RADAR SURABAYA – Surabaya berpeluang menjadi salah satu destinasi medical tourism atau wisata medis di Indonesia.
Potensi tersebut didorong Locus Medical Hub untuk mengurangi ketergantungan masyarakat Indonesia terhadap layanan kesehatan di luar negeri.
Direktur Locus Medical Hub, dr. Agus Choirul Anab, mengatakan Surabaya memiliki modal kuat untuk dikembangkan sebagai tujuan wisata medis.
Salah satunya terlihat dari tingginya jumlah pasien yang berasal dari luar Kota Surabaya.
“Hingga kini, kami telah melayani lebih dari 13 ribu pasien. Sebanyak 70 persen pasien berasal dari luar Surabaya.
Baca Juga: ITS Uji Alat Pendeteksi Gempa dan Bangunan Tahan Gempa Berbiaya Rendah
Artinya, Surabaya ini bisa menjadi salah satu tujuan wisata medis. Potensinya cukup besar,” kata Agus, Minggu (23/8).
Surabaya Punya Potensi Medical Tourism
Menurut Agus, banyaknya pasien dari luar Surabaya menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap layanan kesehatan berkualitas sebenarnya dapat dipenuhi di dalam negeri.
Masyarakat tidak selalu harus pergi ke luar negeri untuk mendapatkan penanganan medis.
Selain lebih praktis, pengobatan di dalam negeri juga berpotensi menekan biaya yang harus dikeluarkan pasien dan keluarga.
“Jadi, pasien tidak perlu keluar dari Surabaya. Tidak perlu ke luar negeri, cukup di sini,” ujarnya.
Locus Medical Hub kemudian mengembangkan konsep layanan kesehatan terintegrasi dengan menghubungkan pasien dan berbagai fasilitas kesehatan.
Pendekatan tersebut mencakup seluruh perjalanan pasien atau patient journey, mulai dari konsultasi hingga penanganan medis.
“Kami menghubungkan pasien dengan patient journey atau patient experience. Pasien kami dampingi mulai dari awal hingga penanganan, kemudian operasi jika memang diperlukan,” jelas Agus.
Layanan Medical Tourism Terintegrasi
Konsep medical tourism yang dikembangkan Locus Medical Hub tidak hanya berfokus pada layanan medis.
Baca Juga: Libur Maulid Nabi, KAI Daop 8 Surabaya Prediksi Layani 162 Ribu Penumpang
Pasien dari luar daerah juga mendapatkan pendampingan selama menjalani perawatan di Surabaya.
Layanan tersebut mencakup penjemputan pasien di bandara, pemesanan hotel, hingga rekomendasi destinasi wisata.
Pendampingan ini diharapkan memberikan kenyamanan bagi pasien sekaligus keluarga yang mendampingi selama berada di Kota Pahlawan.
“Karena kami juga melakukan medical tourism. Kami membimbing pasien untuk memberikan layanan terbaik selama berada di sini,” tutur Agus.
Dengan konsep tersebut, Surabaya tidak hanya menjadi lokasi untuk mendapatkan layanan kesehatan, tetapi juga dapat menawarkan pengalaman perjalanan bagi pasien dan keluarga.
Tak Hanya Fokus pada Pengobatan
Agus menegaskan, layanan kesehatan yang dikembangkan tidak hanya berorientasi pada tindakan kuratif atau penyembuhan penyakit.
Pendekatan kesehatan juga mencakup aspek promotif, preventif, rehabilitatif, hingga paliatif.
“Jadi, kami tidak hanya dari sisi kuratif atau menyembuhkan, tetapi juga preventif, promotif, rehabilitatif, dan paliatif. Semuanya kami coba lakukan,” katanya.
Untuk mendukung pengembangan medical tourism di Surabaya, kebutuhan sumber daya manusia menjadi salah satu aspek penting.
Tenaga kesehatan dengan kompetensi di berbagai bidang diperlukan untuk memberikan pelayanan yang terintegrasi.
Selain SDM, pengembangan fasilitas dan peralatan medis juga terus dilakukan. Locus Medical Hub membuka peluang kolaborasi dengan tenaga kesehatan maupun rumah sakit lain, termasuk melalui tindakan medis bersama.
Penguatan ekosistem tersebut diharapkan semakin meningkatkan daya saing layanan kesehatan Surabaya.
Dengan demikian, masyarakat Indonesia memiliki lebih banyak pilihan untuk memperoleh layanan medis berkualitas tanpa harus berobat ke luar negeri. (sam)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan