Mengapa 1 Juta Sarjana Menganggur? Akademisi Umsura Soroti Ketimpangan Modal Sosial dan Struktur Ekonomi

Andy Satria • Dipublikasikan Minggu, 16 Agustus 2026 | 14:32 WIB
Pengamat Umsura, Radius Setiyawan.
Pengamat Umsura, Radius Setiyawan.

RADAR SURABAYA – Angka pengangguran lulusan perguruan tinggi di Indonesia yang menembus lebih dari satu juta orang menjadi alarm sosial yang tak bisa diabaikan.

Akademisi Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), Radius Setiyawan, menilai persoalan ini bukan sekadar soal kompetensi atau kesiapan individu, melainkan cerminan dari ketimpangan modal sosial dan perubahan struktur ekonomi nasional.

Menurut Radius, memahami fenomena pengangguran terdidik membutuhkan kacamata yang lebih holistik. Kemampuan teknis lulusan saja tidak cukup; akses terhadap jaringan, pengalaman, dan dukungan ekonomi justru kerap menjadi penentu siapa yang bertahan dan siapa yang tersingkir di pasar kerja.

 Ijazah sebagai Modal Budaya yang Tak Selaras dengan Modal Ekonomi

Menggunakan teori sosiolog ternama Pierre Bourdieu, Radius menjelaskan bahwa ijazah merupakan bentuk dari *modal budaya*. Namun, ia menegaskan bahwa modal budaya tidak serta-merta dapat dikonversi menjadi *modal ekonomi*, seperti pekerjaan bergaji tinggi atau status sosial.

Baca Juga: Paguyuban Sinarmas Jatim Gelar Funwalk di Surabaya, 500 Peserta Semarakkan HUT ke-81 RI

"Ijazah itu modal budaya. Tetapi modal budaya tidak otomatis berubah menjadi modal ekonomi. Untuk mendapatkan pekerjaan, seseorang juga membutuhkan modal sosial berupa jaringan, pengalaman, relasi, bahkan dukungan ekonomi," ujar Radius kepada awak media, Minggu (16/8).

Hal ini menciptakan realitas pahit: dua orang dengan gelar sarjana yang sama bisa memiliki peluang karier yang sangat berbeda karena kapital yang mereka bawa sejak awal tidak setara. Ada lulusan yang mengantongi pengalaman magang, penguasaan bahasa asing, dan koneksi industri; namun tak sedikit yang hanya bermodal ijazah.

 Perubahan Struktur Ekonomi dan Ancaman Deindustrialisasi

Radius menyoroti bahwa masalah ini makin akut karena terjadi perubahan fundamental dalam struktur ekonomi Indonesia. Pertumbuhan lapangan kerja berkualitas tidak sebanding dengan jumlah tenaga kerja terdidik yang diproduksi setiap tahunnya.

"Ketika pekerjaan berkualitas tidak tumbuh sebanding dengan jumlah tenaga kerja terdidik, modal pendidikan semakin sulit dikonversikan menjadi modal ekonomi," jelas akademisi Umsura tersebut.

Lebih jauh, ia mengaitkan kondisi ini dengan gejala deindustrialisasi dan pergeseran investasi ke sektor padat modal. Sektor-sektor tersebut memang mendorong pertumbuhan ekonomi secara makro, tetapi gagal menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.

"Kalau investasi semakin banyak masuk ke sektor padat modal, tetapi penciptaan pekerjaan tidak sebanding, kita menghadapi persoalan struktural. Sarjana semakin banyak, tetapi ruang untuk mengubah modal pendidikan menjadi pendapatan justru terbatas," tegasnya.

 Bukan Sekadar Kegagalan Individu, tapi Persoalan Privilese

Radius mengkritik anggapan umum yang kerap menyudutkan lulusan penganggur sebagai individu yang malas atau tidak kompeten. Menurutnya, pandangan itu tidak adil karena mengabaikan faktor struktur sosial yang sangat menentukan.

"Jangan melihat sarjana menganggur semata sebagai kegagalan individu. Ini juga persoalan struktur sosial," tegasnya.

Baca Juga: Tanggap Bencana Gempa Bumi Flores NTT, BRI Peduli Gerak Cepat Bantu Warga Terdampak

Ia menyebut bahwa generasi muda tidak memulai karier dari titik start yang sama. Beberapa orang memiliki privilese berupa dukungan finansial keluarga, jaringan profesional, akses teknologi, hingga pengalaman kerja sejak kuliah. Sementara itu, lulusan dari latar belakang kurang mampu hanya mengandalkan ijazah sebagai satu-satunya modal untuk bersaing.

"Generasi muda tidak memulai dari garis yang sama. Ada yang sejak awal memiliki privilese berupa dukungan ekonomi keluarga, jaringan sosial, pendidikan berkualitas, kemampuan bahasa, hingga akses terhadap teknologi dan pengalaman kerja," ungkapnya.

 Perlunya Evaluasi Kebijakan dan Kesadaran Kolektif

Radius menekankan bahwa solusi atas pengangguran sarjana tidak bisa hanya dibebankan pada perguruan tinggi atau individu. Pemerintah dan pemangku kebijakan harus merefleksikan ulang arah pembangunan ekonomi, terutama dalam menciptakan lapangan kerja yang mampu menyerap tenaga kerja terdidik.

"Ketika kita berbicara tentang pengangguran sarjana, kita juga harus melihat bagaimana ketimpangan privilese menentukan siapa yang lebih mudah mengubah modal pendidikan menjadi pekerjaan dan siapa yang tetap berada dalam antrean pengangguran," pungkasnya.

Dengan kata lain, pemerataan akses terhadap modal sosial dan perluasan kesempatan kerja yang berkualitas merupakan kunci untuk memutus rantai pengangguran terdidik di Indonesia.(sam)

Editor : Rahmat Adhy Kurniawan
pengangguran RADIUS SETIYAWAN umsura