Guru SMKN 1 Nganjuk Gabungkan e-Gamelan dan Sains, Cara Unik Lestarikan Budaya Jawa

Rahmat Sudrajat • Dipublikasikan Kamis, 13 Agustus 2026 | 17:21 WIB
Weni Rahmawanti saat wisuda. (Rahmat Sudrajat)
Weni Rahmawanti saat wisuda. (Rahmat Sudrajat)

RADAR SURABAYA – Inovasi pembelajaran berbasis budaya dan teknologi dikembangkan Weni Rahmawanti, guru SMKN 1 Nganjuk.

 Ia memadukan e-Gamelan dengan pembelajaran sains untuk meningkatkan literasi sains siswa sekaligus melestarikan budaya Jawa.

Inovasi tersebut dituangkan dalam penelitian berjudul Perangkat Pembelajaran Berbasis Etnosains Berbantuan e-Gamelan untuk Meningkatkan Literasi Sains pada Materi Bunyi.

Penelitian itu menjadi bagian dari perjalanan Weni menyelesaikan program S2 Pendidikan Sains di Universitas Negeri Surabaya (Unesa).

Weni kemudian berhasil menyelesaikan studi magister dalam tiga semester atau 1,5 tahun dengan predikat pujian dan mengikuti Wisuda ke-121 Unesa.

e-Gamelan Jadi Media Belajar Sains

Weni menjelaskan, gagasan utama inovasi tersebut adalah menghadirkan pembelajaran sains yang lebih kontekstual.

Baca Juga: Promo Kemerdekaan KAI Daop 8 Surabaya: Diskon 17 Persen untuk Perjalanan 17 Agustus 2026

Siswa tidak hanya mempelajari teori di dalam kelas, tetapi juga menghubungkan konsep sains dengan budaya dan lingkungan di sekitar mereka.

Salah satu media yang digunakan adalah aplikasi e-Gamelan. Melalui aplikasi tersebut, siswa dapat memainkan berbagai instrumen gamelan secara digital, termasuk saron.

Aplikasi itu menyediakan informasi mengenai bagian-bagian alat musik, nada, hingga notasi gending.

Dengan demikian, siswa dapat mengenal gamelan sekaligus mempelajari konsep sains melalui gawai yang sudah akrab dengan kehidupan sehari-hari.

“Intinya, pembelajaran sains itu bagaimana bisa diajarkan secara kontekstual, lebih dekat dengan siswa, kemudian siswa mengalami sendiri, dan bagaimana itu bisa dekat dengan kehidupan siswa, utamanya budaya lokal, budaya Jawa,” ujar Weni, Kamis (13/8).

Inovasi e-Gamelan buatan Weni Rahmawanti yang memadukan teknologi digital, budaya Jawa, dan pembelajaran sains. (Istimewa)
Inovasi e-Gamelan buatan Weni Rahmawanti yang memadukan teknologi digital, budaya Jawa, dan pembelajaran sains. (Istimewa)

Menurut Weni, penggunaan teknologi digital menjadi salah satu cara untuk mendekatkan budaya tradisional kepada generasi muda.

“Anak sekarang tidak bisa lepas dari gawai. Gamelan yang sekian banyak itu bisa dipelajari melalui aplikasi e-Gamelan. Di sini dikolaborasi dengan sains untuk materi bunyi,” imbuhnya.

Baca Juga: Biji Pepaya Bisa Dimakan Tapi Ada Hal yang Perlu Diwaspadai

Belajar Frekuensi dari Bilah Saron

Dalam pembelajaran materi bunyi, siswa diajak memahami hubungan antara bunyi, getaran, nada, dan frekuensi melalui instrumen saron.

Setiap wilahan pada saron menghasilkan getaran dan frekuensi yang berbeda. Konsep tersebut kemudian dapat diamati dan diukur menggunakan aplikasi Hz Meter.

Dengan cara itu, siswa tidak hanya mengetahui teori mengenai frekuensi, tetapi juga dapat melakukan pengukuran secara langsung.

“Bunyi yang membedakan adalah frekuensinya. Nah, pada e-Gamelan saron yang saya ambil ini, wilahan satu, wilahan dua, dan seterusnya menghasilkan frekuensi yang berbeda-beda,” jelas Weni.

Frekuensi tersebut dapat diukur menggunakan aplikasi Hz Meter yang bisa diunduh melalui gawai.

Siswa kemudian dapat menghubungkan hasil pengukuran dengan nada yang dihasilkan oleh setiap wilahan.

“Sehingga mereka bisa menghitung, ‘Oh, ini ukuran frekuensi sekian, berarti menghasilkan nada ini,’” lanjut guru Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) SMKN 1 Nganjuk tersebut.

Teknologi Tidak Menggantikan Gamelan Asli

Menurut Weni, penggunaan e-Gamelan bukan dimaksudkan untuk menggantikan gamelan asli. Teknologi justru menjadi sarana pengantar agar siswa lebih mudah mengenal kesenian tradisional.

Penggunaan aplikasi digital juga memungkinkan pembelajaran tetap dilakukan ketika siswa tidak dapat berinteraksi secara langsung dengan perangkat gamelan.

Saat pembelajaran tatap muka berlangsung, siswa tetap diarahkan untuk memainkan gamelan secara langsung.

“Kami bisa memainkan lewat aplikasi saat tidak bisa tatap muka, dan langsung nabuh gamelan aslinya saat bertemu. Anak-anak saya sarankan begitu,” tuturnya.

Pendekatan tersebut dinilai relevan dengan karakter generasi muda yang semakin dekat dengan teknologi digital.

“Karena zamannya digital, sehingga anak lebih mudah, lebih dekat dengan mereka. Kita agar pembelajaran ini lebih kontekstual pada anak yang sekarang ini,” tegasnya.

Hadapi Tantangan Melestarikan Budaya Jawa

Weni menyadari bahwa mengenalkan gamelan kepada generasi muda bukan perkara mudah.

Sebagian siswa masih menganggap gamelan sebagai kesenian yang kuno dan tidak relevan dengan kehidupan mereka.

“Anak-anak sekarang itu sudah mulai enggak mau dekat sama budaya lokal. Menurutnya itu kuno, desa, dan sebagainya. Padahal ilmu di dalamnya tidak akan habis,” ungkapnya.

Latar belakang keluarga yang dekat dengan seni dan budaya menjadi salah satu alasan Weni terus berupaya mengenalkan gamelan kepada siswa.

Ayahnya merupakan pengrawit, sedangkan mertuanya adalah dalang. Anak-anaknya juga berkarya di bidang seni.

Pengalaman tersebut membuat Weni melihat gamelan bukan sekadar kesenian tradisional, tetapi juga sumber pengetahuan yang dapat dikaitkan dengan berbagai bidang ilmu, termasuk sains.

Baca Juga: Makan Terlalu Banyak Malah Bikin Ngantuk Kok Bisa

Selesaikan S2 dalam 1,5 Tahun

Di balik inovasi e-Gamelan tersebut terdapat perjuangan panjang Weni dalam menyelesaikan pendidikan magisternya.

Weni harus menempuh perjalanan dari Nganjuk menggunakan kendaraan umum, mengikuti perkuliahan dengan sistem hibrida, sekaligus tetap menjalankan tugasnya sebagai guru.

Kesibukan tersebut membuat Weni kerap mengerjakan penelitian hingga dini hari. Ia terbiasa bangun pukul 01.00 setelah tidur beberapa jam untuk melanjutkan penyusunan tesis.

“Saya tidur dulu, nanti jam 1.00 saya bangun, salat malam, baru bekerja menyelesaikan tesis. Bagi saya, tiga jam itu sudah cukup,” ujarnya.

Kerja keras tersebut membuahkan hasil. Weni mampu menyelesaikan program magister S2 Pendidikan Sains Unesa dalam tiga semester atau 1,5 tahun dengan predikat pujian.

Kini, hasil penelitiannya tidak berhenti sebagai karya akademik. Metode pembelajaran berbantuan e-Gamelan terus diterapkan dalam pembelajaran materi bunyi dan kegiatan ekstrakurikuler karawitan yang dibinanya.

Bagi Weni, teknologi dan budaya tidak harus dipertentangkan. Keduanya justru dapat berjalan beriringan untuk menciptakan pembelajaran yang lebih menarik sekaligus menjaga keberlangsungan budaya lokal.

“Saya bangga bisa memanfaatkan dunia digital, tetapi juga sekaligus melestarikan budaya Jawa,” pungkasnya. (rmt)

 

 

Editor : Rahmat Adhy Kurniawan
e-Gamelan Weni Rahmawanti SMKN 1 Nganjuk Universitas Negeri Surabaya budaya jawa