RADAR SURABAYA – Keluhan warga yang masuk melalui kanal pengaduan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya mulai berbuah perubahan di RSUD Soewandhie. Setelah sebelumnya melakukan inspeksi mendadak (sidak), Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi kembali turun mengecek langsung pelayanan rumah sakit tersebut.
Dalam pengecekan terbaru, Eri menemukan sejumlah evaluasi yang sebelumnya disampaikan kepada manajemen telah ditindaklanjuti. Salah satu perubahan paling terlihat berada di layanan farmasi, di mana jumlah petugas ditambah dari sembilan menjadi 18 orang untuk mempercepat pelayanan pengambilan obat.
“Saya sudah mengecek lagi pelayanan di RS Soewandhie. Alhamdulillah, beberapa evaluasi yang dulu saya temukan saat sidak, sekarang sudah dijalankan manajemen,” ujar Eri.
Baca Juga: Rektor Unej Ingatkan Mahasiswa Baru Jangan Bergantung pada AI
Penambahan personel tersebut dinilai mulai berdampak pada antrean pasien. Eri menyebut kondisi layanan farmasi kini jauh lebih terkendali dibandingkan saat dirinya melakukan pengecekan sebelumnya.
Menurutnya, kebutuhan tenaga pelayanan harus mengikuti beban pasien. Pemerintah tidak boleh membiarkan masyarakat menunggu terlalu lama hanya karena keterbatasan sumber daya pelayanan.
“Untuk pelayanan publik, pemerintah harus hadir. Tidak bisa dihitung untung-rugi. Farmasi yang dulu petugasnya sembilan, sekarang menjadi 18 petugas. Sehingga sekarang tidak ada pasien yang mengantre,” tegasnya.
Perbaikan juga diminta menyasar Instalasi Gawat Darurat (IGD). Eri meminta manajemen memastikan ketersediaan tempat tidur dapat diketahui secara cepat sehingga pasien tidak menumpuk ketika kapasitas IGD telah penuh.
Ia menginginkan adanya sistem monitor yang menunjukkan kondisi tempat tidur secara jelas, baik yang masih kosong maupun yang telah terisi.
Baca Juga: Kerja Bakti Berdarah! Gegara Disapa Warga Margorukun Surabaya Bacok Tetangga
“Di ruang IGD harus ada monitor, kamar mana yang kosong, kamar yang penuh mana. Kalau kamar penuh, ya harus dirujuk. Tidak boleh pasien menumpuk di IGD. Pelayanan harus maksimal,” katanya.
Selain persoalan kapasitas, Eri juga kembali mengevaluasi sistem antrean pasien. Pasien yang telah mendaftar melalui layanan e-health diarahkan mengikuti jadwal yang telah diperoleh. Sementara pasien yang datang tanpa pendaftaran sebelumnya akan mengikuti mekanisme pelayanan tersendiri.
Menurut Eri, penataan tersebut bukan untuk membatasi masyarakat mendapatkan layanan kesehatan, melainkan mencegah terjadinya penumpukan dan memastikan antrean berjalan lebih tertib.
Bagi Eri, pengecekan ulang menjadi penting untuk memastikan setiap keluhan warga benar-benar menghasilkan perubahan di lapangan. Ia menegaskan, sidak maupun evaluasi tidak dimaksudkan untuk mencari kesalahan tenaga kesehatan.
“Saya selalu percaya kalau nakes Soewandhie terus berusaha maksimal memberi pelayanan yang terbaik. Saya juga berusaha mendengarkan keluhan pasien yang masuk lewat hotline,” ujarnya.
Eri juga meminta manajemen rumah sakit tidak menggunakan pola kebutuhan tenaga kesehatan yang statis. Jika jumlah pasien meningkat, jumlah tenaga pelayanan harus disesuaikan agar kualitas dan kecepatan layanan tetap terjaga.
“Mulai sekarang, kalau jumlah pasien bertambah, nakesnya juga ditambah. Sehingga bisa mempercepat pelayanan kepada warga Surabaya yang sakit,” tegasnya.
Ia menilai kualitas pelayanan rumah sakit bukan hanya ditentukan oleh sistem digital, fasilitas, maupun jumlah tempat tidur. Interaksi antara tenaga kesehatan dan pasien juga menjadi bagian penting dalam menciptakan pelayanan yang humanis.
“Alhamdulillah, sekarang sudah ada solusinya, pelayanan menjadi cepat. Sekarang nakes dan warga Surabaya harus bergandengan agar pelayanannya bagus,” imbuhnya. (*)
Editor : Lambertus Hurek