RADAR SURABAYA - B, 14, seorang pelajar kelas VIII SMP menjadi korban penipuan penggelapan modus gendam di Jalan Dharmahusada, Surabaya, Rabu (5/8). Korban diduga digendam saat menunggu jemputan pulang sekolah. Pelaku membawa lari handphone (HP) korban.
Ayah korban Agung Wahyu Wibowo menceritakan, putranya saat itu menunggu jemputan di tepi jalan. Tak lama kemudian korban dihampiri pria tidak dikenal mengendarai motor.
Pelaku lalu mengajak korban dan diturunkan di Jalan Dharmahusada Indah Utara dekat Rumah Sakit Unair. Di lokasi tersebut pelaku mengambil HP korban.
Baca Juga: Diduga Korsleting Listrik, Rumah Warga Jalan Krukah Utara Surabaya Dilalap Api
"Pelaku bilang ke anak saya. Ayo tak anterin pulang aja. Anak saya lalu diturunkan di Jalan Dharmahusada Indah Utara. Yang diambil HP anak saya," ujarnya, Jumat (7/8).
Agung menduga sang anak dipengaruhi dengan modus gendam sehingga korban menuruti ajakan pelaku. Menurut Agung, sebelum mengajak korban, pelaku bilang ada anggota keluarga korban mengalami kecelakaan.
Baca Juga: Cak Sholeh Meninggal Dunia, Penggagas No Viral No Justice Berpulang
"Sempat saya tracking posisi di kawasan Pegirian gang 2. Tapi tadi kemudian HP nya sudah dimatikan," terangnya.
Menurutnya, kasus tersebut bukan kejadian pertama di lingkungan tempat tinggalnya. Namun sudah kejadian ketiga kali dengan korban pelajar SMP yang kehilangan HP hingga perhiasan.
Atas kejadian tersebut orang tua korban melaporkan kasus ke Polsek Mulyorejo, Surabaya, Kamis (6/8). Saat melapor korban membawa barang bukti doshbook HP.
Baca Juga: Sering Mengantuk Saat Terkena Sinar Matahari Ternyata Tubuh Sedang Mengalami Ini
Sementara berdasarkan keterangan korban, dan rekaman CCTV pelaku berkulit gelap, kumis tebal dan berbicara dengan logat Madura. Pelaku mengendarai motor Honda Supra Fit tanpa nopol dan memakai helm warna biru polos.
Selain melapor ke polisi, kejadian tersebut juga sudah diketahui pihak sekolah korban. "Kata pihak sekolah dan polisi sudah disosialisasikan. Anak-anak diminta untuk tetap menunggu jemputan di titik kumpul yang aman seperti area SWK dan tidak boleh mudah percaya pada orang asing yang memberikan informasi seputar kondisi keluarga," tukasnya. (rus/gun)
Editor : Guntur IriantoSumber : radar surabaya