RADAR SURABAYA – Tangan-tangan kecil terangkat ke udara. Mata anak-anak tak lepas menatap balkon rumah warga di Kampung Nelayan Cumpat, Kelurahan Kedung Cowek, Surabaya.
Sesekali terdengar teriakan riang ketika lembaran uang pecahan Rp500, Rp2.000, hingga Rp5.000 melayang dari atas rumah.
Angin pesisir seolah ikut membawa kegembiraan sore itu.
Anak-anak berlarian, sebagian tertawa sambil menggenggam uang yang berhasil mereka dapatkan.
Di tengah keramaian, orang dewasa turut menyaksikan tradisi yang telah menjadi bagian dari kehidupan warga Kampung Cumpat setiap peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW atau yang akrab disebut Muludan.
Bagi warga Cumpat, Muludan bukan sekadar agenda tahunan. Tradisi tersebut menjadi ruang untuk berbagi, mempererat hubungan antartetangga, sekaligus mengekspresikan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW.
Salah seorang warga, Olivia, menjadi bagian dari tradisi berbagi tersebut. Tahun ini, ia menyiapkan uang lebih dari Rp1 juta untuk dibagikan kepada warga dan anak-anak yang mengikuti perayaan.
Baca Juga: Dua Wanita Ditangkap Terkait Praktik Prostitusi Online lewat Aplikasi MiChat di Surabaya
Jumlah tersebut meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai sekitar Rp700.000.
“Yang pecahan Rp2.000 sekitar 500 lembar, sedangkan pecahan Rp5.000 sekitar Rp400.000. Kalau tahun kemarin sekitar Rp700.000, tahun ini sekitar Rp1 juta lebih,” kata Olivia, Selasa (25/8).
Namun, ada cara unik yang dipilih warga dalam membagikan uang tersebut. Bukan dengan membagikannya satu per satu dari tangan ke tangan, melainkan melemparkannya dari atas rumah. Cara itu dilakukan bukan tanpa alasan.
“Soalnya kalau di bawah takut diserbu anak-anak, takut langsung direbut dan tidak merata,” tutur Olivia.
Dari atas balkon, uang-uang itu pun berhamburan. Di bawahnya, anak-anak sudah bersiap dengan tangan terbuka.
Tidak semuanya berhasil mendapatkan uang dalam jumlah banyak, tetapi suasana gembira seolah menjadi hadiah yang tak kalah berharga.
Salah satunya dirasakan Achmad Asrori, siswa kelas V SD. Dengan wajah ceria, ia mengaku senang mendapatkan uang dari tradisi Muludan.
“Buat beli jajan,” ujarnya singkat.
Tahun ini, Achmad memperoleh Rp5.000. Meski lebih kecil dibandingkan hasil yang didapatnya pada perayaan tahun lalu, ia tetap tampak gembira.
“Tahun lalu banyak, dapat Rp25.000,” katanya.
Lebih dari Sekadar Uang
Di balik uang yang berhamburan dan riuh suara anak-anak, tersimpan nilai yang lebih besar. Olivia mengatakan tradisi berbagi tidak pernah dihitung dengan ukuran untung atau rugi.
“Insyaallah, ada yang mengganti dengan yang lebih baik,” ucapnya.
Semangat berbagi itulah yang membuat tradisi Muludan di Kampung Nelayan Cumpat terus bertahan dari tahun ke tahun.
Warga tidak hanya membagikan uang, tetapi juga menyediakan berbagai kebutuhan rumah tangga.
Baca Juga: Terlilit Utang, Pemuda Asal Bangkalan Ditangkap Curi Motor di Balongbendo Sidoarjo
Sapu hingga gantungan baju menjadi bagian dari barang yang dibagikan kepada warga. Pada malam hari, perayaan dilanjutkan dengan tahlil dan kegiatan berbagi kepada anak-anak yang belajar di taman pendidikan Al-Qur’an (TPQ).
“Malamnya nanti ada acara tahlil. Uangnya juga dibagikan kepada anak-anak TPQ,” imbuh Olivia.
Bagi masyarakat pesisir Cumpat, berbagi seakan menjadi bahasa yang paling mudah dipahami.
Tidak harus berupa barang mewah atau nominal besar. Yang terpenting adalah kebersamaan dan niat untuk menghadirkan kebahagiaan bagi sesama.
Kirab Bernuansa Timur Tengah
Kemeriahan Muludan di Cumpat tidak hanya terjadi di sekitar rumah-rumah warga.
Jalan-jalan kampung juga berubah menjadi ruang perayaan. Warga menggelar kirab keliling dari kawasan Nambangan menuju depan Sentra Ikan Bulak (SIB), sebelum akhirnya kembali ke Kampung Cumpat.
Para peserta mengenakan busana bernuansa Timur Tengah. Kehadiran mereka menjadi pemandangan menarik bagi warga yang berdiri di sepanjang rute kirab.
Suasana semakin semarak dengan pertunjukan tarian bernuansa Timur Tengah. Namun, ada satu sosok yang paling banyak mencuri perhatian anak-anak, yakni unta yang turut dihadirkan dalam perayaan tersebut.
Bagi sebagian anak-anak, melihat hewan yang identik dengan kawasan Timur Tengah itu dari dekat menjadi pengalaman tersendiri.
Mereka mendekat, memandang dengan rasa penasaran, lalu kembali berlarian ketika rombongan kirab melanjutkan perjalanan.
Di tengah kampung nelayan yang berhadapan dengan laut, unta, pakaian khas Timur Tengah, tarian, lantunan doa, dan tradisi berbagi berpadu menjadi satu cerita.
Tradisi yang Menyatukan Kampung
Kampung Nelayan Cumpat mungkin hanya satu dari banyak kampung di Surabaya yang memiliki tradisi khas dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.
Baca Juga: Terlilit Utang, Pemuda Asal Bangkalan Ditangkap Curi Motor di Balongbendo Sidoarjo
Namun, perayaan di kampung ini menghadirkan wajah lain dari kehidupan masyarakat pesisir.
Di sini, peringatan keagamaan tidak hanya berlangsung di dalam ruang-ruang ibadah. Nilai-nilainya juga hadir di jalan kampung, di halaman rumah, dalam kirab, serta di tangan anak-anak yang berusaha menangkap uang yang melayang dari atas balkon.
Tradisi itu menjadi pengingat bahwa perayaan keagamaan dapat tumbuh berdampingan dengan budaya lokal.
Bentuknya boleh berubah dan cara perayaannya bisa beragam, tetapi semangat yang dijaga tetap sama: kebersamaan, kepedulian, dan berbagi kebahagiaan.
Menjelang malam, rangkaian perayaan belum benar-benar usai. Warga bersiap melanjutkan kegiatan dengan tahlil dan pembagian bantuan kepada anak-anak TPQ.
Sementara itu, di sudut-sudut kampung, anak-anak masih menyimpan cerita dari sore mereka.
Ada yang berhasil mendapatkan Rp500, Rp2.000, atau Rp5.000. Ada pula yang mungkin pulang tanpa uang sebanyak yang diharapkan.
Namun, Muludan di Cumpat tampaknya tidak pernah hanya tentang berapa rupiah yang berhasil dikumpulkan.
Lebih dari itu, tradisi tersebut adalah tentang kampung yang berkumpul, warga yang berbagi, anak-anak yang tertawa, serta keyakinan bahwa kebaikan yang diberikan kepada sesama akan selalu menemukan jalannya untuk kembali. (rmt)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan