Waspadai Munculnya Penyakit Baru Saat El Nino Berkepanjangan

Rahmat Adhi Kurniawan • Dipublikasikan Rabu, 19 Agustus 2026 | 18:44 WIB
Musim kemarau mulai menyebabkan kekeringan di Jawa Timur. (ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)
Musim kemarau mulai menyebabkan kekeringan di Jawa Timur. (ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)

 

RADAR SURABAYA - Fenomena El Nino yang memicu kekeringan berkepanjangan di berbagai wilayah Indonesia berpotensi memperbesar risiko kebakaran hutan dan lahan, serta menimbulkan bencana sekunder lainnya. Pakar manajemen bencana Aditya Prana Iswara, menegaskan bahwa upaya mitigasi tidak akan berjalan optimal selama penanganan bencana masih bersifat reaktif dan terhambat ego sektoral antarlembaga.

“Mitigasi bencana sangat penting dilakukan terutama untuk bencana tahunan, baik itu banjir maupun kekeringan. Namun, sampai saat ini tata kelola dan sinergi antarlembaga di Indonesia masih tumpang tindih sebab ego sektoralnya masih sangat besar,” ungkapnya, Rabu (19/8). 

Baca Juga: Gempa Bumi di Flores dan Wilayah Lain  Kemungkinan Besar Beruntun Secara Kebetulan, Waspada Susulan

Aditya menyoroti pentingnya setiap rumah tangga memiliki cadangan air mandiri sebagai langkah antisipatif saat sumber air kian menipis. Salah satu cara yang paling praktis adalah memanfaatkan air hujan melalui sistem rain harvesting atau pemanenan air hujan.

“Kita harus punya reservoir sendiri. Dari mana kita ambil airnya? Kita bisa mengambil air ketika posisi sumber air masih banyak, contohnya ketika sedang hujan. Kita bisa melakukan rain harvesting,” ujarnya.

Caranya pun sederhana aliran air hujan dari talang rumah diarahkan ke penampungan, melewati proses penyaringan atau sterilisasi terlebih dahulu sebelum digunakan. Meski volumenya mungkin belum mencukupi seluruh kebutuhan harian, langkah ini dinilai efektif untuk mengurangi ketergantungan pada sumber air umum saat musim kemarau panjang.

 Baca Juga: Pelaku Curanmor Beraksi di Parkiran Restoran Jalan Kedungdoro Surabaya, Ini Ciri-cirinya

“Talang kita arahkan ke satu sudut, satu sisi ke arah tandon di bawah dengan melewati proses filter lebih dulu sehingga nanti airnya bisa digunakan. Meskipun mungkin sangat minim ya, karena penggunaan air kita sehari-hari cukup besar,” tuturnya.

Saat kekeringan melanda, permukaan air tanah dapat merosot drastis yang semula hanya sedalam 1 meter bisa turun hingga 10 meter. Kondisi ini menyulitkan akses air bersih, menurunkan tingkat higienitas masyarakat, dan memicu munculnya berbagai penyakit.

Di sisi lain, durasi kekeringan yang berkepanjangan juga dipengaruhi pola konsumsi masyarakat yang belum ramah lingkungan. Oleh karena itu, Aditya mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menerapkan pola hidup hemat dan berkelanjutan. (*)

Editor : Lambertus Hurek
panen air hujan rain harvesting el nino kekeringan kemarau panjang