
RADAR SURABAYA - Sorotan publik terhadap sikap tenaga kesehatan (nakes) yang dinilai kurang empati kembali menjadi perbincangan hangat dan memicu stigma negatif terhadap kualitas pelayanan kesehatan di Indonesia.
Pakar komunikasi Andria Saptyasari menegaskan, penurunan kualitas interaksi antara nakes dan pasien berakar pada faktor sistemik, bukan sekadar masalah kepribadian.
Andria menjelaskan, sikap ketus yang kerap disorot publik sering kali muncul akibat beban kerja yang berlebihan. Rasio jumlah pasien dan tenaga kesehatan yang tidak seimbang membuat nakes terus-menerus terkuras fisik maupun emosional setiap harinya.
Baca Juga: Belum Lunas, Pengedar Sabu di Tambak Dalam Surabaya Lebih Dulu Ditangkap Polisi
“Jumlah pasien itu kan banyak, sementara jumlah nakes itu sedikit. Ketika rasio pasien lebih besar, sering kali nakes ini sudah terkuras tenaga dan emosinya saat menolong orang sakit,” ungkapnya, Rabu (19/8).
Selain beban pelayanan, tingginya biaya pendidikan di Fakultas Kedokteran menjadi tekanan tersendiri. Banyak dokter terpaksa berpraktik di tiga instansi berbeda sekaligus menggunakan tiga Surat Izin Praktik (SIP) demi menutupi biaya pendidikan dan menstabilkan kondisi finansial.
Tuntutan berpindah tempat kerja terus-menerus dalam satu minggu menjadi faktor utama penyebab kelelahan kronis.
Andria menekankan perlunya pemerintah memberikan subsidi pendidikan kedokteran agar lebih merata, sekaligus membekali mahasiswa kedokteran dengan karakter empati sejak dini.
“Sebenarnya pembekalan empati itu harus dimulai dari awal saat masih mahasiswa kedokteran. Pasien itu tidak hanya sekadar butuh sembuh, tetapi diorangkan itulah yang lebih penting,” jelasnya.
Baca Juga: Terduga Pelaku Tewas, Polisi Hentikan Penyelidikan Kasus Curanmor di Jagir Wonokromo Surabaya
Di era digital, banyak nakes aktif membuat konten edukasi kesehatan di media sosial. Hal tersebut diperbolehkan selama tetap mematuhi batasan etika dan profesionalitas dilarang keras menyorot wajah atau kondisi pasien tanpa izin tertulis.
Andria juga menyoroti miskomunikasi yang kerap terjadi karena pasien yang bersikap seperti ‘raja’ dan menuntut prioritas tanpa memahami sistem penanganan berdasarkan tingkat kedaruratan. Ia mengajak kedua belah pihak untuk saling menghargai. (rmt)
Editor : Lambertus Hurek