyanyi dengan baik, tetapi juga belajar tentang disiplin, kerja sama, tanggung jawab, dan keberanian tampil di hadapan dunia.
Tidak hanya berkompetisi, Petra Children Choir (PCC) juga memperoleh kesempatan berharga untuk mengikuti Choral Clinic bersama Dr. Gene Peterson dari Amerika Serikat pada Kamis (20/8), serta Choral Workshop bersama Dr. Beverly Shangkuan dari Filipina pada Sabtu (22/8).
Baca Juga: PPPK Petra Gelar Latihan Bersama Shorinji Kempo Surabaya, Bangun Karakter dan Mental Kenshi
Pengalaman ini menjadi bagian penting dalam perjalanan PCC di MCE 2026, karena anak-anak tidak hanya mendapatkan pengalaman tampil di panggung internasional, tetapi juga memperkaya wawasan, teknik vokal, interpretasi musik, serta kemampuan bernyanyi dalam sebuah ansambel melalui bimbingan mentor berpengalaman di tingkat internasional.
Wakil Direktur Pendidikan PPPK Petra, Elisabeth Dian Pujilestari, S.Pd., M.M., mengatakan bahwa prestasi PCC sejalan dengan semangat pendidikan di lingkungan PPPK Petra yang mengedepankan konsep pendidikan holistik. Pendekatan menyeluruh tersebut diukur melalui Student Learning Outcomes (SLO), yang diwujudkan secara konkret melalui aspek-aspek P-E-T-R-A (Physical Growth, Emotional Intelligence, Talent Development, Relationship with God, Academic Excellence).
Seperti yang disebutkan, salah satu aspek yang dikembangkan adalah Talent Development, yakni memberikan ruang kepada peserta didik untuk menemukan sekaligus mengembangkan talenta dan potensi yang mereka miliki.
Baca Juga: PPPK Petra Surabaya, Satukan Suara dalam Jingle All the Way Magical Christmas
“Talenta yang sudah ditemukan kemudian dikembangkan dan dioptimalkan agar dapat digunakan secara positif,” tuturnya.
Salah satu wadah pengembangan talenta tersebut adalah Petra Talent, yang di dalamnya terdapat Petra Children Choir. PCC menjadi ruang bagi peserta didik yang memiliki minat dan talenta di bidang seni suara, khususnya dalam format kelompok atau paduan suara.
Menurut Dian, PCC tidak hanya mengajarkan kemampuan bernyanyi secara individu. Lebih dari itu, anak-anak belajar bagaimana menyatukan suara, mendengarkan satu sama lain, menjaga harmoni, serta bertanggung jawab sebagai bagian dari sebuah tim.
“Keberhasilan PCC merupakan hasil kerja sama dan dukungan dari berbagai pihak, mulai dari sekolah, orang tua, pelatih, hingga tim pendamping,” katanya.
Karena itu, capaian di Malaysia tidak semata-mata menjadi milik para penyanyi muda tersebut. Prestasi itu menjadi gambaran bagaimana ekosistem pendidikan yang memberikan ruang bagi talenta dapat melahirkan pengalaman dan pencapaian yang lebih luas.
Ke depan, anak-anak PCC diharapkan terus mengasah kemampuan bernyanyi dan menggunakan talenta yang dimiliki sebagai saluran berkat bagi orang lain. Sekaligus menjadi inspirasi bagi peserta didik lainnya untuk berani menemukan dan mengembangkan potensi mereka.
Baca Juga: PPPK Petra Mantapkan Implementasi VCE, Siapkan Siswa Menuju Jalur Global
Sementara itu, bagi orang tua, pencapaian PCC di Malaysia juga menyimpan cerita tersendiri. Intan Lanova, orang tua Gifford, siswa SD Kristen Petra 10, mengaku keikutsertaan dalam kompetisi di Malaysia menjadi pengalaman pertama bagi anaknya mengikuti perlombaan di luar negeri sekaligus kompetisi bertaraf internasional.
Menurutnya, keberanian anak-anak untuk tampil di panggung internasional tidak terlepas dari dukungan para coach dan sekolah.
“Karena coach dan sekolah sangat mendukung dan memfasilitasi anak-anak, kami sebagai orang tua tentu memberikan dukungan,” ungkapnya.
Bagi orang tua, kesempatan tersebut bukan hanya tentang mengejar piala. Lebih jauh, anak-anak mendapatkan pengalaman untuk mengenal lingkungan baru, berkompetisi dengan peserta dari berbagai negara, serta belajar menghadapi tantangan bersama-sama.
Dukungan itu pula yang membuat para orang tua memberikan kepercayaan kepada anak-anak untuk menjalani proses panjang latihan hingga akhirnya tampil di Malaysia.
Kini, setelah kembali ke Surabaya dengan membawa predikat Winner Category A2: Children Choir, Gold Award dengan skor 88,28, pengalaman sebagai finalis Grand Prix, serta Promising Young Collaborative Accompanist, cerita perjalanan PCC belum selesai.
Medali dan penghargaan boleh menjadi tanda keberhasilan. Namun, yang jauh lebih berharga adalah proses panjang yang membentuk keberanian, disiplin, kekompakan, dan kepercayaan diri anak-anak. (ind/gun)
Editor : Guntur Irianto
Sumber : radar surabaya