RADAR SURABAYA – Fenomena sound horeg yang kerap hadir dalam berbagai perayaan, termasuk peringatan HUT Kemerdekaan RI setiap Agustus, menjadi salah satu hiburan yang menarik perhatian masyarakat.
Namun, di balik dentuman musik dan kemeriahan tersebut, terdapat risiko serius terhadap kesehatan, terutama organ pendengaran dan sistem keseimbangan tubuh.
Pakar Otologi dan Neurotologi, dr. Rosa Falerina, Sp.THT-BKL, Subsp.NO-K, mengingatkan bahwa paparan suara sound horeg dengan intensitas ekstrem dapat menyebabkan gangguan pendengaran permanen hingga vertigo.
Menurut dr. Rosa, intensitas suara sound horeg dapat mencapai lebih dari 120 desibel.
Tingkat kebisingan tersebut setara dengan suara mesin pesawat terbang dan sangat berbahaya apabila didengar dari jarak dekat atau dalam durasi yang terlalu lama.
Sound Horeg Bisa Merusak Koklea dan Sel Rambut Telinga
Paparan suara dengan intensitas tinggi berpotensi merusak koklea atau rumah siput di telinga bagian dalam.
Baca Juga: Pemprov Jatim dan Bank Jatim Salurkan Bantuan untuk Korban Bencana NTT
Organ tersebut memiliki sel-sel rambut yang berperan penting dalam meneruskan gelombang suara menuju otak.
“Suara yang sangat keras membuat sel rambut di dalam koklea bekerja ekstra hingga menjadi tidak bergerak atau stuck, bahkan bisa tumbang seperti hutan yang gundul.
Jika sel-sel rambut ini rusak dan gugur, suara tidak lagi memiliki jalan untuk sampai ke otak,” ujar dr. Rosa, Selasa (25/8).
Ia menjelaskan, telinga berdenging setelah mendengar suara keras merupakan salah satu tanda awal adanya gangguan pada sistem pendengaran.
“Denging itu merupakan sinyal awal bahwa sel rambut luar sedang terganggu. Jika paparannya singkat dan seseorang langsung menjauh, pendengaran masih bisa pulih.
Namun, jika terpapar dalam waktu lama dan denging menetap, gangguan pendengaran tersebut berisiko menjadi permanen,” jelasnya.
Baca Juga: Muludan di Cumpat Surabaya, Saat Uang Berhamburan dari Atas Rumah dan Unta Menyapa Kampung Nelayan
Dr. Rosa bahkan pernah menangani kasus seorang ibu dan anak yang mengalami penurunan pendengaran serta denging berkepanjangan meski sound horeg hanya melintas di depan rumah mereka.
Dentuman Sub-bass Berpotensi Memicu Vertigo
Bahaya sound horeg tidak hanya berkaitan dengan risiko tuli atau gangguan pendengaran.
Dentuman sub-bass dengan frekuensi rendah juga berpotensi mengganggu sistem keseimbangan tubuh dan memicu vertigo.
Hal itu terjadi karena organ pendengaran dan sistem keseimbangan berada berdekatan di telinga bagian dalam.
“Koklea bertetangga dengan sistem keseimbangan di telinga dalam. Dentuman yang sangat kuat tidak hanya mengguncang rumah siput, tetapi juga dapat mengganggu sistem keseimbangan sehingga memicu sensasi berputar atau vertigo,” ungkap dosen Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga tersebut.
Paparan Suara di Atas 120 Desibel Harus Dibatasi
Dr. Rosa mengingatkan, paparan suara dengan intensitas di atas 120 desibel hanya dapat ditoleransi dalam waktu yang sangat singkat.
Karena itu, masyarakat diimbau tidak berada terlalu lama dan terlalu dekat dengan sumber suara sound horeg.
Penggunaan sumbat telinga atau earplug juga belum tentu memberikan perlindungan sepenuhnya karena umumnya hanya mampu meredam suara sekitar 30 desibel.
“Apabila terpaksa berada di lokasi, idealnya penggunaan earplug dikombinasikan dengan earmuff,” imbuhnya.
Meski demikian, penggunaan alat pelindung telinga tidak sepenuhnya menghilangkan risiko.
Gelombang suara dengan intensitas ekstrem masih dapat masuk melalui hantaran tulang kepala.
Karena itu, menjaga jarak dari sumber suara menjadi langkah perlindungan yang paling penting.
“Cara paling efektif adalah menjaga jarak, membatasi durasi paparan, serta menjauhkan kelompok rentan seperti bayi, anak-anak, dan lansia dari lokasi sound horeg,” imbaunya.
Segera Periksa ke Dokter THT Jika Telinga Berdenging
Masyarakat yang mengalami telinga berdenging, penurunan kemampuan mendengar, atau gangguan keseimbangan setelah terpapar suara keras disarankan segera memeriksakan diri ke dokter spesialis telinga, hidung, dan tenggorokan (THT).
Menurut dr. Rosa, suara dengan intensitas ekstrem juga berisiko menyebabkan cedera yang lebih serius pada telinga.
“Suara ekstrem juga berisiko menyebabkan gendang telinga robek atau pecah,” pungkasnya.
Fenomena sound horeg memang menjadi bagian dari hiburan masyarakat di sejumlah daerah.
Namun, kemeriahan tetap perlu diimbangi dengan kesadaran terhadap bahaya kebisingan agar tidak menimbulkan dampak serius bagi kesehatan pendengaran, terutama risiko tuli permanen dan vertigo. (rmt)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan