RADAR SURABAYA – Menteri Lingkungan Hidup sekaligus Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH), Mohammad Jumhur Hidayat, mengajak mahasiswa Universitas Airlangga (Unair) membangun cara berpikir ekologis sebagai bekal menghadapi krisis lingkungan yang semakin kompleks.
Pesan tersebut disampaikan Jumhur saat menghadiri acara pengukuhan di Universitas Airlangga, Jumat (7/8).
Menurutnya, sivitas akademika memiliki peran strategis dalam menentukan arah pembangunan bangsa yang berkelanjutan.
Jumhur menegaskan bahwa mahasiswa tidak lagi dapat memandang ilmu pengetahuan secara terpisah-pisah.
Tantangan masa depan membutuhkan kolaborasi lintas disiplin untuk menghadapi berbagai persoalan lingkungan yang semakin nyata.
Ia menyoroti dua wajah perkembangan zaman. Di satu sisi, kemajuan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), berkembang sangat pesat dan mengubah cara manusia bekerja serta berkomunikasi.
Baca Juga: Kemenag Tingkatkan Kompetensi 31.863 Guru PAI Jatim, Ini Fokusnya
Namun, di sisi lain, dunia menghadapi krisis ekologis yang ditandai perubahan iklim, pencemaran udara, krisis air bersih, hingga persoalan sampah yang terus meningkat.
"Kemajuan ekonomi tidak boleh dibayar dengan kerusakan ekologis. Kita harus meninggalkan cara berpikir seolah-olah harus memilih antara pertumbuhan ekonomi atau memelihara lingkungan.
Kita harus membangun ekonomi yang justru tumbuh karena lingkungan dijaga," ujar Jumhur.
Menurutnya, isu lingkungan bukan sekadar urusan sektor tertentu, melainkan fondasi utama bagi seluruh pembangunan nasional.
Karena itu, pembangunan ekonomi harus berjalan seiring dengan upaya menjaga kelestarian lingkungan.
Jumhur juga menekankan pentingnya pengembangan green jobs atau pekerjaan hijau.
Konsep tersebut tidak hanya membutuhkan ahli lingkungan, tetapi juga kolaborasi dokter, insinyur, ekonom, ahli hukum, hingga pakar teknologi informasi.
"Semua disiplin ilmu memiliki kontribusi penting dalam menjaga keberlanjutan kehidupan.
Tantangan lingkungan hanya dapat diselesaikan melalui kerja sama lintas sektor," katanya.
Selain persoalan teknis, Jumhur menilai tantangan terbesar pengelolaan lingkungan di Indonesia terletak pada tata kelola.
Karena itu, diperlukan data yang kuat, dukungan ilmu pengetahuan, teknologi, regulasi yang efektif, serta sumber daya manusia yang berintegritas.
"Kita membutuhkan data yang kuat, ilmu pengetahuan, teknologi, dan regulasi yang efektif.
Namun, lebih dari itu semua, kita membutuhkan manusia yang memiliki integritas. Jadilah ilmuwan yang memiliki keberanian moral," tegasnya.
Menjelang peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Jumhur mengajak generasi muda membangun kedaulatan ekologis agar Indonesia tidak hanya kaya sumber daya alam,
tetapi juga mampu mengelolanya secara berkelanjutan demi kesejahteraan generasi mendatang.
"Perjuangan menjaga lingkungan sesungguhnya adalah bagian dari perjuangan mengisi kemerdekaan.
Ketika kita membersihkan sungai, kita sedang menjaga kehidupan. Ketika kita mengurangi pencemaran udara, kita sedang melindungi kesehatan rakyat," ujarnya.
Melalui kegiatan tersebut, Universitas Airlangga kembali menegaskan komitmennya mencetak lulusan yang memiliki jiwa kepemimpinan, unggul dalam riset,
serta mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan berkelanjutan dan pelestarian lingkungan hidup. (rmt)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan