RADAR SURABAYA – Peringatan Hari Kemerdekaan di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah 28 (MIM Dupan) Surabaya berlangsung dalam suasana penuh makna. Momentum 17 Agustus tidak sekadar menjadi perayaan kemerdekaan, tetapi juga dimanfaatkan sebagai ruang pembelajaran untuk menanamkan kepedulian sosial, nilai keislaman, semangat nasionalisme, hingga apresiasi terhadap prestasi siswa.
Rangkaian kegiatan diawali dengan salat gaib untuk para korban gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Para siswa bersama guru dan keluarga besar madrasah memanjatkan doa sebagai bentuk empati dan penghormatan kepada masyarakat yang terdampak bencana.
Kepedulian itu kemudian diwujudkan melalui penggalangan donasi bagi korban gempa di NTT. Melalui kegiatan tersebut, siswa diajak memahami bahwa kemerdekaan juga memiliki makna tentang kepedulian dan kemanusiaan.
Baca Juga: MIM Dupan Raih Radar Surabaya Awards 2026, Bukti Komitmen Membangun Generasi Berkarakter
Kepala MIM Dupan, Rohim, S.H.I., M.Pd., mengatakan kegiatan tersebut sengaja dirangkai untuk memberikan pengalaman pendidikan yang lebih utuh kepada siswa.
“Kami ingin anak-anak tidak hanya memahami kemerdekaan dari sisi sejarah, tetapi juga belajar tentang kepedulian, empati, tanggung jawab, dan bagaimana mereka bisa memberikan manfaat bagi orang lain sejak dini,” ujar Rohim.
Nuansa nasionalisme semakin terasa ketika seluruh keluarga besar MIM Dupan mengikuti upacara bendera memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Dengan penuh khidmat, para siswa mengikuti setiap rangkaian upacara sekaligus meneguhkan kembali nilai cinta tanah air, kedisiplinan, dan tanggung jawab sebagai generasi penerus bangsa.
Bagi MIM Dupan, upacara bukan sekadar kegiatan seremonial. Momentum tersebut menjadi bagian dari pembiasaan karakter siswa agar memahami arti perjuangan serta menghargai kemerdekaan yang telah diwariskan para pendahulu.
Suasana kemudian berubah lebih semarak melalui pembagian hadiah berbagai lomba sekolah. Senyum dan antusiasme siswa mewarnai momen penghargaan tersebut. Setiap peserta mendapatkan pengalaman berharga tentang keberanian, sportivitas, kreativitas, dan kebersamaan.
Baca Juga: MIM Dupan Luncurkan Buku Karya Guru tentang Strategi Pembelajaran Deep Learning
“Lomba-lomba ini bukan semata-mata untuk mencari siapa yang menang dan kalah. Yang paling penting adalah bagaimana anak-anak belajar berproses, berani tampil, menghargai teman, serta menerima hasil dengan sikap yang baik,” jelas Rohim.
Kebanggaan keluarga besar MIM Dupan semakin lengkap melalui penyerahan penghargaan Kejuaraan Internasional Kanggoroo Mathematic Contest (IKMC) 2026 kepada siswa-siswa yang berhasil meraih prestasi.
Prestasi tersebut menjadi salah satu gambaran bahwa pendidikan karakter dan pengembangan akademik dapat berjalan beriringan. Siswa diberikan ruang untuk mengembangkan kemampuan sekaligus mendapatkan apresiasi atas kerja keras dan proses belajar yang telah mereka lalui.
“Prestasi anak-anak tentu menjadi kebanggaan bagi madrasah. Tetapi kami juga ingin mereka memahami bahwa prestasi adalah hasil dari proses, latihan, ketekunan, dan dukungan dari guru serta orang tua. Karena itu, setiap capaian harus menjadi motivasi untuk terus belajar dan berkembang,” tutur Rohim.
Baca Juga: MIM Dupan Surabaya Semakin Dipercaya Raih Penghargaan Bergengsi dalam Inovasi Pendidikan.
Rangkaian kegiatan tersebut sekaligus memperlihatkan wajah pendidikan MIM Dupan yang berupaya menyeimbangkan aspek keislaman, karakter, akademik, nasionalisme, dan kepedulian sosial.
Di tengah perayaan kemerdekaan, para siswa tidak hanya diajak mengibarkan Merah Putih, tetapi juga belajar menerjemahkan semangat kemerdekaan dalam kehidupan sehari-hari yaitu peduli kepada sesama, menghargai perjuangan, berani berprestasi, serta tetap rendah hati.
“Harapan kami, anak-anak MIM Dupan tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya cerdas dan berprestasi, tetapi juga memiliki akhlak, kepedulian, rasa cinta tanah air, dan mampu memberikan manfaat bagi lingkungan di sekitarnya,” pungkas Rohim. (ind/gun)
Editor : Guntur IriantoSumber : radar surabaya