RADAR SURABAYA – Aksi premanisme dan pemerasan belakangan terjadi di Kota Pahlawan. Pemkot Surabaya meminta warga tidak ragu melapor jika mengalami intimidasi, ancaman, atau tindakan kekerasan.
Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kota Surabaya Tundjung Iswandaru mengatakan, Satgas Anti-Premanisme tidak hanya bertugas melakukan penindakan, tetapi juga memberikan rasa aman kepada masyarakat yang menjadi korban.
"Satgas akan terus hadir melindungi masyarakat. Kalau ada warga yang merasa diintimidasi, diancam, atau mengalami tindakan serupa, kami siap melakukan pendampingan," kata Tundjung di Surabaya, Senin (3/8).
Baca Juga: Adela Kanasya Adies Temui Ratusan Relawan Surabaya, Pastikan Program Kerakyatan Terus Berlanjut
Karena itu, ia mengimbau masyarakat agar tidak takut menyampaikan laporan kepada kepolisian maupun Satgas Anti Premanisme apabila menemukan praktik-praktik yang mengganggu keamanan dan ketertiban.
Menurutnya, langkah cepat masyarakat melapor akan memudahkan aparat dalam melakukan penanganan sekaligus mencegah persoalan berkembang lebih luas.
"Jangan sampai ulah oknum justru mencoreng nama lembaga atau kelompok secara keseluruhan," ujarnya.
Salah satu contoh pendampingan dilakukan saat muncul dugaan pengeroyokan terhadap pemilik ruko di kawasan Krukah, Kelurahan Ngagel, Surabaya. Saat tim Satgas turun ke lokasi, korban diketahui telah lebih dulu membuat laporan ke Polrestabes Surabaya.
"Ketika tim kami datang, pelaporan sudah dilakukan. Kehadiran Satgas lebih kepada mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan sekaligus memberikan pendampingan kepada korban," jelasnya.
Baca Juga: Presiden Prabowo Targetkan Timnas Indonesia Lolos ke Piala Dunia 2030
Di sisi lain, Bagus Indra, korban dalam insiden pengeroyokan tersebut mengapresiasi respons cepat yang diberikan Pemkot Surabaya bersama Satgas dan Polrestabes Surabaya. Menurutnya, hanya beberapa jam setelah persoalan disampaikan, tim Satgas langsung mendatangi lokasi.
"Saya langsung dihubungi Pak Eri Cahyadi, lalu selang beberapa jam tim Satgas Anti Premanisme datang ke lokasi," ujarnya.
Bahkan, keesokan harinya Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi juga meninjau langsung lokasi kejadian untuk memastikan kondisi di lapangan.
Bagus mengaku pendampingan tersebut membuat dirinya merasa terlindungi selama menjalani proses hukum.
"Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada Pak Eri karena telah membantu saya. Sebagai warga Surabaya dan sebagai korban, saya merasa telah mendapatkan keadilan," katanya.
Ia menjelaskan, laporan polisi dibuat pada 23 Juli 2026 dan proses penanganan terus berjalan. Hingga kini, tiga orang telah diamankan oleh pihak kepolisian untuk menjalani proses hukum lebih lanjut.
Bagus juga mengapresiasi kecepatan respons layanan darurat Command Center 112 dan Call Center 110 yang menurutnya sigap menerima laporan masyarakat. (dim)
Editor : Lambertus Hurek