RADAR SURABAYA - Luasnya perkebunan sawit di Papua yang turut mendukung swasembada energi ternyata menghasilkan potensi limbah berupa pelepah sawit. Kini, limbah tersebut menemukan manfaat baru sebagai pakan ternak bernilai tinggi berkat inovasi Tim Ekspedisi Patriot Universitas Airlangga.
Program ini tidak hanya menyediakan pakan alternatif murah, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi peternak sekaligus menerapkan prinsip ekonomi sirkular.
Baca Juga: Pemkot Surabaya Godok Rusunawa Non-Subsidi, Bidik Warga Kelas Menengah
Ketua Tim Ekspedisi Patriot, drh. Erma Safitri, menjelaskan program ini menyasar lebih dari 50 peternak dengan cakupan sekitar 1.000 ekor sapi, difokuskan pada peternak yang berpotensi berkembang.
“Selain pemanfaatan pakan alternatif, program ini menjawab kebutuhan peternak dalam memantau kesehatan, reproduksi, bobot, dan kondisi ternak secara lebih teratur,” ujar Erma, Jumat (21/8).
Salah satu inovasi andalan diberi nama silpa sapi yaitu pengolahan pelepah sawit menjadi silase sebagai pakan sapi. Prosesnya dimulai dari pengumpulan dan pencacahan pelepah, penambahan aditif atau probiotik, hingga fermentasi tertutup selama 2–4 minggu.
Hasilnya berupa pakan awetan yang lebih mudah dicerna, kadar serat kasar turun, dan tekstur lebih lunak.
“Konsep ini sekaligus menerapkan prinsip ekonomi sirkular dengan mengubah limbah perkebunan menjadi sumber daya produktif,” jelas Erma.
Baca Juga: Anak Panti Asuhan Jadi Korban Pelecehan, Wali Kota Eri Minta Audit Seluruh Panti Asuhan di Surabaya
Pemanfaatan ini juga membuka peluang ekonomi baru: peternak tidak hanya memenuhi kebutuhan pakan sendiri, tetapi bisa mengolah dan menjual silase tersebut kepada peternak lain.
Program ini juga menghadirkan posyandu ternak kelilingyang langsung mendatangi lokasi peternak. Layanan mencakup pendampingan kesehatan dan reproduksi sapi, evaluasi pakan, sanitasi kandang, pengobatan, hingga pelatihan kader ternak lokal agar pendampingan dapat berlanjut secara mandiri setelah program selesai.
Setiap sapi sasaran dilengkapi kartu pencatatan berisi identitas, kondisi kesehatan, bobot, Body Condition Score (BCS), status reproduksi, riwayat pengobatan, dan jenis pakan. Sistem ini memudahkan peternak memantau perkembangan serta mendeteksi dini gangguan kesehatan dan reproduksi.
“Tim menargetkan bobot sapi tetap sesuai standar dan produktivitas reproduksi meningkat hingga mencapai target beranak satu kali dalam setahun,” pungkasnya. (rmt)