RADAR SURABAYA - Bagi banyak pelaku usaha, memilih peluang bisnis bukanlah bagian yang paling menentukan. Yang lebih menentukan adalah bagaimana gerai pertama dikelola sampai benar-benar berjalan baik.
Soffie, pengusaha asal Surabaya yang menjadi mitra waralaba Mixue, memegang prinsip itu sejak awal. Hampir tiga tahun sejak gerai pertamanya buka, ia kini mengelola empat gerai dengan tim berjumlah 14 orang.
“Mulai dari satu gerai, kelola dengan baik, lalu berkembang sesuai kemampuan,” ujar Soffie.
Sebelum masuk ke bisnis minuman, Soffie menjalankan usaha roti dan kue. Karena belum berpengalaman di sektor minuman siap saji, ia memilih menekuni satu gerai lebih dulu sambil mempelajari operasionalnya secara langsung.
Baca Juga: Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi Maafkan Pelaku Pungli PKL tapi Proses Hukum Jalan Terus
Masa itu memberinya banyak hal. Ia belajar mengenali jam ramai dan sepi, memahami menu apa yang paling dicari pembeli di lingkungannya, membentuk tim inti yang kemudian menjadi tulang punggung gerai berikutnya, serta menguji cara promosi mana yang paling efektif di sekitar gerainya.
Ia juga mempelajari hal-hal yang jarang tertulis dalam panduan, seperti kapan warga sekitar biasanya berbelanja, hari apa kunjungan meningkat, serta menu apa yang paling sering dipesan bersama-sama oleh rombongan pelajar.
walBaca Juga: Wali Kota Eri Siapkan Panggung Permanen Seni Tradisi untuk Regenerasi Reog dan Jaranan di Surabaya
Pengalaman semacam itu sulit diperoleh tanpa terlibat langsung, dan justru menjadi bekal yang membuat pembukaan gerai kedua berjalan jauh lebih lancar.
Ada beberapa tanda yang biasanya menunjukkan sebuah gerai sudah siap ditinggal untuk mengembangkan gerai berikutnya.
Penjualannya stabil selama beberapa bulan berturut-turut, biaya operasionalnya sudah tertutup, dan timnya mampu menjalankan gerai dengan baik meski pemiliknya tidak hadir setiap hari.
Baca Juga: Eri Cahyadi Ultimatum Dishub Surabaya: Jangan Tunggu Telepon Wali Kota Baru Urai Kemacetan
Tanda lain yang kerap dipakai adalah kemampuan gerai menghadapi hari-hari sibuk tanpa perlu bantuan tambahan. Ketika tim sudah terbiasa mengatur alur kerja saat antrean panjang, artinya standar pelayanan sudah benar-benar melekat, bukan sekadar dihafal.
Setelah tanda-tanda itu terpenuhi, perhatian pemilik dapat dialihkan untuk menyiapkan gerai berikutnya, sementara gerai pertama tetap berjalan sebagai sumber pemasukan yang stabil.
Gerai pertama Soffie sendiri disebut balik modal dalam waktu sekitar 10 bulan, sebuah pencapaian yang memperkuat keyakinannya untuk melanjutkan pengembangan usaha.
“Yang bertambah bukan cuma jumlah gerai, tetapi kemampuan mengaturnya. Saya menambah gerai sesuai kemampuan mengelola,” katanya.
Dari sisi perusahaan, ada dukungan yang membantu pada tahap awal. Sebagian lokasi gerainya ditentukan dengan bantuan analisis dari kantor pusat, sehingga proses mencari lokasi menjadi lebih terarah.
Setelah gerai buka, tim pengawas perusahaan datang menjalankan promosi langsung di depan gerai, mulai dari menyapa pengunjung sampai menawarkan produk lewat pengeras suara.
“Cara-cara itu saya pelajari, lalu tim saya terapkan sendiri secara rutin,” tuturnya.
Menariknya, sebagian pertumbuhan usahanya justru datang tanpa menambah gerai. Karena beberapa gerainya berada dekat sekolah, ia menjalin hubungan dengan pihak sekolah dan melayani pesanan dalam jumlah besar untuk berbagai kegiatan. Penjualan bertambah dengan memanfaatkan gerai yang sudah ada.
Cara seperti ini menunjukkan bahwa pertumbuhan usaha tidak selalu berarti membuka lokasi baru. Memperdalam hubungan dengan pasar di sekitar gerai juga membuka sumber pelanggan tambahan.
Pesanan dalam jumlah besar juga membantu mengisi jam-jam yang biasanya lebih sepi, karena pengambilannya dapat diatur pada waktu tertentu. Dengan begitu, kapasitas gerai terpakai lebih merata sepanjang hari.
“Bagi mitra franchise, kami berharap dapat membantu lebih banyak wirausahawan membangun bisnis yang berkelanjutan melalui sistem operasional dan dukungan yang telah kami bangun,” ujar Penanggung Jawab Pengembangan Kemitraan (Franchise) Mixue Indonesia, Selly.
Ia menyebut pendampingan itu berjalan berkelanjutan, tidak berhenti pada masa pembukaan gerai.
“Kegiatan seperti “Manager Toko Sehari” juga merupakan salah satu bentuk dukungan kami kepada mitra, dengan menghadirkan lebih banyak pengunjung serta meningkatkan eksposur gerai,” ujarnya.
Tim inti yang terbentuk di gerai pertama juga menjadi modal penting. Karyawan yang sudah memahami standar pelayanan kemudian membantu melatih pegawai baru di gerai berikutnya, sehingga proses pembukaan berjalan lebih cepat dan mutunya lebih mudah dijaga.
Karena itu, pembukaan gerai kedua terasa jauh lebih ringan dibanding gerai pertama. Sebagian besar keputusan sudah pernah dihadapi sebelumnya, mulai dari mengatur jadwal kerja sampai memperkirakan kebutuhan bahan baku harian.
Mixue kini mengoperasikan hampir 200 gerai di Surabaya.
Kegiatan berskala nasional seperti peluncuran Blueberry Series yang menghadirkan Rachel Vennya sebagai “Store Manager Sehari” di Tangerang turut memperkenalkan menu baru kepada pelanggan di daerah, dengan capaian penjualan lebih dari dua juta produk dalam kurun sekitar 20 hari.
Sistem waralaba dirancang untuk membuat pembukaan gerai menjadi lebih mudah. Produk, pasokan, dan panduan operasional sudah tersedia, sehingga pelaku usaha dapat memulai tanpa membangun semuanya dari nol.
Yang menentukan iramanya tetap mitra itu sendiri. Pendekatan bertahap seperti yang dipilih Soffie memberi ruang bagi kemampuan mengelola untuk tumbuh seiring bertambahnya gerai, dan dari sanalah usaha yang berkelanjutan biasanya terbentuk. (nin/vga)
Editor : Vega Dwi AristaSumber : radar surabaya