RADAR SURABAYA – Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menggagas pengembangan sistem kendaraan otonom terintegrasi untuk memperkuat konektivitas, keselamatan, pengawasan, dan pemanfaatan potensi maritim Indonesia.
Gagasan tersebut dikembangkan Prof. Dr. Ir. Ari Santoso, DEA., dari ITS. Teknologi kendaraan otonom ini dirancang untuk beroperasi di tiga wilayah sekaligus, yakni bawah laut, permukaan laut, dan udara.
Pengembangan sistem tersebut dinilai strategis bagi Indonesia sebagai negara kepulauan yang memiliki wilayah perairan luas.
Teknologi ini dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari keselamatan pelayaran, inspeksi infrastruktur bawah laut, pemantauan sumber daya kelautan hingga mitigasi bencana.
Tiga Kendaraan Otonom untuk Wilayah Laut dan Udara
Prof. Ari mengembangkan tiga pilar teknologi kendaraan otonom, yakni Autonomous Underwater Vehicle (AUV), Unmanned Surface Vehicle (USV), dan Unmanned Aerial Vehicle (UAV).
Baca Juga: KAI Daop 8 Surabaya Layani 1,2 Juta Penumpang pada Juli 2026
AUV dirancang untuk menjalankan berbagai misi di bawah permukaan laut. Wahana ini dapat digunakan untuk melakukan inspeksi kabel dan pipa bawah laut hingga memantau kondisi terumbu karang.
Sementara itu, USV beroperasi di permukaan laut. Wahana tersebut berfungsi sebagai alat pengamatan sekaligus jembatan komunikasi antara berbagai sistem kendaraan otonom.
Adapun UAV digunakan untuk memperluas jangkauan pemantauan dari udara. Dengan kemampuan tersebut, UAV dapat mendukung pengawasan wilayah laut dan memberikan informasi dari perspektif udara.
“Ketiganya merupakan integrasi dari berbagai disiplin ilmu, antara lain mekanika, hidrodinamika, aerodinamika, elektronika, sensor, dan kecerdasan buatan,” jelas Prof. Ari, Minggu (9/8).
Mengandalkan Sistem Closed-Loop
Teknologi kendaraan otonom yang dikembangkan ITS tersebut menerapkan pola kerja siklus tertutup atau closed-loop system.
Sistem ini memungkinkan wahana otonom mengambil keputusan dan menyesuaikan pergerakannya berdasarkan informasi yang diperoleh secara berkelanjutan.
Terdapat enam komponen utama yang saling terhubung dalam sistem tersebut. Komponen itu meliputi pengukuran data sensor, pemahaman kondisi lingkungan,
penentuan arah dan lintasan, pengendalian kestabilan, pelaksanaan perintah gerak, serta antisipasi terhadap gangguan lingkungan.
Baca Juga: Tolak Normalisasi LGBT, AUPG Jatim Desak Perda hingga Kurikulum Pencegahan
Keenam komponen bekerja secara berulang dan berkesinambungan. Dengan mekanisme tersebut, keputusan dan pergerakan kendaraan otonom diharapkan tetap aman, tepat, dan optimal meskipun menghadapi perubahan kondisi lingkungan.
Teknologi Otonom untuk Perkuat Kedaulatan Maritim
Pengembangan kendaraan otonom terintegrasi memiliki nilai strategis bagi Indonesia.
Selain mendukung aktivitas ekonomi dan penelitian kelautan, teknologi tersebut dapat membantu meningkatkan kemampuan pengawasan wilayah perairan Indonesia.
Pemanfaatannya juga dapat diarahkan untuk mendukung inspeksi infrastruktur strategis, pemantauan lingkungan laut, hingga respons terhadap potensi bencana di wilayah kepulauan.
“Laut Indonesia bukan hanya batas wilayah, melainkan ruang ekonomi, energi, data, inovasi, sejarah, dan kedaulatan,” tegas dosen Departemen Teknik Elektro ITS tersebut.
Menurut Prof. Ari, integrasi AUV, USV, dan UAV menjadi pendekatan penting untuk membangun sistem pemantauan wilayah maritim yang lebih luas dan terintegrasi.
Teknologi tersebut sekaligus dinilai dapat mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), terutama tujuan ke-9 tentang industri, inovasi, dan infrastruktur serta tujuan ke-14 mengenai pelestarian ekosistem laut.
Pengembangan kendaraan otonom laut dan udara diharapkan tidak hanya menjadi inovasi teknologi, tetapi juga menjadi bagian dari upaya Indonesia memperkuat kedaulatan, keselamatan, dan pemanfaatan sumber daya maritim secara berkelanjutan.(rmt)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan